Sabtu, Juni 20, 2026
BerandaAUM42 Tahun Mengabdi, SD Muhammadiyah Metro Pusat Lepas Sang Guru Legendaris

42 Tahun Mengabdi, SD Muhammadiyah Metro Pusat Lepas Sang Guru Legendaris

METRO-Suasana haru menyelimuti Aula Kampus 2 SD Muhammadiyah Metro Pusat pada Sabtu (20/6/2026), saat pihak sekolah menggelar acara temu pamit purna tugas untuk salah satu guru paling senior dan legendaris, Busro, S.Ag.

Acara ini menandai berakhirnya masa bakti Busro yang telah mendedikasikan dirinya selama 42 tahun penuh untuk membesarkan sekolah dasar Muhammadiyah terbesar di Kota Metro tersebut.

Dalam sambutannya, Kepala SD Muhammadiyah Metro Pusat, Ihwan, S.Ag., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa hormat yang setinggi-tingginya atas loyalitas tanpa batas yang ditunjukkan oleh Busro. Menurutnya, rentang waktu 42 tahun adalah bukti nyata dari keikhlasan dan keteguhan iman dalam mendidik generasi bangsa.

“Ada jutaan jejak langkah kaki dan ribuan hari pengabdian yang telah Pak Busro berikan sejak tahun 1980-an. Beliau adalah saksi hidup sekaligus aktor utama dari sejarah perkembangan sekolah ini dari masa-masa sulit ketika sekolah sering kebanjiran, hingga kini menjadi sekolah yang megah dan diperhitungkan di tingkat nasional,” ujar Ihwan dengan nada bergetar.

Ihwan juga menceritakan salah satu keberanian monumental Busro saat menjabat sebagai Kepala Sekolah pada masanya. Saat itu, Busro mengambil langkah berani dengan menerima 144 siswa baru meski fasilitas gedung belum memadai. Keputusan nekat tersebut sempat memicu ketegangan dan teguran keras dari pimpinan persyarikatan.

“SD Muhammadiyah tidak bisa membalas keringat Bapak dengan kemewahan fisik. Namun, dedikasi Bapak telah tertulis dengan tinta emas di sejarah sekolah ini,” tambah Ihwan.

Sementara itu, Busro, dalam pesan dan kesannya, menceritakan sekilas perjalanan hidupnya yang penuh dengan liku-liku. Dibesarkan dari keluarga sederhana di kampung Raman Utara, Busro mengaku masa kecilnya cukup keras bahkan sempat tidak naik kelas saat SD. Namun, garis tangan membawanya menjadi seorang pendidik di SD Muhammadiyah sejak tahun 1984.

Ia berpesan kepada para guru muda agar selalu menjaga marwah sekolah, merawat hubungan baik dengan lingkungan sekitar, dan selalu mengutamakan keikhlasan dalam mengajar.

“Selama puluhan tahun di sini, saya jarang sekali melihat slip gaji atau potongan honor saya. Mengapa? Karena saya takut rasa ikhlas itu hilang dari hati saya jika terus melihat angka. Menjadi guru di Muhammadiyah adalah tentang keikhlasan, dan alhamdulillah, keikhlasan itu dibayar tunai oleh Allah dengan nikmat kesehatan hingga hari purna tugas saya ini,” ungkap Busro disambut tepuk tangan haru para hadirin.

Ia juga meminta maaf atas segala kekhilafan atau ketegasannya yang mungkin pernah menyinggung rekan sejawat maupun para murid selama masa mengajar.

Acara temu pamit ini diakhiri dengan pemberian cinderamata, pemberian buku antologi yang ditulis 19 guru, bersalaman, dan foto bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir dari seluruh jajaran pimpinan, majelis guru, serta karyawan kepada sang guru teladan. (ims)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini