Senin, April 27, 2026
BerandaArtikelMemahami Makna Lailatul Qadar dan Cara Meraihnya

Memahami Makna Lailatul Qadar dan Cara Meraihnya

Oleh: Ust. AR Hamdi

Ditulis oleh: Guswir

Metro – Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling agung dalam Islam. Malam yang terjadi pada bulan Ramadan ini memiliki keutamaan yang luar biasa karena nilai ibadah di dalamnya lebih baik daripada seribu bulan.

Hal ini disampaikan Ust.AR.Hamdi, selaku Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro, dalam kajian Jum’at, yang berlangsung di Banking Hall Bank Syariah Metro Madani pada Jum’at,6/3/2026.

Dalam paparannya, ia menjelaskan menurut para ulama, bahwa makna Lailatul Qadar dapat dipahami dari beberapa sisi, baik dari sisi penetapan takdir, kemuliaannya, maupun peristiwa turunnya para malaikat ke bumi.

Pertama adalah Malam Penetapan Takdir Tahunan

Lailatul Qadar juga dikenal sebagai malam penetapan takdir tahunan. Pada malam tersebut berbagai ketentuan yang akan terjadi selama satu tahun ke depan ditetapkan, seperti rezeki, ajal, kehidupan, kematian, dan berbagai peristiwa lainnya.

Allah SWT berfirman:

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS.Ad-Dukhan:4)

Sebagian orang beranggapan bahwa Lailatul Qadar sudah tidak terjadi lagi. Namun para ulama menegaskan bahwa malam tersebut tetap terjadi setiap tahun hingga hari kiamat.

Penetapan takdir pada malam Lailatul Qadar bukan berarti Allah baru mengetahui takdir manusia. Sesungguhnya Allah telah menetapkan seluruh takdir makhluk jauh sebelum penciptaan langit dan bumi.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR.Muslim)

Dengan demikian, penetapan takdir pada malam Lailatul Qadar merupakan bagian dari pelaksanaan ketetapan Allah yang kemudian disampaikan kepada para malaikat untuk dilaksanakan sepanjang tahun.

Kedua adalah Malam Kemuliaan

Makna lain dari Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan. Keutamaan malam ini bahkan melebihi ibadah selama puluhan tahun.

Allah SWT berfirman:

“Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS.Al-Qadr:3)

Seribu bulan setara dengan sekitar 83 tahun. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang jauh lebih besar daripada ibadah selama puluhan tahun.

Karena itu siapa saja yang mendapatkan malam Lailatul Qadar dan mengisinya dengan ibadah akan memperoleh pahala yang sangat besar.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Ketiga Malam Sempit

Mengapa disebut malam sempit, karena dalam riwayat Lailatul Qadar adalah malam turunnya para malaikat, maka makna lainnya dari Lailatul Qadar adalah malam ketika para malaikat turun ke bumi dalam jumlah yang sangat banyak.

Allah SWT berfirman:

“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS.Al-Qadr:4)

Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa kata qadar dapat dimaknai sebagai sesuatu yang menjadi sempit. Maksudnya, bumi seakan menjadi sempit karena begitu banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di Baitul Ma’mur terdapat malaikat yang setiap hari datang untuk beribadah dan mereka tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat karena jumlah malaikat yang sangat banyak.

Karena itu, ketika para malaikat turun pada malam Lailatul Qadar, bumi seakan dipenuhi oleh para malaikat.

Cara Meraih Lailatul Qadar

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR.Bukhari)

Cara yang paling utama untuk meraih Lailatul Qadar adalah dengan beri’tikaf di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Namun tidak semua orang mampu melakukan i’tikaf selama sepuluh hari penuh karena kesibukan pekerjaan maupun tanggung jawab keluarga.

Karena itu para ulama memberikan beberapa tingkatan usaha dalam mencari Lailatul Qadar, di antaranya:

– Beri’tikaf selama sepuluh malam terakhir Ramadan

– Menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir

– Memperbanyak ibadah malam seperti qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, dan berdoa

Amalan Paling Mudah Mendapatkan Bagian dari Lailatul Qadar

Tidak semua orang mampu menghidupkan malam dengan ibadah sepanjang waktu. Namun Islam memberikan kemudahan agar setiap Muslim tetap dapat memperoleh bagian dari keberkahan malam Lailatul Qadar.

Salah satu amalan yang paling mudah adalah menjaga shalat Isya, shalat Tarawih, dan shalat Subuh secara berjamaah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dituliskan baginya pahala seperti shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Selain itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seakan-akan ia telah melaksanakan shalat setengah malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan ia telah melaksanakan shalat semalam suntuk.” (HR. Muslim)

Karena itu para ulama menjelaskan bahwa menjaga shalat Isya berjamaah, mengikuti shalat Tarawih hingga selesai, dan menutup malam dengan shalat Subuh berjamaah merupakan amalan yang sangat besar nilainya.

Dengan amalan tersebut, seorang Muslim telah mengambil bagian dari keberkahan malam Lailatul Qadar.

Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

Melanjutkan tausyiahnya, Ust.AR Hamdi juga menekankan untuk meningkatkan lagi ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan, merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ibadah.

Ia juga menekankan untuk rutin tilawah Al-Quran, lebih giat lagi dari bulan diluar Ramadan,

“Jika tilawah Al-Qur’an belum selesai, maka hari-hari terakhir Ramadhan menjadi momentum untuk mengejar target tersebut, Sebab biasanya jika seseorang tidak mampu mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka akan lebih sulit melakukannya di luar Ramadhan,” pesannya.

Terakhir ia menyampaikan bahwa, umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah, memperbanyak doa, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini