Minggu, Juni 28, 2026
BerandaArtikelKe-Irfanian AR Fachrudin dalam Memajukan Muhammadiyah

Ke-Irfanian AR Fachrudin dalam Memajukan Muhammadiyah

Pendahuluan

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis tidak hanya berdiri di atas fondasi keilmuan syar’i, tetapi juga ditopang oleh spiritualitas dan keikhlasan para tokohnya. Salah satu figur sentral dalam perjalanan Muhammadiyah modern adalah KH. Abdul Rozak Fachrudin, atau yang lebih dikenal sebagai AR Fachrudin. Beliau memimpin Muhammadiyah selama 24 tahun (1968–1990), menjadikannya Ketua Umum PP Muhammadiyah terlama. Namun, di balik kepemimpinannya yang panjang dan stabil, terdapat kualitas mendalam yang jarang disorot secara khusus, yaitu “ke-irfanian”—sebuah puncak spiritualitas dan kebijaksanaan dalam Islam yang memadukan iman, ilmu, dan akhlak.

Makna Ke-Irfanian dan Relevansinya dalam Kepemimpinan

Ke-irfanian berasal dari kata ‘irfan’ yang berarti pengetahuan yang mendalam, khususnya yang bersifat intuitif dan ruhani. Dalam konteks tasawuf dan filsafat Islam, ke-irfanian mengarah pada maqam kebijaksanaan dan kedalaman ruhani yang melahirkan ketenangan, kelapangan hati, dan kemampuan melihat hakikat dari segala sesuatu. Seorang ‘arif bukan sekadar seorang yang tahu, tapi yang telah menghayati dan mengalami makna dalam dimensi spiritual yang mendalam.

Dalam konteks kepemimpinan AR Fachrudin, ke-irfanian tampak dari tiga hal utama: kesederhanaan hidup, kelapangan hati dalam perbedaan, dan kebijaksanaan dalam membawa Muhammadiyah menghadapi perubahan zaman. Beliau menjadi contoh nyata bahwa seorang pemimpin besar tidak harus flamboyan atau mendominasi, melainkan cukup dengan akhlak yang tulus, pandangan jernih, dan keteguhan hati.

Kesederhanaan sebagai Pilar Irfan

AR Fachrudin dikenal sangat sederhana. Ia hidup di rumah kontrakan, mengendarai sepeda motor tua, dan tak segan duduk bersama rakyat jelata. Bahkan, hingga akhir hayatnya, ia tidak memiliki rumah pribadi. Sikap ini bukan semata-mata soal gaya hidup, tetapi cerminan dari ke-irfanannya: tidak terikat dunia, namun menyelami kehidupan umat dengan penuh empati. Kesederhanaannya bukan simbol kelemahan, tapi kekuatan ruhani yang sulit dicapai oleh mereka yang terobsesi dengan kekuasaan dan materi.

Kebijaksanaan dalam Mengelola Perbedaan

Era kepemimpinan AR Fachrudin adalah masa-masa penuh tantangan: politik Orde Baru, konflik ideologis, dan perubahan sosial yang masif. Namun, ia mampu menjaga soliditas internal Muhammadiyah tanpa menciptakan friksi atau polarisasi tajam. Dalam menghadapi perbedaan paham di internal Muhammadiyah—misalnya antara kelompok puritan dan yang moderat—beliau mengambil jalan tengah yang bijak. Inilah wujud dari ke-irfanannya: mampu menilai substansi lebih dari sekadar simbol, dan memilih keutuhan organisasi daripada sekadar menang pendapat.

Spiritualitas dalam Misi Dakwah

AR Fachrudin tidak hanya dikenal di kalangan intelektual, tapi juga dekat dengan kalangan pesantren dan masyarakat tradisional. Ia sering mengisi pengajian umum dan ceramah dengan pendekatan yang sejuk dan membumi. Tidak ada retorika tinggi, namun setiap perkataannya mengandung kedalaman dan keikhlasan. Ia menjadi contoh bahwa dakwah bukan hanya transfer ilmu, tapi pancaran dari hati yang jernih dan jiwa yang lurus.

Penutup

Ke-irfanian AR Fachrudin menjadi fondasi penting dalam memajukan Muhammadiyah secara berkelanjutan. Ia bukan hanya pemimpin administratif, tetapi mursyid ruhani yang menanamkan nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan dalam tubuh Muhammadiyah. Di era modern ini, ketika tantangan organisasi dan umat semakin kompleks, figur seperti AR Fachrudin menjadi inspirasi abadi: bahwa kekuatan terbesar bukan terletak pada kekuasaan atau popularitas, melainkan pada kejernihan hati dan kemuliaan akhlak.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini