Sabtu, Juli 4, 2026
BerandaArtikelPHIWM butuh ditengok?

PHIWM butuh ditengok?

Di salah satu amal usaha Muhammadiyah saya menyampaikan tentang PHIWM. Ternyata banyak sekali pengelola amal usaha yang masih sangat mudah baik usia maupun muda di Muhammadiyah. Yang mana mereka belum banyak memahami nilai-nilai ideologis Muhammadiyah, maksud dan tujuan mereka di amal usaha Muhammadiyah.

Kondisi ini sangat banyak terjadi, hampir semua amal usaha mengalami. Karena tidak semua yang mendaftar di amal usaha muhammadiyah adalah kader Muhammadiyah, baik melalu pengkaderan organisasi maupun pendidikan.

Hal ini melahirkan banyak problem, karena tidak pahamnya dengan ideologis Muhammadiyah menyebabkan perbedaan orientasi, jika amal usaha Muhammadiyah didirikan sebagai wasilah dakwah amar makruf nahi mungkar, sedangkan pengelola berfikir bekerja saja secara profesional.

Disinilah butuh proses equilibrium. Dalam psikologi Tokohnya Jean Piaget. Equilibrium adalah keadaan seimbang antara pengetahuan yang dimiliki seseorang dengan pengalaman baru. Ketika muncul informasi baru yang tidak sesuai, terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), lalu individu melakukan asimilasi dan akomodasi hingga tercapai keseimbangan baru.

Proses equilibrium ini dibutuhkan, agar semua pengelola amal usaha mampu beradaptasi dan berasimilasi menyesuaikan dengan pedoman ideologis muhammadiyah, terutama PHIWM (Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah), yang mana sudah jelas bahwa tujuan amal usaha, tujuan bekerja, dan bagaimana mengelola amal usaha, telah dijelaskan.

Dengan memahami ini, akan lahir satu fikir, satu tujuan dan satu gerak, sehingga keharmonisan akan terwujud. Jika pengelola amal usaha tidak dilakukan proses equilibrium melalui adaptasi dan asimilasi dengan mendalami PHIWM, maka konflik akan terus menerus hadir, bahkan setiap suksesi kepemimpinan akan terus muncul kondisi kondisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan Ke Muhammadiyah.

Hal inilah perlu kita menengok kembali, membaca dan mengamalkan nilai-nilai PHIWM dengan penuh meaning full, bahkan mind full sehingga nilai itu mewujud dalam amal usaha.

Tidak terjadi tabrakan antara profesionalitas dengan spiritualitas gerakan Muhammadiyah, bahkan akan lebih memberikan makna bagi profesionalitas itu sendiri. Karena profesionalitas tanpa spiritualitas seperti raga tak ada nyawa.

Renungan…

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini