METRO-Pengkajian Ramadhan yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung menghadirkan Dr. Ma’ruf Abidin sebagai pemateri yang menegaskan bahwa tauhid dan keyakinan kepada pertolongan Allah menjadi fondasi utama dalam setiap perjuangan dakwah dan pembangunan amal usaha Muhammadiyah. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan (SMPMuAD) Metro, Sabtu,7/3/2026.
Rangkaian Pengkajian Ramadhan 1447 H yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung ini diikuti oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) serta pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Lampung, sebagai bagian dari konsolidasi gerakan dakwah dan penguatan nilai-nilai keislaman di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah Lampung.
Hal itu disampaikan oleh Ma’ruf Abidin, menekankan pentingnya keikhlasan, kerja nyata, dan tawakal dalam membangun peradaban melalui Muhammadiyah.
Dalam penyampaiannya, Ma’ruf mengisahkan pengalaman membangun sebuah pondasi amal usaha yang pada awalnya dilakukan dengan penuh keterbatasan. Namun dengan keyakinan kepada Allah, usaha tersebut akhirnya berkembang hingga melahirkan generasi yang bermanfaat bagi umat.
Ia menuturkan bahwa awalnya pembangunan dilakukan secara sederhana dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan membuka hati banyak orang untuk membantu.
“Allah akan menolong dan nanti akan membukakan pintu hati mereka. Saya dan beliau dulu bahkan ikut mencampur pondasi, tetapi akhirnya kita bertatapan dan melanjutkan perjuangan itu hingga berdirilah pondok yang sekarang sudah melahirkan minimal dua orang dokter,” ujar Ma’ruf.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari keyakinan bahwa setiap perjuangan yang disandarkan kepada Allah pasti akan mendapatkan pertolongan-Nya.
“Ini sebuah keyakinan bahwa ketika sesuatu disandarkan kepada Allah, maka Allah akan menolong. Tidak akan ada yang bisa menghalangi jika Allah sudah berkehendak,” katanya.
Ma’ruf juga menegaskan bahwa dalam perjuangan dakwah, kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Yang terpenting adalah terus berusaha dan menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh.
“Gagal itu biasa, yang penting kita kerjakan. Dalam Al-Qur’an juga banyak kisah para nabi yang memberi pelajaran bahwa hasil bukan selalu di tangan manusia,” jelasnya.
Ia mencontohkan perjuangan para nabi seperti Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim yang menghadapi tantangan bahkan dari keluarga sendiri. Namun mereka tetap menjalankan dakwah dengan penuh kesabaran.
Lebih lanjut Ma’ruf mengingatkan keteladanan Nabi Muhammad SAW ketika Perang Uhud. Saat itu Rasulullah tidak memilih membalas musuh dengan kebinasaan meskipun memiliki kesempatan.
“Ketika Perang Uhud, Nabi Muhammad ditawari malaikat untuk menghancurkan mereka dengan gunung, tetapi beliau menolak. Beliau berkata bahwa mereka bukan musuh kita, mereka hanya belum memahami apa yang kita sampaikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa semangat inilah yang seharusnya dimiliki oleh warga Muhammadiyah dalam berdakwah, yakni mengedepankan kesabaran, kebijaksanaan, dan keyakinan kepada Allah.
Ma’ruf pun mengajak seluruh pimpinan dan warga Muhammadiyah untuk terus bergerak bersama dalam membangun amal usaha dan memperkuat dakwah persyarikatan.
“Kita sebagai warga Muhammadiyah harus yakin bahwa di belakang perjuangan ini ada Allah. Ketika pimpinan pusat, wilayah, daerah hingga cabang bergerak bersama, maka apa yang kita cita-citakan akan mampu terwujud,” pungkasnya.
Menutup materi, ia terus mengajak untuk semangat kolektif dan keyakinan kepada pertolongan Allah, menurutnya, akan menjadi kekuatan besar bagi Muhammadiyah untuk terus menghadirkan manfaat bagi umat dan bangsa. (Guswir)

