Oleh: Imam Sapi’i
Usia 70-an sering kali diidentikkan dengan masa istirahat, di mana ritme hidup mulai melambat dan rasa bosan kerap mengetuk pintu. Namun, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Bapak Panggih Riyadi. Di usianya yang telah menginjak 71 tahun, pria asal Nganjuk, Jawa Timur ini justru terus memacu jemarinya di atas papan ketik, merangkai kata demi kata menjadi karya yang abadi.
Pilihan hidupnya untuk terus produktif berakar dari satu kalimat sederhana yang pernah diucapkan dosennya puluhan tahun silam: “Kalau kamu jadi guru, kamu harus menulis.” Pesan itu menancap kuat dalam ingatannya, menjelma menjadi prinsip hidup yang ia pegang teguh hingga hari ini.
Menulis sebagai Resep “Awet Muda”
Bagi Pak Panggih, menulis bukan sekadar hobi melainkan cara menjaga nyawa kehidupan agar tetap bergairah. Di saat banyak lansia bingung mengisi waktu luang, ia memilih membagikan pemikiran dan cerita.
“Banyak orang bilang menulis itu bikin awet muda, dan itu yang saya rasakan. Mengisi waktu secara positif membuat kita terhindar dari rasa bosan di usia senja,” ungkap ketua Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi (MPID) PDM Nganjuk, Jawa Timur.
Kerja keras dan konsistensinya telah membuahkan sejumlah karya monumental yang merekam jejak sejarah di tanah kelahirannya, Bumi Anjuk Ladang. Hingga saat ini, Pak Panggih telah merampungkan tiga buku penting: 80 Tahun Gerakan Muhammadiyah Nganjuk, 90 Tahun Muhammadiyah Nganjuk dan Biografi 5 Tokoh Muhammadiyah di Bumi Anjuk Ladang.
Tidak berhenti di penerbitan buku, ia juga aktif merangkum materi-materi pengajian yang ia ikuti lalu mengunggahnya ke portal website Siapa sangka, tulisan-tulisannya dari pelosok Jawa Timur itu mampu menjangkau pembaca hingga ke Kalimantan Barat, bahkan menginspirasi lahirnya gagasan-gagasan tulisan baru bagi orang lain.

Energi Pelatihan dan Pesan Amalan Jariyah
Semangat Pak Panggih terpancar jelas saat mengikuti Akademi Sejarah Muhammadiyah Batch 2″. Selama lima hari intensif, ia membaur bersama peserta lintas daerah yang didominasi anak-anak muda.
“Pelatihan ini luar biasa. Biasanya orang ingin cepat-cepat selesai kalau ikut acara begini, tapi kemarin teman-teman malah sedih waktu harus berpisah, terutama yang dari luar Jawa. Mudah-mudahan gemanya bisa terasa di daerah lain agar peninggalan Muhammadiyah tidak hilang begitu saja,” tuturnya penuh haru.
Di akhir perbincangan, Pak Panggih menyelipkan sebuah pesan mendalam, khusus untuk generasi muda dan para kader MPI Muhammadiyah.
“Teruslah menulis, karena dengan menulis kita sedang meninggalkan jejak. Ketika kelak kita sudah meninggal dunia, tulisan itu akan tetap dibaca orang lain. Jika tulisan itu membawa manfaat, insya Allah ia akan menjadi amalan jariyah yang tak terputus.”
Di usia 71 tahun, Pak Panggih telah membuktikan bahwa usia tidak menjadi penghalang. Lewat deretan kalimat yang ia susun, ia tidak hanya merawat sejarah, tetapi juga sedang menanam benih kebaikan yang akan terus berbuah hingga jauh ke masa depan.

