Rabu, Februari 18, 2026
BerandaArtikelJejak Sunyi di Dapur Dakwah: Kisah Pengabdian Umi Sundari bagi ‘Aisyiyah Metro

Jejak Sunyi di Dapur Dakwah: Kisah Pengabdian Umi Sundari bagi ‘Aisyiyah Metro

Metro, 1959-1970

Di tengah denyut awal pertumbuhan Muhammadiyah di Kota Metro, seorang perempuan muda memantapkan langkahnya. Namanya, Umi Sundari, resmi tercatat sebagai anggota ‘Aisyiyah di bawah naungan Pimpinan Pusat.

Kala itu, ‘Aisyiyah Metro bergerak di bawah kepemimpinan Ibu H. Rosmanidar, istri dari Sutan Kalirajo. Sementara di tingkat daerah, Ibu Safinan—istri dari R. Raden Sukijo, yang merupakan anggota DPRD Lampung Tengah—memimpin dengan visi yang tegas. Di struktur inilah Umi Sundari memulai pengabdiannya.

Ia ditempatkan di bidang PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem), sebuah palagan pengabdian yang mengurusi kesejahteraan umat. Umi bergerak di jajaran Penolong Kesengsaraan Sosial—sebuah medan yang jauh dari sorotan kamera, namun menuntut pengorbanan paling besar.

Amanah di Atas Meja Kayu

Kepercayaan organisasi kepadanya terus tumbuh. Pada tahun 1967, Umi Sundari diamanahi jabatan sebagai Bendahara Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Metro. Di atas meja kecil dengan buku kas sederhana, ia menjaga marwah organisasi. Setiap rupiah ia catat dengan teliti, dan setiap pengeluaran ia pertanggungjawabkan hingga sekecil-kecilnya.

Bagi Umi, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah jalan pengabdian. Namun, ujian sejarah yang paling menggetarkan justru datang pada dekade 1970-an.

Teguran yang Mengguncang

Saat itu, Panti Asuhan Muhammadiyah tengah menjadi pusat perhatian. Menjelang Ramadhan, bantuan dari masyarakat biasanya mulai mengalir deras, dan Umi Sundari berada di barisan depan dalam mengelola kebutuhan tersebut.

Suatu hari, sebuah teguran datang dari pemerintah. Kondisi anak-anak panti dinilai kurang bersih dan lingkungannya dianggap kurang layak. Sebuah kalimat tajam terlontar, seolah meragukan kemampuan Muhammadiyah dalam mengasuh anak yatim.

Teguran itu menjadi cambuk bagi persyarikatan. Satgas segera dibentuk dan pembenahan besar-besaran dilakukan. Di tengah proses perbaikan sistem itulah, Umi Sundari ditunjuk untuk memegang urusan konsumsi.

Rp50 untuk Sebuah Kehormatan

Tugas ini bukanlah perkara mudah. Dana dari pemerintah kala itu sangatlah terbatas—terkadang hanya tersedia Rp30 sehari, atau Rp50 untuk sebulan.

Dengan dana yang nyaris mustahil itu, Umi harus memutar otak. Ia harus memastikan beras, gula, lauk-pauk, hingga kebutuhan dasar anak-anak panti terpenuhi. Ia habiskan waktunya di pasar, menawar harga dengan cermat, dan menghitung setiap butir kebutuhan agar dapur panti tetap berasap.

Lalu, bagaimana dengan upahnya? Hampir tidak ada. Dari dana Rp50 sebulan itu, ia terkadang hanya menerima sekitar Rp25. Itu pun bukan gaji, melainkan sekadar uang lelah atau ucapan terima kasih. Namun, Umi tidak pernah surut langkah.

“Saya ini bagian Penolong Kesengsaraan Sosial,” ujarnya lirih, menguatkan hati.

Saat itu, semua bergerak bersama dalam kesunyian. Istri Mbah Daud fokus pada kaderisasi, sementara istri Pak Kasiro menjadi sekretaris. Umi Sundari sendiri memilih peran sebagai “tukang belanja” panti asuhan. Kedengarannya biasa saja, namun dari tangan yang menjinjing kantong gula dan beras itulah, anak-anak yatim tetap bisa makan dan bermimpi.

Dakwah Tanpa Kebisingan

Pengabdian Umi Sundari tidak lahir dari podium atau mimbar-mimbar megah. Ia hadir dari uap dapur, hiruk-pikuk pasar, dan angka-angka di buku kas. Ia adalah bukti bahwa di ruang-ruang kecil yang jarang disebut dalam buku sejarah, Muhammadiyah justru tumbuh dan mengakar.

Sejak bergabung tahun 1959, menjadi bendahara pada 1967, hingga menjadi penggerak panti di tahun 1970-an, Umi Sundari setia pada jalannya. Tanpa tepuk tangan, tanpa sanjungan.

Ia hanya menggenggam satu keyakinan: bahwa dakwah sosial adalah amanah yang harus dijaga, walau hanya bermodal Rp30 sehari.

Kini, saat amal usaha Muhammadiyah berdiri megah dan kokoh, kita perlu menengok ke belakang. Fondasi bangunan itu pernah dijaga oleh tangan-tangan sederhana seperti Umi Sundari—seorang perempuan yang setia berbelanja demi menjaga martabat persyarikatan. Karena dalam sejarah ‘Aisyiyah, perjuangan besar memang sering kali lahir dari kerja-kerja kecil yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Ditulis Oleh: Guswir Sumber: Mbah Umi Sundari

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini