METRO-Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung, Prof. Dr. Sudarman, M.A., memberikan arahan ideologis sekaligus tantangan besar bagi jajaran Pengurus Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Wilayah Lampung Periode 2026–2030 yang baru saja dilantik di Aula SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Metro, Selasa (9/6/2026).
Dalam pidato pengarahannya, Prof. Sudarman menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan di tubuh FGM yang kini dinahkodai oleh Mukhtamar, S.Pd.I., harus menjadi momentum kebangkitan. FGM tidak boleh terjebak dalam rutinitas seremonial, melainkan harus berani mengambil langkah besar untuk memajukan persyarikatan.
“Selamat atas pelantikan ini. Pilihan bapak-ibu sudah sangat tepat, tidak salah orang. Namun ingat, FGM ke depan diharapkan tidak hanya melakukan reformasi biasa, bila perlu lakukan revolusi untuk memajukan pendidikan Muhammadiyah di Lampung,” tegas Prof. Sudarman.
Tiga Amanah Pokok Guru Berkemajuan
Di hadapan ratusan guru dan kepala sekolah yang memadati ruangan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung menitipkan tiga amanah penting yang wajib diwujudkan oleh pengurus FGM melalui program-program kerjanya:
- Guru Harus Terus Belajar
Prof. Sudarman mengkritik keras pola mengajar yang monoton dan tidak berkembang. Beliau menuntut para guru Muhammadiyah untuk terus memperbarui kompetensi dan pengetahuannya.
“Jangan sampai cara mengajar sepuluh tahun yang lalu sama dengan hari ini. Guru Muhammadiyah harus membeli buku baru setiap semester, memperbarui referensi, agar ilmu yang diberikan kepada murid selalu relevan,” ujarnya.
- Kurangi Beban Administrasi
Amanah kedua menyoroti realitas dunia pendidikan saat ini, di mana guru sering kali kehabisan waktu dan energi untuk mengurusi tumpukan laporan kertas. Menurutnya, FGM harus ikut memperjuangkan agar guru dikembalikan pada khittah utamanya. Guru bertugas untuk mendidik manusia, bukan terjebak menjadi pekerja administrasi.
- Menjadi Murabbi
Guru Muhammadiyah dinilai tidak boleh hanya sekadar mengejar pemenuhan jam mengajar atau transfer ilmu pengetahuan secara intelektual (Mualim). Lebih dari itu, guru harus menjadi seorang Murabbi—pendamping, pengatur, dan peneliti bagi muridnya.
“Seorang guru harus tahu satu per satu murid yang dihadapinya. Dia dari latar belakang apa, sedang menghadapi masalah apa. Kalau anak mengantuk di kelas, guru harus tahu alasannya; boleh jadi semalam dia habis membantu ayah ibunya bekerja. Guru harus membentuk akhlak, tata krama, dan sopan santun, sehingga lulusan kita tidak hanya pintar secara intelektual tetapi juga memiliki akhlakul karimah,” papar Guru Besar tersebut.

Peta Kondisi Sekolah: FGM Diminta Garap Sekolah “Sakit”
Selain menitipkan tiga pilar kompetensi guru, PWM Lampung juga membeberkan peta kondisi riil 261 sekolah Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Provinsi Lampung. Berdasarkan data persyarikatan, kondisi sekolah saat ini terbagi menjadi tiga klaster:
| Klaster Sekolah | Kondisi Riil Lapangan | Instruksi PWM untuk FGM |
| Klaster 1 (Sepertiga) | Kondisi Sehat dan Membanggakan | Dijadikan role model (percontohan) dan dipertahankan fungsinya. |
| Klaster 2 (Sepertiga) | Mulai Mau Sehat | Didorong dan disuntik program penguatan agar naik kelas. |
| Klaster 3 (Sepertiga) | Kondisi Sakit / Kurang Sehat | Wajib didampingi secara serius melalui pelatihan FGM agar segera sembuh. |
Prof. Sudarman menginstruksikan FGM Lampung untuk segera merancang pelatihan-pelatihan strategis—mulai dari pelatihan ideologi Tarjih, Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), hingga kedisplinan—yang difokuskan untuk “menyembuhkan” sepertiga sekolah Muhammadiyah yang saat ini masih dalam kategori sakit.
“FGM harus bergerak bersama Majelis Dikdasmen. Mari kita wujudkan masyarakat yang cerdas, adil, makmur, dan diridai Allah SWT melalui penguatan mutu sekolah-sekolah kita,” pungkasnya yang diakhiri dengan pantun doa dan barokah bagi seluruh pengurus. (IMS)

