Senin, April 27, 2026
BerandaAUMJalan Menuju Pertanian Berkelanjutan dan Bermakna

Jalan Menuju Pertanian Berkelanjutan dan Bermakna

Oleh: Prof. Dr. Ir. Etik Handayani, M.Si.
Notulis: Guswir (Jurnalis)

Hal tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah pada prosesi pengukuhan Guru Besar dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Muhammadiyah Metro yang berlangsung di Wisma Al Khairiyah Metro, pada 25/4/2026.

Dalam orasinya, Prof. Etik Handayani mengawali dengan menegaskan bahwa sektor pertanian saat ini tengah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ia menyebut pertumbuhan populasi, perubahan iklim, degradasi lahan, serta tuntutan terhadap produksi pangan berkelanjutan sebagai persoalan yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan konvensional.

“Dalam konteks ini, integrasi antara ilmu tanah dan teknologi pertanian presisi menjadi sebuah keniscayaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa selama ini tanah kerap dipahami secara sederhana hanya sebagai media tumbuh tanaman. Padahal, menurutnya, tanah adalah sistem hidup yang kompleks, dinamis, dan memiliki fungsi ekologis, ekonomi, serta sosial yang sangat strategis.

“Ia terdiri atas komponen padat, cair, dan gas yang saling berinteraksi, serta dihuni oleh berbagai organisme. Dari situlah kehidupan bermula,” jelasnya.

Ia kemudian menyoroti kondisi Indonesia sebagai negara agraris dengan potensi lahan yang luas, namun sebagian besar tergolong lahan marginal atau suboptimal. Tanah dengan tingkat keasaman tinggi, kandungan hara rendah, serta rentan terhadap degradasi menjadi tantangan serius yang harus dihadapi.

Di titik inilah, ia menegaskan pentingnya pendekatan baru melalui pertanian presisi.

“Pertanian presisi bukan sekadar teknologi, tetapi sebuah paradigma. Setiap lahan memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama, yakni one size does not fit all,” tegasnya.

Ia menambahkan, melalui pemanfaatan teknologi seperti sensor tanah, pemetaan digital, dan analisis data berbasis sistem informasi, kondisi tanah kini dapat dipantau secara real time. Data tersebut, menurutnya, menjadi dasar penting dalam menentukan keputusan yang lebih akurat dalam pengelolaan pertanian.

“Dengan pendekatan ini, penggunaan pupuk, air, dan pestisida dapat dilakukan secara tepat guna, lebih efisien, dan ramah lingkungan,” lanjutnya.

Namun demikian, dalam orasinya ia juga mengingatkan bahwa penerapan pertanian presisi tidak bisa disamaratakan pada semua jenis tanah. Ia menekankan adanya perbedaan mendasar antara tanah mineral dan tanah gambut yang membutuhkan pendekatan berbeda.

Pada tanah mineral, ia menjelaskan bahwa fokus utama adalah optimalisasi input dan efisiensi produksi. Teknologi digunakan untuk memetakan kesuburan tanah, mengatur dosis pupuk, serta mengelola irigasi secara presisi.
Sementara itu, pada tanah gambut, ia menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan harus jauh lebih hati-hati.

“Tanah gambut sangat sensitif. Ia tidak hanya soal produksi, tetapi soal menjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pada lahan gambut, teknologi presisi diarahkan untuk memantau tinggi muka air tanah, kelembaban, serta potensi kebakaran. Pengelolaan air menjadi kunci utama agar gambut tidak mengalami kekeringan yang dapat menyebabkan kerusakan permanen.

“Di sini, presisi berarti menjaga, bukan sekadar memanfaatkan,” tambahnya.

Ia pun menekankan bahwa perbedaan ini menunjukkan bahwa pertanian presisi bukan hanya tentang kecanggihan teknologi, tetapi tentang ketepatan dalam memahami karakter tanah.

“Pada tanah mineral, presisi berarti efisiensi. Pada tanah gambut, presisi berarti kehati-hatian dan konservasi,” ungkapnya.

Dalam bagian reflektif orasinya, Prof. Etik juga mengangkat dimensi filosofis dan spiritual dari ilmu tanah. Ia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, tanah merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang mencerminkan kebesaran Allah.

“Pengelolaan tanah bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan ini juga penting dalam dunia pendidikan. Mahasiswa, menurutnya, tidak cukup hanya memahami teori, tetapi harus terlibat langsung dalam praktik berbasis data dan teknologi yang terintegrasi dengan nilai dan etika.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa transformasi pertanian melalui pendekatan presisi dapat mengubah wajah sektor pertanian menjadi lebih modern, cerdas, dan berbasis teknologi, sehingga mampu menarik minat generasi muda.

Namun ia mengingatkan, teknologi bukanlah segalanya.

“Tanpa dasar ilmu tanah yang kuat, teknologi hanya akan menjadi alat tanpa arah,” tegasnya.

Di akhir orasinya, ia menegaskan bahwa integrasi ilmu tanah dan pertanian presisi bukan hanya tentang peningkatan produktivitas, tetapi tentang keberlanjutan, keseimbangan, dan kebermaknaan.

“Pertanian adalah upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” pungkasnya.

Ia pun berharap, ke depan akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dan spiritual.

“Karena masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh luasnya lahan, tetapi oleh kecerdasan kita dalam mengelolanya secara bijaksana,” tutupnya.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini