Senin, April 27, 2026
BerandaArtikelDari Pendidikan, Tanah, hingga Mikroba, Menjadi Satu Tarikan Nafas dalam Kemajuan UM...

Dari Pendidikan, Tanah, hingga Mikroba, Menjadi Satu Tarikan Nafas dalam Kemajuan UM Metro

Oleh: Guswir (Jurnalis)

METRO — Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Muhammadiyah Metro bukan sekadar seremoni pengukuhan guru besar. Di balik prosesi akademik tersebut, ada tersimpan satu narasi besar tentang dan pertanyaan kemana arah masa depan kampus, bagaimana pendidikan, ilmu pengetahuan, dan nilai saling terhubung dalam membangun peradaban, kegiatan yang berlangsung di Wisma Al Khairiyah Metro, pada hari Sabtu, 25/4/2026.

Dalam momentum tersebut, penulis mengajak pembaca bahwa hal ini mengerucut pada tiga gagasan besar, bahwa transformasi pendidikan, integrasi ilmu tanah dan pertanian presisi, serta pemanfaatan mikroba dari limbah.

Ketiganya tidak serta merta berdiri sendiri, melainkan membentuk satu kesatuan utuh, bahwa pendidikan sebagai fondasi, ilmu sebagai alat, dan keberlanjutan sebagai tujuan.

Dalam perspektif pendidikan nasional, ditegaskan bahwa, perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan cerdas secara akademik, namun, pendidikan harus melampaui ruang kelas, pendidikan harus menjadi kekuatan manusia dalam membentuk karakter, nilai, dan keberpihakan pada persoalan nyata masyarakat.

Di titik ini, gagasan Prof.Dr.Muhammad Ihsan Dacholfany, sangat menemukan relevansinya. Pendidikan, menurutnya, adalah jantung peradaban, tempat nilai, ilmu, dan arah masa depan manusia dibentuk.

Namun pendidikan tidak bisa berdiri di ruang hampa. Ia membutuhkan konteks nyata. Dan konteks itu hadir dalam bidang ilmu yang digeluti, salah satunya melalui pemikiran Prof.Dr.Ir.Etik Handayani, tentang integrasi ilmu tanah dan pertanian presisi.

Dalam orasinya yang disampaikan, ia menjelaskan bahwa tanah bukan sekadar media tumbuh, tetapi sistem hidup yang kompleks.

Pandangan ini sejalan dengan kajian klasik ilmu tanah dalam buku “Dasar-Dasar Ilmu Tanah” karya Kemas Ali Hanafiah (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005, xxvi + 360 hlm, lihat hlm. 1–10 tentang konsep tanah sebagai sistem dinamis), yang menegaskan bahwa tanah memiliki fungsi ekologis, biologis, dan ekonomi yang saling terintegrasi.

Lebih lanjut, dalam orasinya, ia menekankan bahwa pendekatan pertanian tidak lagi bisa seragam. Prinsip one size does not fit all menjadi dasar dalam pertanian presisi, di mana setiap lahan diperlakukan sesuai karakteristiknya.

Pandangan ini juga diperkuat oleh literatur mutakhir seperti “Pengantar Ilmu Tanah: Mengenali dan Memahami Sifat Dasar Tanah” (Rendy Anggriawan dkk., Deepublish, 2024, xiv + 114 hlm) yang menjelaskan bahwa tanah merupakan fondasi kehidupan dan harus dikelola berbasis data serta karakteristik spesifiknya.

Di sinilah pendidikan itu bertemu dengan realitas. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi memahami bagaimana ilmu tanah dan teknologi menjawab tantangan global, mulai dari krisis pangan hingga degradasi lingkungan.

Namun perjalanan gagasan itu, tidak berhenti pada tanah.

Ia bergerak lebih dalam, ke dunia yang tak kasat mata, melalui pemikiran Prof.Dr.Agus Sutanto, tentang mikroorganisme dan limbah. Jika tanah adalah ruang kehidupan, maka mikroba adalah penggeraknya.

Dalam orasinya, ia menunjukkan bahwa limbah bukan akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari kehidupan baru.

“Mikroorganisme yang hidup di dalamnya mampu mengurai, memperbaiki, dan menghidupkan kembali tanah” paparnya.

Pendekatan ini selaras dengan konsep biologi tanah yang juga dibahas dalam literatur ilmu tanah modern, bahwa organisme tanah memiliki peran penting dalam siklus hara dan kesuburan (Hanafiah, 2005, hlm. 250–300 tentang biota tanah dan kesuburan).

Dari sinilah lahir inovasi bioremediator dan pupuk hayati, yang bukan hanya solusi teknis, tetapi juga solusi ekologis.

Di titik ini, keterkaitan ketiganya menjadi semakin terang.

Bahwa pendidikan melahirkan kesadaran dan arah.

Ilmu tanah dan pertanian presisi memberi metode dan pendekatan.

Mikrobiologi menghadirkan solusi konkret yang menyentuh akar persoalan.

Ketiganya bertemu dalam satu tujuan besar yakni keberlanjutan.

Lebih dari sekadar inovasi, yang dibangun adalah cara pandang baru, bahwa ilmu tidak boleh terfragmentasi. Ia harus terintegrasi, saling menguatkan, dan berorientasi pada kebermanfaatan.

Yang menarik, ketiga gagasan ini juga berpijak pada nilai yang sama, bahwa keseimbangan antara ilmu, teknologi, dan spiritualitas.

Tanah dipandang bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi amanah.

Mikroba bukan sekadar objek penelitian, tetapi bagian dari tanda kebesaran Tuhan.

Pendidikan bukan hanya proses akademik, tetapi jalan membentuk manusia yang utuh.

Di sinilah Universitas Muhammadiyah Metro menunjukkan jati dirinya.

Sebagaimana visinya, “Pusat Keunggulan Profetik Profesional, Modern, dan Mencerahkan,” UM Metro tidak hanya membangun keunggulan akademik, tetapi juga menanamkan nilai profetik, mengintegrasikan ilmu, iman, dan amal dalam satu kesatuan.

Kita melihat arah ini sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) 2025–2029, yakni pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif, dan berdampak dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Nilai inklusif tercermin dalam akses pendidikan yang luas.

Nilai adaptif tampak pada integrasi teknologi dalam pertanian presisi.

Sementara dampak nyata hadir melalui riset mikrobiologi yang langsung menyentuh persoalan masyarakat.

Dengan demikian, apa yang berlangsung di Wisma Al Khairiyah hari itu, bukan sekadar pengukuhan akademik, tetapi perwujudan arah besar pendidikan tinggi Indonesia, yang tidak berhenti pada teori, tetapi bergerak menuju dampak nyata.

Momentum itu menjadi simbol bahwa Universitas Muhammadiyah Metro sedang bergerak menuju kematangan peran, yakni sebagai pusat ilmu, pusat nilai, sekaligus pusat solusi.

Karena, pada akhirnya kemajuan tidak diukur dari seberapa banyak ilmu yang dihasilkan, tetapi dari seberapa dalam ilmu itu memberi makna.

Dan dari Wisma Al Khairiyah hari itu, terlihat jelas, bahwa pendidikan, tanah, dan mikroba telah bertemu dalam satu tarikan nafas, ia membangun peradaban yang berkelanjutan, dalam satu wadah institusi, yakni Universitas Muhammadiyah Metro.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini