Saya pernah ditanya, ustadz kok Muhammadiyah itu kayak kurang agresif, kurang nyunnah dan sebagainya? Pertanyaan ini sering dilontarkan mereka yang memiliki semangat dan ghirah ber-Islam sangat tinggi, biasanya anak-anak muda, dan mereka yang baru mengenal islam dalam kajian-kajian yang disebut kajian sunnah.
Saya menjawab sederhana saja, ya memang Muhammadiyah begini, tidak terlalu nampak agresifitasnya tapi fokus pada efektifitas kebaikannya. Tidak terlalu nampak simbol keberagamaanya tapi fokus pada esensi beragamanya.
Secara profile orang Muhammadiyah tidak nampak jenggotnya, celana cingkrangnya, jubahnya, mereka berpenampilan apa adanya, seperti layaknya bangsa Indonesia. Secara ubudiah jarang zikir lama, jarang sholawatan, bahkan kadang cenderung ringkas ibadahnya. Juga dari pemahaman, biasa dan sangat biasa saja, tidak terlalu kenceng juga tidak terlalu lembek, maka kadang sering di justifikasi sebagai kurang tegas.
Itulah Islam yang dipandang Muhammadiyah sebagai agama yang mudah dan memudahkan. Sehingga dengan kemudahannya ini Muhammadiyah dapat beradaptasi dan ber elaborasi dengan siapapun selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Moderasi Muhammadiyah dibangun dari rasionalisasi berfikir berkemajuan, menjadikan nalar sebagai jalan memahami Islam dengan baik, bukan doktrin yang didominasikan apalagi sekedar taqlid kepada personal yang dianggap memiliki kharisma.
Kita biasa melihat pimpinan Muhammadiyah sebagai manusia biasa tanpa keistimewaan berlebihan, seperti Yai Dahlan yang juga mandikan anak-anak yatim, Pak AR Fahrudin yang juga sangat bermasyarakat kepada siapapun walaupun berbeda dengannya, beliau sangat menghormati bahkan beradaptasi, bahkan sekarang kita ditampakkan dengan Pak Haidar yang naik kereta api membawa tas biasa, itu adalah jiwa Muhammadiyah. Mereka jauh dari elitisme apalagi feodalisme.
Dengan moderat ini sebagai warga Muhammadiyah akan lebih mudah istiqamah, karena jauh dari memberatkan diri dalam ibadah dan sebagainya. Semua dilakukan penuh pemahaman dan kesadaran akan kebutuhan dirinya bukan karena tekanan atau doktrin yang dirinya tidak secara penuh memahaminya.
Dalam pola sikap sosial Muhammadiyah lebih luwes dan bisa diterima dimana saja, sehingga ketika disuatu tempat ada Muhammadiyah yang sering berkonflik atau ditolak, pasti ada nilai moderasi yang ditinggalkan.
Jika ada yang menyebut kurang nyunnah? Muhammadiyah memandang bahwa sunnah bukan sekedar ibadah ritual, tapi banyak hal yang bernilai sosial yang juga bernilai sunnah yang besar. Walau memang tidak serta merta meremehkan ritualitas sunnah yang lainnya.
Inilah yang harus tetap dijaga oleh kita semua, terutama yang muda, kader muda yang masih sangat agresif, jangan sampai mereka lebih banyak paham agama dari media sosial, dari pada paham dari sumber para penjaga ideologi Muhammadiyah.
Karena hari ini pengalaman saya, pengajian di Muhammadiyah paling didominasi oleh kalangan sesepuh, bukan kalangan muda. Karena mungkin secara hipotetik mereka sudah belajar melalui media dan kaderisasi singkat baik baitul arqam atau darul arqam.
Akhirnya ketika mereka menjadi pengurus Muhammadiyah mereka membawa paham sendiri-sendiri yang tidak sesuai dengan cara pandang Muhammadiyah itu sendiri. Apalagi mereka menguasai panggung dan memberikan input ideologis kepada warga persyarikatan, ini akan menjadi masalah baru bagi Muhammadiyah.
Moderasi adalah jalan tengah yang penuh kebahagiaan, keceriaan, tidak memberatkan, dan mengedepankan nilai subtansi beragama bukan sekedar menampakkan simbol tanpa memahaminya.

