METRO – Suasana Aula Panti Asuhan Budi Utomo Muhammadiyah Metro mendadak riuh oleh tawa sekaligus anggukan reflektif para peserta In House Training (IHT) hari ketiga, Kamis (9/7/2026) di Aula Panti Asuhan Budi Utomo Muhammadiyah Metro. Di depan forum, Khoeroni, M.Pd., sang pemateri, langsung menggebrak suasana dengan sebuah kelakar yang menohok sekaligus memotivasi.
”Kalau ditanya, gaji guru SD Sang Pencerah itu gajinya berapa? 12 juta. Satu juta dibayar di dunia, 11 jutanya lagi tunai di akhirat,” seloroh Khoeroni yang langsung disambut tawa segar para guru.
Namun, di balik candaan itu, Khoeroni membawa pesan serius tentang cara pandang seorang pendidik. Menurutnya, guru-guru Muhammadiyah modern tidak boleh kuper dan harus berwawasan luas.
”Guru Muhammadiyah itu harus punya paspor, harus sering backpackeran dan traveling. Mengapa? Untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah di belahan bumi lain, lalu membawanya pulang untuk memajukan sekolah,” tegas Khoeroni.

Pengalaman traveling dan studi banding itulah yang mendasari Khoeroni untuk membedah konsep Budaya 5R (Rapi, Resik, Rawat, Ringkas, Rajin) sebagai basis pelayanan prima di sekolah. Konsep adaptasi dari filosofi kerja Jepang ini sengaja dibawa agar warga sekolah bisa cerdas secara utuh, mulai dari kognitif (pengetahuan), afektif (keterampilan), hingga psikomotorik (sikap).
Khoeroni menceritakan bagaimana kurikulum sekolah dasar di Jepang melatih kemandirian anak sejak dini melalui tiga materi wajib yang unik: memasak (bahkan dilengkapi laboratorium dapur khusus), menjahit, dan dasar-dasar kelistrikan.
”Karena sekolah kita itu bukan hanya belajar calistung (baca, tulis, hitung). Sekolah juga tempat belajar tentang hakikat kurikulum pendidikan yang memanusiakan manusia,” tambahnya.
Salah satu poin paling menarik dalam pelatihan ini adalah pembahasannya mengenai manajemen ruang, khususnya area yang sering dilupakan yaitu gudang.
Bagi Khoeroni, gudang sekolah bukanlah tempat pembuangan barang rongsokan yang kotor. Penerapan 5R yang sukses justru diuji dari bagaimana sebuah sekolah mengelola ruang penyimpanannya.
”Sekolah harus memiliki gudang untuk meletakkan barang yang sedang tidak terpakai, tetapi ingat, itu bukan barang bekas atau sampah. Manajemen gudang yang rapi adalah kunci utama inventaris sekaligus bentuk pelayanan prima kita kepada warga sekolah,” tegas Khoeroni.
Ketika ruang kelas, tangga, dapur, kantin, parkir, hingga gudang diatur dengan prinsip ringkas dan resik, maka atmosfer belajar akan berubah total.
Sesi IHT hari ketiga sesi pertama ini ditutup dengan sebuah pesan untuk guru SD Sang Pencerah Metro: “Sekolah yang nyaman adalah idaman setiap orang.” (Aan)

