METRO – Riuh rendah suara diskusi mendadak senyap saat lembaran masa lalu dibuka di Aula Panti Asuhan Budi Utomo Muhammadiyah Metro. Hari ini, Rabu (8/7/2026), merupakan hari kedua agenda In-House Training (IHT) SD Sang Pencerah Metro. Namun, alih-alih diisi oleh rentetan teori pendidikan yang kaku, ruangan tersebut justru dipenuhi oleh getaran kisah perjuangan emosional yang dibawa oleh jajaran pemateri tangguh dari SMP Muhammadiyah 4 Metro, atauyang akrab dikenal sebagai Mudipat.
Di hadapan para guru SD Sang Pencerah, Abidin, M.Pd., mengawali pemaparannya dengan sebuah refleksi tajam mengenai mentalitas seorang pendidik. Merujuk pada pemikiran Prof. Dr. Imam Robandi, MT., dalam bukunya “Change & Movement”, ia mengingatkan tentang lima penyakit mental yang sering menghinggapi institusi pendidikan yang enggan berkembang.
“Sekolah tidak akan pernah besar jika gurunya senang mengeluh, selalu menyalahkan keadaan, sibuk menyalahkan kompetitor, hingga tidak akur antar sesama rekan sejawat,” tutur Abidin.
Abidin menekankan bahwa prestasi dan kedisiplinan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian mengambil risiko dan keluar dari zona nyaman.
“SMP Mudipat mungkin tidak bisa diadu dari segi kuantitas murid atau kemegahan bangunan. Namun, kami siap diadu untuk urusan dedikasi. Dan terbukti, komitmen itu mengantarkan kami merengkuh Juara 1 GTK Dedikatif dari tingkat Metro hingga Provinsi,” ucapnya disambut tepuk tangan riuh peserta.

Kisah kemudian mengalir pada memori masa lalu yang disampaikan oleh Rindy Citra Andini, S.Pd. Dengan senyum hangat, ia melukiskan bagaimana rupa Mudipat di masa awal. Kala itu, sekolah sama sekali belum menemukan ‘formula’ ajaib untuk mencetak juara. Fisik sekolah pun jauh dari kata ideal, bahkan lebih mirip sebidang yang dipenuhi semak-belukar daripada sebuah lembaga pendidikan formal.
“Prinsip kami dulu sederhana, ikuti saja semua undangan lomba yang masuk. Bahkan, pernah ada suatu masa di mana sekolah tidak punya uang sama sekali untuk membayar uang pendaftaran. Akhirnya, kami terpaksa melobi panitia, memohon agar anak-anak diizinkan ikut. Kami bilang ke panitia: ‘tidak juara pun tidak apa-apa, yang penting anak-anak ikut saja dulu’,” kenang Rindy.
Dari keterbatasan itulah, sebuah budaya luhur mengakar kuat di sanubari para guru Mudipat, melatih dan mendampingi siswa tanpa mengharapkan pamrih materil alias tidak dibayar. Militansi inilah yang meruntuhkan segala keterbatasan fasilitas fisik sekolah.
Melengkapi rangkaian kisah heroik tersebut, Hadi P., S.T., membawa ingatan peserta mundur jauh ke tahun 2004. Saat pertama kali ia menapakkan kaki di Mudipat, mencari murid adalah sebuah perjuangan hidup dan mati. Jumlah siswa menyusut drastis dari yang tadinya hanya belasan, hingga menyentuh angka kritis hanya 8 siswa dalam satu sekolah.
Kondisi darurat ini memaksa sang Kepala Sekolah saat itu, Pak Agus Pujianto, M. Pd, bersama Pak Hadi selaku Wakil Kepala Sekolah, mengambil langkah ekstrem door-to-door atau ari rumah ke rumah.
“Setiap habis Isya, ketika orang-orang mulai beristirahat, kami justru keluar untuk berkunjung ke rumah-rumah guru yang memiliki tetangga yang sudah dikelas 6 SD. Awal-awal masuk door to door, penolakan demi penolakan adalah hal biasa. Rasa malu ada, tapi lama-kelamaan rasa malu itu hilang” tutur Hadi, dengan mata menerawang ke masa lalu.
Melalui IHT hari kedua ini, para pendidik di SD Sang Pencerah Metro tidak hanya mendapatkan pembekalan teknis, melainkan sebuah suntikan spiritualitas keguruan. Di bawah atap Aula Panti Asuhan Budi Utomo, mereka belajar bahwa esensi tertinggi dari seorang guru adalah keikhlasan untuk mengabdi dan keberanian untuk terus bergerak maju melampaui batas kendali. (Aan)

