METRO, LAMPUNG — Hari kedua Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) periode Muktamar IV 2023–2028 di Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), Jumat (9/10/2026), menyoroti pentingnya penguatan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, dan kemandirian pangan sebagai bagian dari kontribusi nyata bagi bangsa.
Rektor UM Metro, Nyoto Suseno, mengawali sambutan dengan menegaskan peran perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia yang bermanfaat bagi masyarakat.
Memasuki usia ke-60 tahun pada 2026, UM Metro terus mengembangkan layanan pendidikan, termasuk melalui pembukaan Program Studi Kedokteran Hewan yang relevan dengan kebutuhan sektor pangan.
“Kami berharap UM Metro tidak hanya berkembang sebagai institusi pendidikan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kami juga mengundang kader HW untuk melanjutkan pendidikan di UM Metro,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan program studi menjadi salah satu upaya UM Metro memperluas akses pendidikan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat. Penerimaan mahasiswa baru masih dibuka hingga 16 Oktober 2026.
Selanjutnya, Ketua Umum Kwartir Pusat HW, Aman Suyadi, mengajak kader kepanduan mengambil peran dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, HW memiliki potensi besar karena kadernya berasal dari beragam latar belakang profesi dan wilayah.
“Kader dan pembina HW dapat dilatih mengolah sampah rumah tangga dan sampah organik menjadi pupuk cair maupun kompos. Selain mengurangi persoalan sampah, langkah ini juga mendukung pertanian dan kemandirian pangan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pengolahan sampah perlu disertai pendampingan agar masyarakat mampu mempraktikkannya secara berkelanjutan. Upaya tersebut dapat dimulai dari rumah tangga dan pemanfaatan lahan pekarangan, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menekankan pentingnya menjaga nilai perjuangan sekaligus mendorong masyarakat menjadi lebih produktif. Ia mengingatkan bahwa perubahan zaman tidak boleh membuat organisasi kehilangan prinsip yang menjadi landasan gerakannya.
“Manusia bisa berubah, tetapi platform perjuangan itu harus tetap menjadi pegangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kemandirian pangan tidak cukup hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga harus berdampak pada kesejahteraan petani dan nelayan. Karena itu, diperlukan kepastian pasar dan harga bagi petani serta dukungan fasilitas seperti tempat pelelangan ikan, pabrik es, penyimpanan dingin, dan perbaikan kapal bagi nelayan.
Zulkifli juga mendorong pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih untuk memperkuat ekonomi lokal, mengembangkan kegiatan produksi, dan membuka peluang usaha bagi masyarakat. Ia mengajak masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan dengan meningkatkan produktivitas dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Melalui Tanwir I yang berlangsung pada 8–10 Oktober 2026 di UM Metro, ketiga narasumber menyoroti pentingnya sinergi pendidikan, gerakan kepanduan, dan pemberdayaan ekonomi dalam membangun masyarakat yang mandiri.
Ia berharap, forum nasional yang diikuti perwakilan HW dari berbagai wilayah Indonesia ini dapat menghasilkan gagasan dan langkah strategis untuk memperkuat kaderisasi serta memperluas kontribusi HW bagi persyarikatan, umat, dan bangsa. (Guswir)

