Sabtu, Agustus 8, 2026
BerandaArtikelMenyusuri Jejak Seratus Tahun Muhammadiyah di Lampung dari Arsip Kolonial

Menyusuri Jejak Seratus Tahun Muhammadiyah di Lampung dari Arsip Kolonial

Dr. Kian Amboro, M.Pd.

Dosen Prodi Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro

Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Metro

 Seratus tahun bukan sekadar penanda usia. Bagi Muhammadiyah di Lampung, tahun 2026 merupakan momentum untuk menengok kembali jejak awal gerakan pembaruan Islam ini yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Lampung selama satu abad. Menariknya, salah satu rekaman mengenai fase awal perjalanan itu justru tersimpan dalam arsip pemerintah kolonial. Tentu arsip tersebut tidak disusun untuk merayakan masuk dan berdirinya perkumpulan Muhammadiyah di Lampung, melainkan sebagai bagian dari mekanisme pengawasan kolonial terhadap berbagai organisasi yang berkembang di masyarakat. Namun, melalui pembacaan sejarah yang kritis, arsip itu justru menyimpan informasi berharga mengenai bagaimana Muhammadiyah mulai berakar di Lampung.

Pada masa Hindia Belanda, setiap residen diwajibkan menyusun laporan berkala kepada pemerintah pusat di Batavia. Laporan tersebut bukan sekadar administrasi pemerintahan, melainkan instrumen pengawasan politik untuk memantau keamanan, perkembangan organisasi masyarakat, stabilitas sosial, hingga potensi munculnya gerakan yang dianggap mengancam kekuasaan kolonial. Organisasi-organisasi pribumi yang berkembang sejak awal abad ke-20 mendapat perhatian khusus karena dipandang memiliki pengaruh terhadap dinamika masyarakat. Dalam konteks itulah Muhammadiyah muncul dalam laporan Residen F.J. Junius, salah seorang residen Lampung. Arsip tersebut mencatat bahwa Muhammadiyah telah hadir di Karesidenan Lampung sejak tahun 1926. Keterangan ini menjadi salah satu bukti historis yang sangat penting karena memberikan pijakan kronologis mengenai awal perkembangan Muhammadiyah di wilayah Lampung berdasarkan catatan dokumen resmi pemerintah kolonial.

Gambar: Kutipan arsip kolonial laporan Residen Lampung F. J. Junius yang mencatat masuknya Muhammadiyah di Karesidenan Lampung tahun 1926. Sumber: Nationaal Archief, nomor arsip NL-HaNA 2.10.39 234 0268

Lebih menarik lagi, arsip tersebut menyebutkan daerah-daerah yang menjadi pusat awal pertumbuhan Muhammadiyah, yakni Menggala, Bandardewa, Penumangan, Gunung Terang, Negara Ratu, Labuhan Ratu, dan Labuhan Maringgai. Di tempat-tempat tersebut tidak hanya berdiri perkumpulan Muhammadiyah, tetapi juga berkembang berbagai aktivitas pendukung dakwahnya, disebutkan seperti ‘Aisyiyah, Seksi Mubaligh (Majelis Tabligh), Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO),  Hizbul Wathan sebagai organisasi kepanduan, serta sejumlah sekolah hingga tahun 1930-an. Dengan kata lain, sejak awal Muhammadiyah di Lampung telah membangun ekosistem gerakan yang utuh: pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, pemberdayaan perempuan, dan pembinaan generasi muda.

Selain itu, yang tidak kalah menarik adalah cara pemerintah kolonial memandang Muhammadiyah. Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa Muhammadiyah menjadi kekuatan penyeimbang terhadap organisasi-organisasi yang dianggap memiliki aspirasi revolusioner (ultranasionalisme). Kolonial mencatat bahwa Muhammadiyah memusatkan perhatian pada pendidikan, pengkajian Islam, dan pelayanan sosial serta menjauhkan diri dari aktivitas politik praktis. Tentu penilaian ini lahir dari perspektif pemerintah kolonial yang berkepentingan menjaga stabilitas kekuasaan. Namun, bagi sejarawan, catatan tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah dikenal sebagai organisasi dengan orientasi pembaruan sosial melalui jalur pendidikan dan dakwah.

Gambar: Kutipan arsip kolonial yang mencatat daerah-daerah awal berkembangnya Muhammadiyah di Karesidenan Lampung tahun 1926 berikut aktivitas pendukung dakwahnya. Sumber: Nationaal Archief, nomor arsip NL-HaNA 2.10.39 234 0269.

Temuan arsip ini juga mengundang refleksi yang lebih luas. Daerah-daerah yang pertama kali menerima Muhammadiyah pada tahun 1926 bukanlah kawasan yang tertutup terhadap perubahan. Sebaliknya, kawasan-kawasan tersebut dapat dipahami sebagai ruang-ruang yang relatif kosmopolit pada masanya. Menggala, misalnya, merupakan pusat perniagaan penting di jalur Sungai Way Tulang Bawang yang mempertemukan berbagai kelompok etnis, pedagang, dan arus gagasan. Bandardewa, Penumangan, maupun Labuhan Maringgai juga berada pada lintasan mobilitas ekonomi dan sosial yang tinggi. Keterbukaan terhadap arus manusia dan informasi menciptakan kondisi yang memungkinkan gagasan Islam modern diterima oleh masyarakat.

Hal ini memperlihatkan bahwa perkembangan Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari karakter sosial wilayah Lampung pada awal abad ke-20. Fenomena ini menunjukkan bahwa penyebaran Muhammadiyah tidak berlangsung secara kebetulan. Ia berkembang pada ruang-ruang sosial yang terbuka terhadap pembaruan, memiliki tradisi literasi, serta terbiasa berinteraksi dengan beragam komunitas. Dengan demikian, sejarah awal Muhammadiyah di Lampung juga merupakan sejarah tentang kemampuan masyarakat lokal dalam menyaring dan menerima gagasan-gagasan baru tanpa kehilangan identitas keislamannya. Di sisi lain, terdapat sejumlah poin yang patut direnungkan. Beberapa daerah yang dahulu menjadi pionir kehadiran Muhammadiyah di Lampung kini justru tidak lagi dikenal sebagai pusat dinamika persyarikatan. Geliat Muhammadiyah di sejumlah wilayah tersebut terasa tidak sekuat kawasan-kawasan lain yang berkembang pada periode berikutnya. Tentu, dinamika organisasi dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari perubahan demografi, perpindahan pusat-pusat ekonomi, urbanisasi, hingga transformasi sosial. Namun, kenyataan ini layak menjadi bahan evaluasi dalam momentum peringatan satu abad masuknya Muhammadiyah di Lampung.

Karena itu, peringatan seratus tahun semestinya tidak berhenti pada romantisme sejarah. Catatan arsip tersebut mengingatkan bahwa Muhammadiyah pernah tumbuh kuat karena hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat melalui pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan perempuan, hingga pembinaan generasi muda. Selain itu, sejarah tidak cukup diperingati melalui seremoni, tetapi juga melalui upaya merawat ingatan kolektif. Penelusuran arsip, penghimpunan sejarah lisan, pendokumentasian sekolah-sekolah awal Muhammadiyah, hingga pelestarian jejak organisasi di daerah-daerah awal merupakan bagian dari ikhtiar membangun historiografi Muhammadiyah di Lampung yang lebih utuh.

Akhirnya, arsip kolonial tersebut bukan sekadar dokumen kolonial yang mencatat aktivitas sebuah organisasi Islam modern. Arsip itu telah berubah menjadi saksi sejarah yang menegaskan bahwa Muhammadiyah telah mengakar di Lampung sejak 1926. Seratus tahun kemudian (saat ini), pertanyaan yang lebih penting bukan lagi kapan Muhammadiyah datang ke Lampung, melainkan sejauh mana semangat pembaruan yang dahulu menghidupkan Menggala, Bandardewa, Penumangan, Gunung Terang, Negara Ratu, Labuhan Ratu, dan Labuhan Maringgai masih mampu menjadi inspirasi bagi Muhammadiyah di Lampung untuk memasuki abad keduanya.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini