Minggu, Juli 5, 2026
BerandaArtikelPresisi ala F1: Cara PDM Metro Lahirkan Kader Literasi

Presisi ala F1: Cara PDM Metro Lahirkan Kader Literasi

Oleh: Dr. Eko Prasetyo, S.S., M.I.Kom.
Pemred MediaGuru
Ketua Umum Ikatan Pendidik Penulis (IPP) Indonesia

Pada 27-28 Juni 2026, saya diundang oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro, Lampung. Kegiatannya dalam rangka pelatihan jurnalistik. Tak bergerak sendiri, MPI menggandeng Pusat Kerja Sama-Kantor Urusan Internasional (PKS-KUI) Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro). Di sini saya baru sadar bahwa kecepatan dan ketepatan tidak hanya ada di MotoGP dan arena sirkuit F1. PDM Metro membuktikannya secara sahih.

Maksud saya, kader-kader Muhammadiyah di Kota Metro ini mampu berlari kencang dengan target yang tepat dan hasil yang presisi. Bayangkan, tatkala kita membincang gerakan literasi di tanah air, banyak orang membayangkannya sebagai fenomena baru yang lahir dari program pemerintah atau kampanye digital masa kini. Padahal, jauh sebelum istilah ”literasi” populer, Muhammadiyah telah menjadikan tradisi baca-tulis sebagai fondasi gerakannya.

Sejak berdiri pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta, oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah lahir dari sebuah madrasah kecil dan kegelisahan seorang kiai terhadap keterbelakangan pendidikan umat Islam. Lebih dari satu abad kemudian, jejak itu berkembang menjadi salah satu jaringan pendidikan dan literasi keagamaan terbesar di dunia.

Nah, saya melihat PDM Metro terlalu banter untuk bisa dikejar di setiap tikungan. Pelatihan jurnalistik ini tidak hanya merepresentasikan semangat literasi di tubuh PDM Kota Metro. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat untuk membekali para kader Muhammadiyah di seluruh Provinsi Lampung.

Kalau ada idiom ”yang muda yang memimpin”, tak heran jika Muhammadiyah di Provinsi Lampung, khususnya di Kota Metro, bisa lari kencang. Lha wong ada banyak kader muda potensial yang mampu bekerja secara profesional. Mereka, antara lain, Imam Sapi’i (ketua MPI), Muhammad Nur (dekan FAI UM Metro), Yasmika Baihaqi (kepala PKS-KUI UM Metro), Siti Fathonah (guru SD Muhammadiyah Metro Pusat), dan banyak lainnya yang tidak mungkin saya sebut satu per satu di sini.

Mereka mampu bekerja secara tim dengan mengorganisasi anggota-anggotanya untuk menyusun strategi agar acara dapat berlangsung sukses. Faktanya, kematangan dan pengalaman sangat menunjang keberhasilan acara tersebut yang memang begitu gemilang. Para peserta serius belajar, bahkan meski kegiatan dilangsungkan selama dua hari penuh mulai pagi hingga sore.

Tekadnya satu: menjawab tantangan era digital dengan membanjiri lini-lini pustaka dan media di bawah PDM secara komprehensif. Inilah, menurut saya, wajah evolusi kelembanggaan yang sebenarnya. MPI PDM Kota Metro dan PKS-KUI UM Metro menunjukkan komitmen literasi Muhammadiyah yang tidak berhenti sebagai semangat zaman, tetapi dilembagakan secara serius melalui kegiatan yang mendorong peningkatan kompetensi, khususnya di bidang jurnalistik.

MPI sendiri punya sejarah amat panjang. Pada 1920, ia merupakan Bagian Pustaka yang berkembang menjadi Majelis Pustaka, lalu bertransformasi menjadi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah yang kini menangani tiga ranah sekaligus: pengelolaan perpustakaan di seluruh amal usaha, dokumentasi sejarah organisasi, dan literasi digital untuk melawan hoaks serta disinformasi.

Karena itu, pelatihan jurnalistik ini tak hanya membawa kontribusi luas, tapi juga memperlihatkan nilai historis yang menjaga marwah Muhammadiyah di bidang literasi. Hebatnya, hal ini langsung ditunjukkan oleh para peserta pelatihan jurnalistik yang digelar di UM Metro tersebut. Tulisan-tulisan peserta dikurasi dan kemudian dipublikasikan di lini media yang dikelola PDM Metro.

Kesimpulannya, saya melihat kesuksesan ini sebagai salah satu bukti paling konkret dari komitmen literasi PDM Kota Metro. Roda kaderisasi literasi memang harus terus berjalan. Ini justru makin menahbiskan Muhammadiyah sebagai organisasi yang punya pengalaman panjang dan peran sentral dalam mewujudkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Saya justru belajar banyak dalam lawatan ke UM Metro tersebut. Jelas bisa saya sampaikan di sini bahwa kunci sukses itu bukan panggung perseorangan, melainkan ketulusan bekerja untuk umat demi mutu pendidikan yang dibangun melalui fondasi literasi.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini