Selasa, Februari 24, 2026
BerandaArtikelPengkaderan sebagai Kawah Candradimuka, Jejak Konsistensi H. Bambang Setiyadi

Pengkaderan sebagai Kawah Candradimuka, Jejak Konsistensi H. Bambang Setiyadi

Di lingkungan Muhammadiyah, kepemimpinan bukanlah loncatan, melainkan perjalanan. Ia lahir dari proses panjang, berlapis, dan berjenjang.

Jejak itulah yang dapat ditelusuri dalam perjalanan H. Bambang Setiyadi merupakan seorang kader yang tumbuh dari ruang-ruang perkaderan hingga mengemban amanah strategis Persyarikatan.

Meniti Tangga Perkaderan Sejak Pelajar
Perjalanan itu bermula dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Di sinilah fondasi awal diletakkan melalui Taruna Melati (TM) 1 dan TM 2. Pada fase ini, bukan hanya organisasi yang dipelajari, melainkan cara berpikir ideologis: bagaimana memahami Islam sebagai gerakan, dan Muhammadiyah sebagai jalan pengabdian.

Berlanjut di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Mastama menjadi pintu masuk kesadaran kolektif. Darul Arqam Dasar hingga Darul Arqam Madya membentuk kematangan intelektual dan militansi gerakan. Di IMM, kader tidak hanya diasah kemampuan retorika dan kepemimpinan, tetapi juga ditempa dalam dialektika pemikiran, yang menghadirkan Islam yang rasional, progresif, dan solutif.

Matang dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah
Ketika memasuki fase struktural Persyarikatan, proses itu tidak berhenti. Di internal Muhammadiyah, ia mengikuti pelatihan mubaligh, pelatihan instruktur, pelatihan idiopolitor, hingga Darul Arqam Pimpinan. Setiap tahapan memperkuat kapasitasnya sebagai kader ideologis sekaligus organisatoris.

Bagi H. Bambang Setiyadi, perkaderan bukan sekadar formalitas sertifikat. Ia adalah proses internalisasi nilai: komitmen pada manhaj tarjih, loyalitas pada keputusan jamaah, serta kesadaran kolektif-kolegial dalam kepemimpinan.

Mengemban Amanah di Ortom
Kematangan kaderisasi itu tercermin dalam amanah yang diemban di organisasi otonom. Ia pernah menjadi Ketua Korkom IMM (1992–1994), kemudian menjabat Kabid Organisasi PC IMM Lampung Tengah (1994–1996). Di fase ini, ia belajar membangun sistem dan menata gerakan.

Pengalaman tersebut berlanjut ketika dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Metro (2005–2010).

Di bawah kepemimpinannya, konsolidasi pemuda dilakukan dengan pendekatan ideologis sekaligus manajerial—mendorong Pemuda Muhammadiyah tampil progresif tanpa tercerabut dari akar nilai.

Konsistensi di Struktur Persyarikatan
Di tingkat Persyarikatan, jejak pengabdian H. Bambang Setiyadi berlangsung panjang dan konsisten.

Ia memulai sebagai Sekretaris Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PDM Lampung Tengah (2005–2010). Amanah itu berlanjut sebagai Ketua MTDK PDM Kota Metro (2010–2015), memperkuat basis dakwah struktural dan dakwah komunitas.

Pada 2015–2022, ia dipercaya sebagai Bendahara PDM Kota Metro, dan sejak 2022 hingga sekarang kembali mengemban amanah yang sama. Posisi bendahara bukan sekadar administratif, melainkan strategis—menjaga akuntabilitas, transparansi, dan keberlanjutan gerakan.

Di luar struktur inti Persyarikatan, ia juga dipercaya sebagai Komisaris PT MSI periode 2023–2026 dan kembali untuk periode 2026–2029. Amanah ini menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah dituntut profesional, adaptif, dan mampu menghadirkan tata kelola modern tanpa meninggalkan etika Persyarikatan.

Konsistensi sebagai Cermin Kawah Candradimuka
Jejak panjang itu memperlihatkan satu benang merah: konsistensi. H. Bambang Setiyadi adalah potret kader yang tumbuh secara berjenjang, dari IPM, IMM, Ortom, hingga struktur PDM, tanpa jalan pintas.

Dalam tradisi Muhammadiyah, inilah makna pengkaderan sebagai kawah candradimuka. Ia menempa kesabaran, memperkuat ideologi, dan mematangkan kepemimpinan. Jabatan hanyalah konsekuensi dari proses, bukan tujuan.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, figur-figur dengan rekam jejak kaderisasi yang utuh menjadi kebutuhan Persyarikatan. Sebab keberlanjutan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya amal usaha, tetapi oleh kokohnya kualitas kader.

Dan dalam kisah H. Bambang Setiyadi, kita membaca satu pelajaran penting, bahwa kesetiaan pada proses adalah fondasi kepemimpinan. Dari kawah candradimuka itulah lahir kader-kader yang siap menjaga marwah Persyarikatan, untuk umat, bangsa, dan peradaban.

Oleh : Guswir
Sumber : H Bambang Setiyadi

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini