METRO – Keluarga besar guru dan karyawan SD Muhammadiyah Metro Pusat menggelar Pengajian Songsong Ramadan 1447 H di Aula Kampus 2 setempat pada Senin, 16 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Dr. Ahmad Sujino, M.Pd.I. Wakil Ketua PWM Lampung dan Direktur Pontren At-Tanwir.
Dalam paparannya, Dr. Ahmad Sujino menegaskan bahwa berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025, awal Ramadan tahun ini secara resmi ditetapkan jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026.
Penetapan ini, jelas Ahmad Sujino, merujuk pada kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Kriteria ini merupakan buah dari kesepakatan internasional para ulama dan cendekiawan muslim di Istanbul tahun 2016.
“Langkah ini diambil Muhammadiyah bukan tanpa alasan. Ini adalah ikhtiar besar untuk mewujudkan persatuan umat Islam secara global, agar hari-hari besar keagamaan dapat dirayakan serentak di seluruh dunia,” ungkapnya di hadapan puluhan peserta pengajian.

Selain awal Ramadan, forum ini juga menjadi ajang sosialisasi keputusan Munas Tarjih ke-31 terkait perubahan parameter waktu Subuh. Berdasarkan kajian astronomi mendalam yang melibatkan tiga perguruan tinggi Muhammadiyah (UHAMKA, UMJ, dan UMSU), diputuskan bahwa waktu Subuh di Indonesia mundur sejauh 8 menit.
“Jika dalam jadwal lama waktu Subuh menunjukkan pukul 04.15, maka dengan kriteria baru ini jatuh pada pukul 04.23. Ini adalah hasil ijtihad yang kuat, berbasis ilmu pengetahuan sekaligus dalil agama,” jelasnya. Ia juga meluruskan konsep Imsak sebagai bentuk ikhtiyar (kehati-hatian) sekitar 10 menit sebelum Subuh, agar umat memiliki jeda persiapan yang cukup.
Dalam sesi diskusi yang interaktif, Ahmad Sujino menjelaskan prinsip Taisir atau memudahkan dalam beragama. Muhammadiyah melalui tuntunan Tarjih memberikan keringanan (rukhshah) bagi golongan yang memiliki hambatan fisik, seperti lansia renta, wanita hamil, maupun ibu menyusui.
“Islam itu memudahkan. Bagi mereka yang tidak mampu secara fisik, kewajiban puasa diganti dengan membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin sesuai jumlah hari yang ditinggalkan,” tambahnya. Hal ini juga berlaku bagi musafir dengan pertimbangan adanya unsur kesulitan (masyaqqoh) selama perjalanan.
Menutup kajian tersebut, Dr. Ahmad Sujino mengingatkan pentingnya loyalitas warga persyarikatan terhadap keputusan pimpinan. Mengingat proses di Majelis Tarjih melibatkan kajian pakar yang mendalam dan memakan energi serta biaya yang tidak sedikit, maka seluruh warga dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) diharapkan tegak lurus mengikuti maklumat yang ada.
“Siapa lagi yang akan mengamankan keputusan ini kalau bukan kita sendiri. Mari kita masuki Ramadan dengan penuh keyakinan, tanpa keraguan, dan tetap menjaga kerukunan meski di tengah masyarakat terdapat keberagaman metode,” pungkasnya.
Pengajian songsong Ramadan juga dimeriahkan dengan pemberian doorprize kepada guru dan karyawan. Sebanyak 25 orang menerima hadiah doorprize dengan berbagai macam jenis paket yang diserahkan oleh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. (ims)

