Tajuk Suara Muhammadiyah Edisi 23/110, 1-15 Desember 2025 mengangkat judul “Pasca Milad Ke-113”. Ada yang menarik dari Tajuk Majalah tertua tersebut, yaitu ketika redaktur mengutip ucapan Mitsuo Nakamura, seorang Antropolog dari Jepang yang banyak meneliti Muhammadiyah. Nakamura menyatakan bahwa dirinya menemukan Islam pada diri orang-orang Muhammadiyah dan pada organisasi Muhammadiyah.
Pernyataan Nakamura itu mengingatkan kita pada pernyataan Muhammad Abduh lebih satu abad yang lalu. Abduh menyatakan: “I Went to the West and saw Islam, but no muslim; I got back to the East and saw Muslim, but no Islam”. Maksudnya kurang lebih, Aku telah pergi ke Barat (Eropa) dan menyaksikan Islam di sana, tetapi tidak melihat orang-orang Islam. Aku kembali ke Timur (dunia Islam) dan melihat orang-orang Islam, tetapi aku tidak melihat Islam. Sebuah pernyataan yang menggambarkan betapa Abduh sangat prihatin dengan dunia Islam dan orang-orangnya. Islam sebagai agama rahmat, agama ilmu dan mengajarkan kemajuan tetapi belum sepenuhnya dipraktekkan dalam kehidupan sosial umat Islam. Yang Nampak justru potret kemunduran dan keterbelakangan dalam berbagai bidang di berbagai belahan dunia Islam yang bertolak belakang dari cita-cita ideal Islam.
Pernyataan Nakamura tersebut di atas adalah sebuah pujian sekaligus pengakuan bahwa Muhammadiyah bukan sekedar organisasi Islam, tetapi Muhammadiyah telah mampu mengimplementasikan nilai-nilai Islam tidak hanya sebagai ajaran tertulis belaka. Dalam kacamata Nakamura, Muhammadiyah telah berhasil menjadikan Islam sebagai ajaran yang hidup dan melembaga dalam kehidupan sosial. Potret orang-orang Muhammadiyah yang menampilkan citra Islam yang Rahmatan lil-alamiin, yang tidak hanya berkutat pada persoalan ibadah maghdhoh, tetapi juga aktif menggeluti ilmu pengetahuan dan sains, terlibat dalam persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan, serta menampilkan wajah Islam yang maju, bersih, tertib, disiplin dan berintegritas adalah kenyataan yang tidak terbantahkan.
Pun demikian jika melihat Muhammadiyah sebagai organisasi atau perkumpulan. Banyak yang menilai Muhammadiyah adalah organisasi modern yang tertib dan berwibawa. Tertib tidak hanya dalam sistem administrasi organisasi tetapi juga pada sistem kepemimpinannya. Tidak pernah terdengar proses pergantian kepemimpinan di Muhammadiyah itu terjadi deadlock, apalagi rebutan jabatan sampai menimbulkan perpecahan. Jika ada masalah semua diselesaikan dengan musyawarah yang bermartabat di atas landasan nilai-nilai Islam. Semua aset yang diusahakan oleh persyarikatan tercatan secara tertib dan rapi atas nama organisasi (umat), tidak ada yang atas nama pribadi pimpinan atau anggota Muhammadiyah. Pengelolaan keuangan organisasinya akuntabel dan transparan.
Muhammadiyah tidak pandai berbicara atau beretorika soal demokrasi atau merasa paling demokratis, tetapi lihatlah nilai- nilai demokrasi begitu sangat hidup di Muhammadiyah terutama dalam tatakelola organisasi dan kepemimpinan. Muhammadiyah tidak pandai berjargon ria soal kebersihan, tetapi lihatlah gedung-gedung dan fasilitas publik milik Muhammadiyah Nampak bersih, modern dan menggambarkan citra kemajuan. Muhammadiyah mengimplemantasikan nilai-nilai humanisme, kepedulian kepada sesama, dan sikap pro-mustadh’afin, tidak dengan ceramah ataupun sikap apatis, tetapi terjun langsung membantu dengan amal shalih dan semangat filantropis. Jika ada bencana semua komponen bergerak mengulurkan tangan melalui segala upaya dan kemampuan dengan penuh welas asih.
Begitulah gambaran Islam yang hidup pada diri orang-orang dan organisasi Muhammadiyah. Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak sekedar dibaca dan dihafal tetapi diimplementasikan dalam praksis nyata. Keyakinan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kemajuan, bukan hanya diyakini tetapi diusahakan sekuat tenaga mewujud dalam kehidupan. Tidak berlebihan jika frasa Islam Berkemajuan telah menjadi identitas warga persyarikatan dan organisasi Muhammadiyah. Hal yang sama dahulu disematkan para sahabat kepada baginda Rasulullah, bahwa Muhammad adalah Al-Qur’an yan berjalan. Artinya seluruh cara hidup Nabi adalah perwujudan dari keseluruhan ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an.
Segala sanjungan hendaknya jangan membuat hati melambung karena dapat bermuara pada rasa takabur. Akan tetapi tidak ada salahnya jika warga Muhammadiyah thadduts bin Ni’mah dengan banyak bersyukur atas segala nikmat dan capaian yang telah didapatkan. Tentu dengan tetap menjaga kepercayaan masyarakat dan terus meningkatkan amal shaleh serta dengan hati tulus ikhlas semata-mata berharap ridha dari Allah SWT semata. Semua ikut handar beni menjaga Muhammadiyah, karena hari ini, Muhammadiyah sangat menentukan wajah Islam yang maju, unggul dan humanis. Wajah Islam yang diliputi dengan Rahmat Allah seru sekalian alam. Selamat Milad ke-113 Muhammadiyah.

