Sabtu, April 4, 2026
BerandaArtikelRenungan: Teladan KH. AR Fachruddin – Pemimpin yang Tidak Gila Hormat dan...

Renungan: Teladan KH. AR Fachruddin – Pemimpin yang Tidak Gila Hormat dan Jabatan

Dalam sejarah dakwah Indonesia, nama KH. AR Fachruddin harum bukan karena ia mencari kehormatan, tapi karena beliau menjaga ketulusan dan kesederhanaan hingga akhir hayat.

Selama lebih dari dua dekade menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1968–1990), beliau tak pernah memperlihatkan haus kuasa. Bahkan setelah pensiun, ia tetap mengisi pengajian kecil-kecilan, kadang hanya di mushola dengan beberapa orang jamaah—sebagian bahkan mengantuk, sibuk sendiri, atau tak peduli.

Tapi beliau tidak marah. Tidak sakit hati. Tidak berhenti berdakwah.
Karena dakwah bagi beliau adalah ibadah, bukan pertunjukan.

Imam Al-Ghazali berkata:
“Janganlah engkau mengharapkan penghargaan dari makhluk atas amalmu. Cukuplah Allah yang tahu.”

Ada kisah terkenal, saat KH. AR Fachruddin memberi pengajian di sebuah desa. Jamaahnya hanya sedikit, sebagian tidur, ada yang ngobrol sendiri. Tapi beliau tetap menyampaikan ilmu dengan sabar dan senyum. Ketika ditanya, “Pak AR, kenapa masih semangat meski jamaahnya cuek?”
Beliau menjawab tenang, “Kalau saya marah, nanti malah dakwahnya berhenti. Padahal, siapa tahu satu dua orang masih mendengarkan.”

Betapa langkanya jiwa seperti ini—tidak mudah tersinggung, tidak gila dihormati, tidak menghitung jumlah audiens, tapi selalu hadir dengan keikhlasan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:
“Dai yang ikhlas, tidak berubah karena banyaknya pendengar atau sedikitnya. Ia berdakwah untuk Allah, bukan untuk manusia.”

KH. AR Fachruddin mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada jumlah pengikut, tetapi pada kejujuran niat. Bahwa yang perlu dikejar bukanlah popularitas, tetapi ridha Allah. Dan bahwa memaafkan jamaah yang meremehkan lebih baik daripada marah karena merasa tidak dihargai.

Umar bin Abdul Aziz berkata:
“Aku lebih memilih Allah menilai amalanku baik, walau manusia tidak tahu, daripada manusia memujiku sementara Allah murka kepadaku.”

Pemimpin yang Menjadi Hamba

Beliau tak pernah mendambakan pujian. Bahkan tidak ingin dipanggil ‘Kiai’ atau ‘Ustaz’, lebih memilih disebut sebagai “Pak AR” saja. Padahal beliau adalah tokoh nasional, dihormati dari istana hingga pelosok desa. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
“Tanda tawadhu’ adalah ketika engkau tidak mencintai posisi yang lebih tinggi daripada dirimu.”

Setelah tidak lagi menjadi ketua umum, beliau tetap mengisi pengajian kampung, tetap berjalan kaki, tetap naik becak, tanpa pengawal, tanpa protokol. Ketika ada yang merasa kasihan, beliau menjawab: “Saya ini hanya mantan ketua, bukan nabi. Dulu pun saya hanya menjalankan amanah, bukan mencari kehormatan.”

Teladan inilah yang harus dimiliki oleh semua kader umat, para tokoh, pemimpin bahkan para ustadz, kiyai dan ulama’. Sikap tidak gila hormat, apalagi kok mencari dan berambisi jabatan, itu adalah akhlak yang sangat tidak elok, itu adalah hijab untuk melihat kenikmatan ibadah.

Pesan kuat untuk kita generasi muda, untuk senantiasa meneladani akhlak mulia pendahulu kita, walau zaman berbeda, zaman yang terus memotivasi untuk maju dan sukses, ambisi dan agresif, tetapi jangan sampai lupa akhlak yang indah, karena tanpa akhlak ini, akan mengalami banyak sakit dan rasa kecewa dalam hidup ini.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini