Jumat, Juli 17, 2026
BerandaBeritaGuru Meninggalkan Ilmu: Catatan Murid Mbah Santo

Guru Meninggalkan Ilmu: Catatan Murid Mbah Santo

SURABAYA – Pagi itu, 17 Juli 2026, perjalanan menuju Universitas Muhammadiyah Surabaya baru saja dimulai. Jalanan masih lengang ketika sebuah pesan WhatsApp masuk ke telepon genggam saya.

“Innalillahi wa innā ilaihi rāji’ūn. Telah berpulang ke rahmatullah beliau Bapak Drs. H. Susanto…”

Sesaat saya terdiam. Kabar itu seolah menghentikan hiruk-pikuk perjalanan. Ingatan saya melayang jauh ke masa ketika beliau menjadi sosok yang disegani di MAN 1 Metro, saat wilayah itu masih bagian dari Lampung Tengah.

Beliau dikenal cerdas dan tegas. Tidak ada siswa yang berani berlama-lama berada di luar kelas ketika jam pelajaran berlangsung. Langkah beliau menyusuri lorong-lorong sekolah sudah cukup membuat siapa pun segera kembali ke kelas. Namun, di balik ketegasan itu, tersimpan kepedulian seorang pendidik yang ingin murid-muridnya memanfaatkan waktu untuk belajar.

Saya masih mengingat satu kalimat beliau yang sederhana, tetapi membekas hingga kini. Ketika ada siswa yang dipuji paling pintar, beliau tersenyum lalu berkata, “Belum pintar kalau belum bisa menang main catur dengan saya.” Kalimat itu bukan tentang permainan catur. Itu adalah pelajaran tentang kerendahan hati, bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, selalu ada ruang untuk terus belajar.

Tahun-tahun berikutnya, Allah kembali mempertemukan saya dengan beliau di Ma’had Aly Tarbiyatul Muballighin Muhammadiyah Metro. Di sana saya melihat sosok yang sama, tetapi dengan sisi lain yang lebih dalam. Beliau bukan hanya seorang guru di ruang kelas, melainkan seorang pendakwah yang mengabdikan hidupnya untuk umat. Dengan segala keterbatasan transportasi pada masa itu, beliau tetap berangkat ke berbagai daerah untuk menyampaikan risalah Islam. Semangatnya tidak pernah surut oleh jauhnya perjalanan ataupun sulitnya medan.

Ada satu amanah yang hingga kini selalu saya ingat. Beliau menyerahkan kepada saya tumpukan tulisan yang diketik dengan mesin ketik tua di atas kertas folio. Beliau berharap tulisan-tulisan itu dapat disusun kembali dan diterbitkan agar terus menjadi ilmu yang bermanfaat. Saat itu saya menyadari bahwa beliau tidak sedang menitipkan lembaran-lembaran kertas. Beliau sedang menitipkan cita-cita agar ilmu tidak berhenti pada satu generasi.

Hari ini, guru itu telah berpulang. Suaranya mungkin tak lagi terdengar. Langkahnya tak lagi menyusuri lorong sekolah. Namun, seorang guru sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam ilmu yang diajarkan, dalam akhlak yang dicontohkan, dan dalam setiap murid yang meneruskan nilai-nilai yang telah ia tanamkan.

Kepergian mengajarkan bahwa usia manusia memiliki batas. Tetapi ilmu, keteladanan, dan amal yang ikhlas dapat melampaui batas usia itu. Barangkali itulah warisan terbaik seorang pendidik: bukan harta yang ditinggalkan, melainkan cahaya ilmu yang terus menerangi jalan orang lain.

Semoga Allah Swt. melapangkan kubur beliau, mengampuni segala khilafnya, menerima seluruh amal salehnya, dan menjadikan setiap ilmu yang beliau ajarkan sebagai amal jariyah yang tidak pernah terputus. Dan semoga kita, para muridnya, tidak hanya pandai mengenang, tetapi juga mampu melanjutkan perjuangan beliau. Sebab, guru boleh berpulang, tetapi ilmu yang diwariskannya adalah amanah yang harus terus dihidupkan.

Oleh: Muhammad Nur, M. Kom.I

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini