Rabu, Mei 27, 2026
BerandaArtikelMemupuk Semangat Kurban: Menepis Alasan, Menjemput Ketaatan Hakiki

Memupuk Semangat Kurban: Menepis Alasan, Menjemput Ketaatan Hakiki

Oleh: Nur Hanifurrohman, S.Sos.I

Setiap kali gema takbir Idul Adha berkumandang, ada rasa syukur dan kegembiraan yang buncah di hati umat Islam. Namun, kegembiraan sejati hari raya ini sebenarnya bukan terletak pada baju baru atau hidangan yang melimpah, melainkan pada kemampuan kita untuk membahagiakan orang lain melalui ibadah kurban. Mengapa? Karena salah satu resep hidup bahagia di dunia adalah saat kita mampu menjadi jembatan kebahagiaan bagi sesama.

Secara harfiah, kata “kurban” berasal dari bahasa Arab, qurbanan, yang berakar dari kata qaruba – yaqrubu, artinya dekat. Secara filosofis, kurban adalah media persembahan seorang hamba untuk meruntuhkan jarak dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, apakah esensi “mendekatkan diri” ini sudah sepenuhnya kita pahami?

Jika kita merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 37, Allah SWT secara tegas menyatakan bahwa daging dan darah hewan kurban sama sekali tidak akan sampai kepada-Nya, melainkan ketakwaan kitalah yang mendaki menuju rida-Nya.

Pergeseran Tradisi: Dari Fisik Menuju Jiwa

Dalam catatan sejarah yang ditulis oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghaib, masyarakat jahiliyah memiliki kebiasaan melumuri berhala dan dinding Ka’bah dengan daging dan darah hewan kurban mereka. Islam datang untuk mendobrak tradisi primitif tersebut. Islam mengubah arah ibadah kurban dari sekadar ritual fisik menjadi sebuah perjalanan spiritual yang sangat dalam.

Hakikat kurban bukanlah tentang seberapa besar ukuran hewan sembelihan kita, melainkan tentang seberapa besar ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan yang ada di dalam dada. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam An-Nawawi dalam tafsir Marah Labid, nilai utama dari ibadah ini adalah penanaman ketakwaan.

Oleh karena itu, sangat keliru jika mereka yang mampu berkurban kemudian dihinggapi penyakit hati berupa kesombongan, apalagi sampai merendahkan mereka yang belum mampu. Sebaliknya, bagi para Panitia Kurban yang dipercaya mengelola ibadah ini, amanah tersebut adalah sebuah kemuliaan yang rapuh jika dinodai oleh ketamakan. Mengambil daging kurban melampaui batas kewajaran tanpa izin adalah bentuk pengkhianatan terhadap shohibul qurban dan hak fakir miskin. Daging yang dimakan akan habis menjadi kotoran, tetapi cara mendapatkannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Menghakimi Mentalitas “Belum Mampu”

Refleksi paling tajam dari momen Idul Adha sebenarnya ditujukan kepada kita yang kerap berlindung di balik kalimat “belum mampu”. Mari kita jujur pada diri sendiri dengan melakukan komparasi historis.

Saat Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah untuk menyembelih putra tunggalnya, Ismail—anak yang telah dinantikannya dengan penuh air mata selama 83 tahun—beliau tidak ragu demi sebuah ketaatan. Sementara kita? Kita hanya diminta menyisihkan sebagian kecil harta yang notabene adalah titipan dari Allah juga. Mengapa kita masih merasa berat? Mengapa kita masih lihai mencari seribu alasan dan berbisik “nanti saja tahun depan”?

Ironi ini semakin nyata ketika kita melihat realitas sosial hari ini. Banyak di antara kita yang begitu mudah merogoh kocek jutaan rupiah untuk membeli smartphone seri terbaru, begitu lancar membayar cicilan kendaraan roda dua maupun roda empat, atau tanpa berpikir panjang menghabiskan ratusan ribu untuk makan di restoran mewah setiap akhir pekan. Namun, begitu Idul Adha tiba, kita mendadak merasa miskin. Kita mendadak lihai menyusun alasan bahwa “belum ada anggaran untuk kurban”.

Mentalitas konsumtif yang mendahulukan ego duniawi inilah yang dikritik keras oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah:

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta), namun ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”

Pernyataan ini adalah sebuah tamparan keras. Rasulullah ﷺ seolah-olah enggan mengakui orang-orang kikir sebagai bagian dari jamaahnya jika mereka menutup mata dari perintah kurban saat mereka sebenarnya mampu.

Investasi dan Saksi Abadi

Kita perlu mengubah cara pandang terhadap ibadah kurban. Setiap rupiah yang kita keluarkan untuk membeli hewan kurban bukanlah pengeluaran yang hilang, melainkan investasi akhirat yang keuntungannya berlipat ganda. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan kepada para sahabat bahwa setiap helai bulu—bahkan bulu halus domba sekalipun—dari hewan yang kita kurbankan akan bernilai satu kebaikan di hadapan Allah. Jika satu ekor kambing memiliki jutaan bulu, ada jutaan saksi kebaikan yang siap memperberat timbangan amal kita di hari kiamat.

Harta yang kita makan akan sirna, harta yang kita tumpuk di rekening akan menjadi warisan yang diperebutkan ahli waris. Namun, hewan yang kita kurbankan secara ikhlas akan datang membela kita pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kukunya. Bahkan sebelum darahnya menyentuh bumi, pahala kurban itu telah sampai dan diterima di sisi Allah SWT.

Selama hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik masih bergulir, pintu ketaatan sosial-spiritual ini masih terbuka lebar. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya jatuh miskin karena beribadah. Jangan sampai kita menjadi manusia yang “tampak kaya dan mampu” di mata tetangga karena rumah dan mobil kita, tetapi dinilai “miskin lagi kikir” di mata Allah karena enggan berbagi.

Mari kita merenungkan kembali firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 92:

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Idul Adha adalah momentum emas untuk membedah hati kita masing-masing. Sudah saatnya kita memohon agar Allah SWT mencabut akar cinta dunia (wahn) yang berlebihan dari dalam dada, lalu menggantikannya dengan semangat pengorbanan yang tulus. Sebab pada akhirnya, esensi kurban adalah menyembelih sifat kebinatangan dan egoisme dalam diri kita, demi melahirkan manusia baru yang bertakwa dan peduli pada sesama.

Disarikan dari Khutbah Idul Adha 1447 H di Halaman Kampus II SD Muhammadiyah Metro Pusat (Rabu, 27 Mei 2026)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini