Bila menilik kembali sejarah pendirian persyarikatan Muhammadiyah, maka kita menemukan fakta bahwa Unsur Pembantu Pimpinan atau Majelis yang pertama-tama dibentuk berjumlah empat. Majelis dimaksud adalah Majelis Tabligh, Sekolahan (Pendidikan), Pustaka, dan Majelis Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Keempat majelis tersebut dibentuk sendiri oleh KH.Ahmad Dahlan pada 17 Juni 1920. Semua itu menunjukkan betapa pentingnya keempat majelis itu sebagai bidang utama dakwah Muhammadiyah.
Namun demikian, dari keempat majelis assabiqunal awwalun di atas, yang paling kurang mendapat perhatian adalah majelis pustaka yang sekarang bernama Majelis Pustaka dan Informasi. Padahal dahulu, majelis ini merupakan corong utama dakwah Muhammadiyah dengan berbagai usahanya seperti pendirian majalah Suara Muhammadiyah yang sangat legendaris itu, bulletin dakwah, penerbitan buku, dan dari masa ke masa secara intensif mempromosikan program-program dan kegiatan Muhammadiyah. Jasa majelis ini hampir-hampir tidak terkira dalam mengenalkan, mensiarkan dan menjadi sumber pengetahuan bagi warga persyarikatan dan masyarakat umum. Karena itu, jika majelis ini sekarang seperti kurang mendapat perhatian, terutama oleh pimpinan pada tingkat wilayah, daerah, lebih-lebih cabang, berarti ada yang salah dalam kita memahami sejarah, kiprah dan posisi penting majelis ini di persyarikatan.
Pada era digital sekarang ini, dimana semua orang hampir sebagian besar terhubung secara virtual dalam dunia maya, kiprah dan posisi majelis pustaka dan informasi seharusnya semakin kuat dan diperkuat. Hampir semua informasi, ilmu pengetahuan, seni dan teknologi sekarang ini tersedia dalam wadah Big Data dunia maya. Jumlahnya yang masif, kecepatannya tinggi dan ragam jenisnya sangat variatif. Data ini penting untuk menghasilkan wawasan dan mempengaruhi keputusan karena berisi informasi yang kaya. Jika Muhammadiyah tidak menjadi bagian yang mengisi dan mengendalikan big data tersebut, maka bisa saja dakwah Muhammadiyah tidak dikenali atau perannya di era digital menjadi tidak signifikan.
Menghidupkan dan mefungsikan kembali majelis pustaka dan informasi harus dilakukan, terus dilakukan dan dimulai kembali jika selama ini mengalami kevakuman. Penguatan tersebut dalam dua tiga tahun ini berusaha dilakukan di Muhammadiyah Kota Metro Lampung. Berawal dari keputusan Tanfidz hasil Musda, MPI didorong untuk merealisasikan program dan kegiatan yang diamanahkan. Menumbuhkan semangat literasi dimulai dengan penulisan Buku Sejarah Muhammadiyah Kota Metro. Belum lama ini MPI juga telah melahirkan kembali buku sejarah yaitu Sejarah Rumah Sakit Muhammadiyah Metro. Penulisan sejarah lokal Muhammadiyah dan sejarah Amal Usaha Muhammadiyah dirasa penting untuk terus menjaga warisan dakwah dan memperteguh ideologi Muhammadiyah. Tentu saja ditunggu AUM yang lain untuk berkolaborasi dalam penulisan sejarahnya dengan majelis pustaka dan informasi.
Merespon perkembangan digitalisasi, MPI memprakarsai untuk membuat dan mengelola website resmi Muhammadiyah Daerah Kota Metro. Melalui portal resmi tersebut semua informasi dakwah Muhammadiyah, kegiatan persyarikatan dan amal usaha Muhammadiyah dipublikasikan. Publikasi digital dinilai penting, karena memungkinkan semua informasi dan aktivitas dakwah bisa dilihat dan dibaca oleh netizen-Mu maupun netizen Non-Mu. Jejak publikasi digital sekaligus juga bermanfaat sebagai arsip digital yang sewaktu-waktu dibutuhkan bisa diunduh atau dilihat kembali.
Belajar dari pengalaman tersebut, salah satu penyebab mengapa majelis pustaka dan informasi mengalami kemandegan adalah karena tidak tersedianya sumber daya manusia yang mengelola dan menggerakkan majelis. Di tengah budaya membaca dan menulis yang masih sangat rendah maka penguatan sumber daya manusia yang melek kedua literasi tersebut menjadi penting. Pengalaman MPI Metro, penguatan SDM itu dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya dengan upgrading jurnalistik, pelatihan menulis essay dan artikel serta mengikutsertakan anggota majelis dalam berbagai event yang diselengarakan oleh MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sampai sekarang ini MPI kota Metro telah memiliki lima (5) orang jurnalis yang telah bersertifikat lulus ujian kompentensi jurnalis (Wartawan).
Dalam rangka terus melahirkan jurnalis-jurnalis baru yang diharapkan nantinya mengelola majelis pustaka dan informasi, maka Amal usaha Muhammadiyah khusunya pendidikan didorong dan difasilitasi untuk mengadakan pelatihan jurnalistik bagi siswa dan guru. Mereka diharapkan dapat mendirikan dan mengelola majalah sekolah atau sekaligus menjadi kontributor berita atau informasi sekolah yang nantinya akan disebarluaskan lewat sindikasi media Muhammadiyah. Siklus ini diharapkan akan menjadi cara untuk menyebarluaskan informasi pendidikan, dan aktivitas dakwah Muhammadiyah. Sekaligus untuk membangun citra positif Muhammadiyah di mata umat (masyarakat). Wallahu a’lam bishawab. (Mukhtar Hadi, Wakil Ketua PDM Metro yang membidangi MPI).

