Oleh: Guswir.
Di usianya yang telah senja, menginjak 86 Tahun, H. Susanto, akrab disapa Mbah Santo, masih ingat jelas tanpa diulang NBM 420.806, masih mengingat dengan jernih setiap episode perjalanan dakwahnya.
Beliau lahir dari kultur keilmuan dan gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta, ia tumbuh menjadi sosok keras terhadap kemungkaran namun lembut kepada umat. Karakter yang membentuk fondasi perjuangannya sejak masa muda hingga kini menjadi penopang sejarah Muhammadiyah di Lampung Tengah dan Kota Metro.
Ia menceritakan kepada Jurnalis Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Perjalanan intelektual Mbah Santo bermula dari Pemuda Muhammadiyah Yogyakarta. Antara tahun 1956–1958, ia mengikuti perkaderan pertamanya di bawah bimbingan tokoh-tokoh Muhammadiyah, termasuk Dr. Bison Wardi, istri dari salah satu profesor awal di Muhammadiyah.
Di organisasi kepemudaan itu, ia dipercaya mengampu Bidang Penerangan, sebuah peran strategis bagi kader muda yang kelak menjadi penggerak dakwah daerah.
Masa itu pula ia sering hadir dalam dakwah tokoh legendaris KH. AR Fakhruddin, yang bukan hanya menginspirasinya, tetapi juga memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Dari lingkungan itulah gagasan tentang pengabdian dan amar makruf nahi mungkar tertanam kuat.
Pada tahun 1958–1959, Mbah Santo mulai mengajar di SMP Muhammadiyah Yogyakarta. Namun kondisi ekonomi membuat kehidupannya tersendat. Di tengah kesulitan itu, muncul tekad bulat untuk merantau ke Lampung.
ia menceritakan kepada MPI bahwa ibunya sempat bertanya, ungkapan Ibunya menahan kepergiannya, “Kamu wong di Jogja sudah kerja, kok malah mau pergi?”
Namun jawaban itu yang kemudian menjadi sumpah hidupnya: “Pokoknya saya mau berdakwah sampai mati.”

Dan akhirnya pada tahun 1962, ia berangkat ke Lampung tanpa keluarga, saudara, atau kenalan satu pun.
Setibanya di Kota Metro saat itu Muhammadiyah masih setingkat cabang, ia bertemu dengan tokoh-tokoh setempat seperti Raden Sukijo (Ketua Cabang) dan Mur Hasan (Sekretaris). Ia ditawari menjadi guru SD Muhammadiyah Sukadana namun merasa tidak sanggup setelah dua hari mencoba.
Hingga kemudian datang Abdullah Umar, pencari guru untuk PGA. Kesempatan itu disambutnya. Dari sinilah dakwahnya berakar, dan Metro menjadi rumah kedua yang dibangunnya dengan cucuran peluh selama puluhan tahun.
Karena belum memiliki tempat tinggal, ia diarahkan untuk tinggal di Panti Asuhan Budi Utomo (kini SD Muhammadiyah Metro Pusat). Meski awalnya enggan, ia akhirnya tinggal di sana selama hampir tiga bulan.
Sejak Bergabung di PDM Lampung Tengah, (Mero masih gabung dengan Lamteng.Red) ia sempat menduduki jabatan Majelis:
– Menjadi anggota aktif berbagai majelis 1970
– Ketua Majelis Tabligh dan Tarjih: 1985–1997
– Ketua Majelis Tabligh PDM 1985–1990
– Ketua Majelis Tarjih PDM 1990–1997
Salah satu kenangan paling berkesan ialah ketika ia mengantarkan Sujino kini Direktur PontrenMu At-Tanwir—ke Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Yogyakarta. Ia satu-satunya peserta dari Lampung, dan Mbah Santo menjadi pengantarnya.
Sebagai guru di PGA, ia menghadapi keterbatasan besar. Penggerak Muhammadiyah masih sangat sedikit, sementara masyarakat yang harus dibina sangat luas. Maka, ia memanfaatkan murid-muridnya sebagai bibit kader.
Nama-nama yang kelak menjadi tulang punggung pendidikan dan persyarikatan lahir dari tangannya, Kasimun, Khoroni, Sujino dan masih banyak kader lain yang menggerakkan Muhammadiyah di Metro.
Ia mengenang dua muridnya, Kasimun dan Khoroni, sebagai mahasiswa yang paling unggul terutama dalam kemampuan bahasa Inggris yang saat itu masih sangat jarang.
Menghadapi Tantangan dengan Sepeda dan Keteguhan dakwah pada masa itu bukan perjalanan mobil dinas atau fasilitas lengkap. Mbah Santo berkeliling dari, Sukadana, Padang Ratu, Sribhawono, Labuhan Maringgai, Sekampung, semuanya menggunakan sepeda.
“Sarana dakwah dulu susah… tapi semangat tidak boleh lemah,” kenangnya.
Sang pejuang kaderisasi handal ini mempuu motto kehidupan yang sangat kuat, Ada dua prinsip yang selalu ia ulang kepada kader-kader muda:
- Satukan kekuatan, bina kebersamaan.
- Jangan patah semangat. Kerjakan seperti pesan KH. Ahmad Dahlan:
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Dalam perjalanan panjangnya, ia mengidolakan beberapa tokoh, Mbah Daud dari Metro, KH. AR Fakhruddin, tokoh besar Muhammadiyah, M. Jindar Tamimi, sekretaris PP Muhammadiyah, dan tentu KH. Ahmad Dahlan, sumber semangat utama gerakan pencerahan.
Jejak panjang yang tak terganti, perjalanan hidup H. Susanto adalah episode keteguhan seorang kader tulus yang datang tanpa apa-apa, lalu mengubah wajah dakwah Lampung. Dari sepeda tua hingga jabatan strategis, dari panti asuhan hingga podium Tarjih, Mbah Santo telah menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah perkembangan Muhammadiyah di Metro dan Lampung Tengah.
Ia berkata kepada Jurnalis MPI bahwa: “Kader Muhammadiyah tidak boleh lemah. Kalau dulu tenaga sedikit saja kita bisa bergerak, maka sekarang dengan sarana lengkap tidak ada alasan untuk berhenti.” katanya
Di masa tuanya, ia tetap tegak sebagai penjaga nilai, pewaris semangat, dan teladan bagi generasi penerus persyarikatan.

