Istilah kader hampir selalu hadir dalam setiap diskusi organisasi. Ketika sebuah gerakan mengalami stagnasi, yang dipertanyakan adalah kadernya. Ketika organisasi berkembang, yang diapresiasi juga kadernya. Bahkan ketika muncul persoalan loyalitas, militansi, atau regenerasi kepemimpinan, kata “kader” kembali menjadi pusat perhatian. Sebab pada hakikatnya, kader adalah jiwa yang menghidupkan organisasi.
Di lingkungan Muhammadiyah, perhatian terhadap kaderisasi bukanlah hal baru. Berbagai proses perkaderan terus dilakukan dari waktu ke waktu. Namun, di tengah semangat tersebut, ada pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah kaderisasi yang kita bangun sudah melahirkan seluruh kebutuhan Persyarikatan, atau masih lebih banyak berkutat pada kebutuhan organisasi semata?
Saya teringat nasihat almarhum Mbah Katsiro dan almarhum Mbah Abdullah Sajadi. Mereka pernah menjelaskan bahwa kader Muhammadiyah tidak hanya satu jenis. Setidaknya ada tiga dimensi penting: kader umat, kader bangsa, dan kader organisasi. Bahkan ketika menempuh pendidikan di Ma’had ‘Ali, kami sering mendengar istilah pengkaderan ulama Muhammadiyah.
Di sinilah ruang refleksi itu muncul
Selama ini, perhatian terhadap kaderisasi sering kali lebih terlihat pada aspek kader organisasi. Tentu hal ini penting karena organisasi membutuhkan penggerak dan pemimpin. Namun, bagaimana dengan kader ulama? Bagaimana dengan kader yang dipersiapkan untuk menjadi penjaga pemikiran, pengawal manhaj, pembimbing umat, dan penerus tradisi keilmuan Muhammadiyah?
Tidak sedikit kader yang melihat jalur organisasi memiliki peta karier yang lebih jelas dibanding jalur keulamaan. Akibatnya, minat untuk menempuh proses kaderisasi ulama menjadi semakin terbatas. Padahal, jika organisasi membutuhkan pemimpin, umat juga membutuhkan ulama yang memahami manhaj Muhammadiyah secara mendalam.
Kita masih mengingat bagaimana dahulu Ma’had ‘Aly Tarbiyatul Muballighin menjadi pembicaraan luas. Pada masa itu, meskipun media sosial belum berkembang seperti sekarang, semangat kaderisasi ulama begitu kuat digaungkan oleh para tokohnya. Namun hari ini, membangun kembali kesadaran tentang pentingnya kader ulama Muhammadiyah terasa tidak semudah dahulu. Salah satu sebabnya mungkin karena kaderisasi keulamaan belum memperoleh pengakuan dan perhatian yang sebanding dengan kaderisasi organisasi.
Di sisi lain, kita menyaksikan munculnya berbagai fenomena identitas keagamaan di sekitar Muhammadiyah. Ada yang dikenal sebagai “Muhammadiyah NU”, ada pula yang disebut “Muhammadiyah Salafi”. Terlepas dari berbagai label tersebut, banyak di antara mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang baik sehingga mudah mendapatkan ruang strategis dalam amal usaha maupun struktur Persyarikatan.
Namun pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah siapa yang lebih berhak, melainkan: sudahkah kita memberikan perhatian yang cukup kepada kader-kader yang sejak awal tumbuh, belajar, berjuang, dan menghidupkan Muhammadiyah dari ranting, cabang, masjid, sekolah, dan pesantrennya sendiri?
Jangan sampai kader yang bertahun-tahun menghidupkan ruh Muhammadiyah justru merasa asing di rumahnya sendiri. Jangan sampai mereka yang menjaga tradisi, mengajarkan ideologi, dan merawat manhaj Persyarikatan malah dipandang sebelah mata, sementara ukuran keberhasilan kader hanya dilihat dari posisi struktural yang berhasil diraih.
Mungkin sudah saatnya kita memperluas cara pandang tentang kaderisasi. Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan kader organisasi yang mampu mengelola administrasi dan kepemimpinan. Muhammadiyah juga membutuhkan kader ulama yang kuat ilmunya, kader umat yang dekat dengan masyarakat, dan kader bangsa yang mampu memberi kontribusi bagi negeri.
Karena pada akhirnya, kekuatan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya struktur yang terisi, tetapi juga oleh hadirnya kader-kader yang mampu menjaga ruh perjuangan, mengembangkan ilmu, membimbing umat, dan menghidupkan nilai-nilai Persyarikatan di tengah perubahan zaman.
Maka pertanyaannya bukan lagi “berapa banyak kader yang kita miliki?”, tetapi “kader seperti apa yang sedang kita siapkan untuk masa depan Muhammadiyah?”

