Oleh: An-Najmi Fikri Ramadhan (Instruktur IMM)
Hampir tidak ada tahun tanpa musibah di negeri ini, mulai dari banjir, gempa, tanah longsor, hingga kebakaran hutan dan lahan. Setiap kali beritanya sampai, solidaritas pun bergerak. Kepedulian semacam ini layak diapresiasi sebagai tanda bahwa rasa kemanusiaan kita masih hidup.
Gerakan kemanusiaan kerap dipahami sebagai aksi darurat yang surut ketika sorotan publik berpindah. Pemahaman semacam ini membuat kemanusiaan lebih mudah dikenali dari momen-momennya ketimbang dari proses yang berjalan di baliknya. Di tengah arus informasi yang cepat, kepedulian pun ikut menyesuaikan diri dengan ritme berita, sehingga yang tampak sering kali adalah respons, bukan keseluruhan kerja kemanusiaan itu sendiri.
Memahami Akar Humanitas
Humanitas dalam praktik dapat dipahami dalam dua jalur. Gerakan sosial menolong langsung korban dan mendampingi warga, sedangkan gerakan politik memperjuangkan kebijakan dan keadilan yang menyentuh kekuasaan. Pembagian ini tampak wajar, tetapi perlahan menyempitkan makna humanitas itu sendiri.
Antonio Gramsci membantu membaca persoalan ini. Teori hegemoninya menyatakan bahwa kekuasaan bertahan lewat paksaan dan lewat penerimaan masyarakat, yang menganggap tatanan yang ada wajar. Sekolah, media, dan organisasi sosial membentuk penerimaan itu (Gramsci, 1971). Kekuasaan jenis ini jarang terlihat karena ia hidup dalam kebiasaan dan cara orang memahami keadaan.
Dengan kacamata ini, kedermawanan dan keberpihakan struktural tidak lagi berjalan berseberangan. Pertolongan yang tulus tetap berharga, tetapi akan berhenti di permukaan jika tidak disertai pemahaman tentang mengapa penderitaan terus berulang.
IMM lahir dengan cita-cita yang lebih luas daripada sekadar hadir ketika ada yang celaka. Amirullah dalam IMM untuk Kemanusiaan menempatkan humanitas IMM sebagai gerakan kemanusiaan, bukan kegiatan kemasyarakatan yang sempit (Amirullah, 2016: hlm. 45–46).
Pemisahan sosial dan politik berakar pada pemisahan yang lebih dasar antara gagasan dan tindakan. Amirullah menggambarkan keduanya sebagai jiwa dan raga (Amirullah, 2016: hlm. 62). Gagasan tanpa tindakan kehilangan daya ubah, dan tindakan tanpa gagasan kehilangan arah. Perjalanan dari nalar ke aksi membentuk lingkaran, karena tindakan menguji ulang gagasan yang melahirkannya.
Kuntowijoyo merumuskan ilmu sosial profetik yang terkenal dengan tiga pilar yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi, yang berpijak pada Q.S. Ali Imran ayat 110 (Kuntowijoyo, 1991). Humanisasi memanusiakan manusia yang terasing, liberasi membebaskan manusia dari penindasan struktural, dan transendensi menjaga keduanya tetap berpijak pada nilai. Dengan kerangka ini, kepedulian sehari-hari dan perubahan struktur tidak lagi berdiri sebagai dua kutub.
Dari Cara Memandang Menuju Kerja Nyata
Transformasi yang sebenarnya adalah perubahan cara pandang, dari melihat diri sebagai pusat menuju melihat diri sebagai bagian dari kehidupan bersama. Dari sini tampak tiga watak gerakan. Gerakan reaktif lahir dari peristiwa dan surut ketika perhatian berpindah. Gerakan responsif lebih terencana, tetapi sering hanya mengobati gejala. Gerakan transformatif bekerja pada akar, dengan memperhatikan mengapa kelompok yang sama berulang kali menanggung akibatnya.
Ketiganya sebaiknya hadir dalam satu siklus. Sebelum musibah, gerakan membaca risiko. Saat musibah, bantuan sampai dengan tepat. Setelah musibah, gerakan menelusuri penyebabnya agar peristiwa serupa tidak terus berulang.
Niat baik saja belum cukup. Gerakan yang tulus berpihak kepada mereka yang paling terdampak, sebab kemiskinan sering kali akibat struktur yang timpang. Empati memahami pengalaman orang lain dari sudut pandang mereka, dan solidaritas berarti berbagi beban, bukan belas kasihan dari atas ke bawah. Kerendahan hati untuk mendengar dan mengoreksi diri menjadi bagian dari ujian ini. Bantuan yang merendahkan penerimanya mengkhianati semangat kemanusiaan, sekalipun niatnya baik.
Setiap gerakan kemanusiaan memiliki nilai yang menjadi dasar, tetapi nilai saja belum menjamin keaslian. Humanitas yang punya value berpijak pada keyakinan yang jelas, bagi IMM bersumber dari tauhid dan semangat rahmatan lil ‘alamin. Namun nilai perlu diuji dalam praktik agar tidak berhenti menjadi slogan.
Keaslian sebuah tindakan dapat dikenali dari satu ukuran sederhana, yaitu apakah ia mengubah sesuatu bagi orang yang dibantu, atau hanya memperkuat citra pelakunya. Gerakan yang genuine tidak mengukur dirinya dari seberapa ramai dokumentasi kegiatannya, tetapi dari seberapa jauh kehidupan orang yang didampingi menjadi lebih baik dan lebih berdaulat Gerakan yang punya value dan genuine membuka diri untuk diperiksa dan dikoreksi bersama orang yang mereka dampingi. Dengan ukuran itu, kader dapat menjalankan humanitas sosial dan politik berdampingan.
Nilai itu diterjemahkan melalui langkah yang sederhana. Kader dapat membangun kajian di tingkat komisariat yang membaca persoalan lokal dengan data, bekerja sama dengan pemuda, kelompok perempuan, dan warga yang jarang didengar, serta melibatkan masyarakat sejak perencanaan. Kolaborasi semacam ini menuntut kesediaan untuk belajar dari mitra, bukan sekadar mengajak mereka bergabung. Ukuran keberhasilannya bukan banyaknya kegiatan, melainkan perubahan yang bertahan setelah kader tidak lagi terlibat langsung. Gerakan pun tidak harus besar untuk bermakna. Banyak perubahan bermula dari persoalan terdekat.
Rumah Bersama dan Peran Intelektual
Humanitas yang sejati memberikan konsekuensi tidak mengenal sekat. Karena gerakan kemanusiaan tidak semestinya terkurung oleh agama, suku, atau kelompok, karena yang dibela adalah martabat manusia. Kader perempuan, kader dari keluarga sederhana, dan kader dari daerah yang jauh dari pusat berhak sama dihargai. Dengan cara pandang ini, pertanyaannya bergeser dari mana seseorang berasal menjadi apa yang dapat dikerjakan bersama demi martabat manusia. Ruang bersama semacam ini juga menuntut kesediaan untuk mendengar pengalaman yang berbeda, sebab setiap kelompok membawa pengetahuan lokal yang tidak dimiliki kader mana pun.
Kepedulian tanpa pengetahuan mudah berubah menjadi reaksi emosional yang cepat padam. Karena itu, humanitas perlu membaca persoalan sebelum terjadi, merespons ketika ia datang, dan membantu pemulihan setelahnya, dengan kejujuran dalam membaca data dan akar masalah. IMM tidak harus selalu berada di garis depan. Kekuatannya terletak pada kemampuan menjadi gerakan intelektual yang memproduksi pengetahuan, mendidik kader membaca data, dan menggugat kebijakan yang melahirkan ketidakadilan. Peran semacam ini membuat IMM tetap memiliki wajah yang khas, berbeda dari lembaga operasional yang bekerja di lapangan setiap hari.
Gramsci menyebut pemikir yang lahir dari masyarakat sendiri sebagai intelektual organik, yang merumuskan pengalaman rakyat ke dalam bahasa bersama (Gramsci, 1971). Kerangka ini tetap perlu dibaca kritis dari sudut tauhid, tetapi pertanyaannya tetap relevan: siapa yang membentuk akal sehat masyarakat, dan siapa yang diuntungkan olehnya. Dengan demikian, kader tidak datang membawa jawaban tunggal, melainkan membangun pemahaman bersama warga yang paling mengetahui persoalannya.
Penutup
Humanitas IMM tidak berhenti pada kepedulian sesaat, dan tidak tenggelam dalam simbol. Ia berakar pada pengetahuan, tumbuh bersama masyarakat, dan dijaga oleh nilai yang menyatukan kepedulian sosial dengan keberpihakan struktural. Pada akhirnya, humanitas diukur bukan dari seberapa sering kita terlihat peduli, melainkan dari seberapa lama kepedulian itu bertahan dan memberi dampak. Dengan cara itu, gerakan bergerak dari reaktif menuju transformatif, dan dari kerumunan menuju kebersamaan.

