Selasa, Februari 24, 2026
BerandaArtikelMenapaki Tangga Kepemimpinan Persyarikatan, Konsistensi Proses Kaderisasi

Menapaki Tangga Kepemimpinan Persyarikatan, Konsistensi Proses Kaderisasi

Dalam tradisi Muhammadiyah, kepemimpinan bukanlah produk momentum, melainkan buah dari sistem kaderisasi yang tertib, berjenjang, dan berkesinambungan. Model itulah yang terbaca jelas dalam perjalanan H. Kustono, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro periode 2022 hingga sekarang.

Sejak fase pelajar, ia telah berada dalam orbit pembinaan ideologis Persyarikatan. Di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), ia tidak hanya mengikuti Taruna Melati (TM) 1 dan TM 2, tetapi juga mengemban amanah struktural secara bertahap.

Ketua IPM Ranting SPG Muhammadiyah Metro (1987–1988), Wakil Ketua I PC IPM Metro Raya (1989–1990), Wakil Ketua IV PD IPM Lampung Tengah (1990–1992), hingga Wakil Ketua I PD IPM Lampung Tengah (1992–1994).

Fase ini bukan sekadar pengalaman organisasi. Di sinilah karakter kepemimpinan dibentuk: disiplin terhadap mekanisme, kepatuhan pada keputusan musyawarah, dan kesadaran kolektif sebagai bagian dari gerakan dakwah.

Matang di IMM Sebagai Ideologi dan Daya Analisis

Memasuki dunia mahasiswa, proses kaderisasi berlanjut di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Ia menapaki jenjang Mastama, Darul Arqam Dasar (DAD), hingga Darul Arqam Madya (DAM). Pada fase ini, kapasitas intelektual dan orientasi ideologis dipertajam.

Secara struktural, ia dipercaya sebagai Ketua Komisariat FUM (1989–1991), Ketua I PC IMM Lampung Tengah (1991–1993), serta Ketua I PD IMM Lampung (1992–1994).

IMM membentuknya bukan hanya sebagai aktivis, tetapi sebagai kader yang memiliki daya analisis sosial dan komitmen pada manhaj tajdid, yang menghadirkan Islam yang berkemajuan dalam konteks kebangsaan.

Militansi Pemuda dan Konsolidasi Gerakan

Proses itu berlanjut di Pemuda Muhammadiyah Kota Metro. Sebagai Wakil Ketua I (1995–2000),

Ia berperan dalam konsolidasi kader muda dan penguatan militansi dakwah. Baitul Arqam dan forum-forum pembinaan menjadi ruang internalisasi nilai, mempertemukan idealisme dengan tanggung jawab organisatoris.

Di titik ini, kaderisasi tidak lagi hanya membentuk kapasitas personal, tetapi menguji kematangan dalam mengelola dinamika kolektif.

Mengabdi di Amal Usaha Muhammadiyah

Kesinambungan kepemimpinannya, H. Kustono juga teruji di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Ia pernah menjabat sebagai Kepala SD Muhammadiyah Metro (1997–2007), sebuah fase panjang yang memperlihatkan konsistensi dalam pengelolaan pendidikan berbasis nilai.

Ia juga mengemban amanah sebagai Mudir Pondok SMP Muad (2016–2022), memperkuat integrasi antara pendidikan formal dan pembinaan karakter Islami.

Sejak 2023 hingga 2027, ia menjadi anggota BPH UM Metro, memperluas kontribusi pada tata kelola pendidikan tinggi Muhammadiyah.

Dalam perspektif manajemen Persyarikatan, pengalaman di AUM menjadi laboratorium kepemimpinan, bahwa tempat nilai diuji itu ada dalam sistem, dan idealisme yang diterjemahkan menjadi tata kelola profesional.

Menapaki Struktur Persyarikatan

Jejak strukturalnya di Persyarikatan berlangsung progresif dan konsisten:

– 1995–2000: Pleno PCM Metro Raya

– 2000–2005: Sekretaris Majelis Kader PDM Metro

– 2005–2015: Bendahara PDM Metro (dua periode)

– 2015–2022: Wakil Ketua PDM Metro

– 2022–sekarang: Ketua PDM Kota Metro

Rentang tiga dekade tersebut mencerminkan kesinambungan dalam proses kepemimpinan dan akumulasi pengalaman. Dua periode sebagai bendahara memperkuat kapasitas tata kelola keuangan yang akuntabel dan transparan.

Fase wakil ketua membangun koordinasi lintas majelis dan lembaga. Sementara posisi ketua menuntut kemampuan integratif—menyatukan visi, strategi, dan implementasi dakwah.

Kepemimpinan sebagai Instrumen Pelayanan

Bagi H. Kustono, jabatan bukan simbol otoritas, melainkan instrumen pelayanan.

Prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan amanah, disiplin terhadap mekanisme musyawarah, serta konsistensi pada garis kebijakan Persyarikatan menjadi pijakan kepemimpinannya.

Dalam konteks Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan, kepemimpinan mencakup penguatan ideologi, konsolidasi organisasi, serta optimalisasi amal usaha.

Tantangan digitalisasi, perubahan sosial, hingga kompleksitas ekonomi umat memerlukan figur yang tidak hanya memahami nilai, tetapi mampu menerjemahkannya dalam kebijakan operasional.

Pesan untuk Generasi Muda

Pesannya tegas namun reflektif: kaderisasi adalah investasi jangka panjang. Proses tidak boleh dipercepat secara artifisial. Setiap jenjang memiliki fungsi pembentukan kapasitas dan integritas. Tanpa disiplin berproses, organisasi akan kehilangan kualitas kepemimpinan di masa depan.

Kisah ini menegaskan satu hal bahwa Muhammadiyah tumbuh melalui sistem yang tertib, bukan figur yang instan. Kepemimpinan adalah hasil dari konsistensi, loyalitas ideologis, dan kemampuan mengelola amanah secara profesional.

Dari Kota Metro, pesan itu kembali ditegaskan, bahwa kemajuan tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari ketekunan menapaki tangga perjuangan.

Oleh: Guswir

Sumber: H. Kustono

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini