METRO, Layar laptopnya masih menyala. Di atasnya terpampang kode-kode aplikasi ‘Cangkir Hijau’, sebuah sistem digital yang mengubah sampah menjadi rupiah. Aplikasi itu idenya, sebuah ATM sampah digital karya mahasiswa D3 Sistem Informasi Universitas Muhammadiyah (UM) Metro.
Rahma Monika, perempuan yang menginjak usia 24 tahun menatap kampus UM Metro dari jendela kosnya. Siapa sangka, perempuan muda yang dulunya betah tinggal di Pangkal Pinang, dengan restu kedua orang tuanya ia justru merantau sejauh 609 kilometer ke kota pendidikan di Lampung, Kota Metro. Alasannya senderhana, tetapi menohok. Tidak pernah ada dalam bayangan benaknya berjauhan dengan kedua orangtuanya demi cita-cita dan harapan yang kuat.
“Karena saya mau menempuh pendidikan perguruan tinggi di universitas swasta terbaik se-Sumbagsel.” Ujar perempuan kelahiran Pangkal Pinang tersebut.
Universitas Muhammadiyah Metro, tiga kata itu yang membawanya dari tanah timah ke tanah Lampung. Bukan tanpa alasan, reputasi kampus, atmosfer literasi, dan ruang untuk berkarya tanpa batas adalah magnet yang menarik Rahma.
Magnet itu terbukti, di sinilah dia tidak hanya berkuliah dan menimba ilmu, namun menciptakan aplikasi perbankan yang nantinya bisa digunakan oleh orang lain. Dengan harapan yang lebih besar.
Namun, di balik layar yang gemerlap, ada satu dinding yang belum bisa dia taklukan. “Cangkir Hijau” belum maksimal, bukan karena kodenya error tetapi tantangan teknologi itu sendiri yang belum bisa dijamah maksimal oleh kalangan orang lanjut usia. Ketidaktahuan ini yang akhirnya membuat “cangkir hijau’’ belum merangkul semua lapisan masyarakat.
Lahir dari orang tua yang memiliki latar belakang hanya menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar, yang saat ini bekerja menjadi penjual ayam. Hal itu tidak mematahkan semangat anak kedua dari dua bersaudara tersebut.
Perjalanan Rahma untuk sampai di titik ini tidaklah mudah, ada cerita yang paling membekas di benak alumni UM Metro. Dengan pendidikan sebelumnya yang tidak sesuai dengan jurusan SMK yang dia pilih, lalu bertekad untuk mewujudkan impiannya yang saat di sekolah belum tercapai, akhirnya perempuan berkacamata itu, memilih jurusan Sistem Informasi.
Kejadian yang hampir membuat Rahma tidak bisa berkuliah, adalah saat pendaftaran yang mulai ditutup dan dia dalam perjalanan menuju ke Kota Metro. Tetapi takdir Allah berkata lain, takdir akan memilih tuannya. Mulai dari perjalanan tersebut, berkat motivasi ayahnya yang membuat Rahma mampu menyelesaikan pendidikannya dengan baik di tahun 2023.
Prestasi awalnya hanya menghasilkan cangkir hijau kini membuatnya mengabdi dan kembali pada Universitas Muhammadiyah Metro. Rahma bertekad bagaimana dia bisa bermanfaat bagi khalayak ramai, bukan hanya ilmu yang nantinya ia dapatkan tetapi juga amal jariyah yang akan selalu abadi dan akan selalu melekat pada dirinya.
“Bagaimana kita bisa memberikan dampak untuk warga sekitar, kalau kita bisa menerapkan ilmu itu dengan baik maka bisa menjadi amal jariyah. Apalagi untuk sekarang banyak hacker-hacker. Apalagi di muhammadiyah, kita bisa bermanfaat untuk umat.” tutur perempuan kelahiran 16 Juni 2002 itu.
(Pelatihan Jurnalistik, Kelompok 6: Rahma Monika, Putri Amara, Inti Fada Permata Palestina, Aisyah Nur Sabana, Anisa Dian Pratiwi, Nurul Aullya)

