Rabu, September 23, 2026
BerandaBeritaGol A Gong Beri Penguatan Literasi kepada Peserta "Sekolah Keluarga Literat" Aisyiyah...

Gol A Gong Beri Penguatan Literasi kepada Peserta “Sekolah Keluarga Literat” Aisyiyah Kota Metro

METRO — Program Sekolah Keluarga Literat (SKL) yang diselenggarakan LPPA PDA Kota Metro menghadirkan penulis nasional Gol A Gong dalam salah satu sesi pelatihan. (Selasa, 22 September 2026). Kehadiran Gol A Gong bertepatan dengan rangkaian Safari Literasi Sumatera yang tengah dilakukannya.

SKL merupakan program pelatihan yang dilaksanakan dalam enam kali pertemuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan pengalaman mengenai literasi keluarga. Para peserta diharapkan dapat menjadi penggerak yang membawa praktik literasi ke lingkungan keluarga masing-masing.

Dalam sesi bersama Gol A Gong, peserta mendapatkan pengalaman langsung mengenai dunia kepenulisan sekaligus penguatan tentang pentingnya membangun budaya literasi dari lingkungan keluarga.

Menurut Gol A Gong, keluarga memiliki posisi penting dalam menumbuhkan budaya literasi. Kedekatan emosional antaranggota keluarga menjadi kekuatan yang dapat membuat aktivitas literasi lebih mudah tumbuh dan dirasakan bersama.

“Keluarga literat itu sangat penting karena kedekatan emosional yang terbangun dalam keluarga lebih bisa dirasakan dibandingkan gerakan literasi yang ada di luar, misalnya di sekolah dan masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong peserta SKL untuk memanfaatkan pelatihan tersebut sebagai bekal untuk menghidupkan budaya literasi di lingkungan keluarga.

Menulis Bukan Sekadar Melamun

Dalam diskusi, Gol A Gong juga membagikan pengalamannya sebagai penulis yang telah menulis 200 buku. Salah satu persoalan yang disorotnya adalah masih adanya anggapan bahwa kegiatan menulis hanyalah aktivitas melamun dan tidak memiliki masa depan.

Menurutnya, anggapan tersebut perlu diluruskan dengan menunjukkan bahwa menulis merupakan pekerjaan intelektual yang membutuhkan proses membaca, berpikir, mengamati, dan melakukan riset.

“Menulis itu pekerjaan intelektual. Agar penulis tidak dianggap tukang melamun, maka harus ada riset.”

Duta baca Nasional ini menjelaskan bahwa riset diperlukan baik dalam penulisan fiksi maupun nonfiksi. Ada dua bentuk riset yang dapat dilakukan penulis, yaitu riset pustaka dan riset lapangan. Riset tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip 5W+1H, yakni what, who, when, where, why, dan how. Dari proses riset, penulis kemudian menemukan gagasan yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

“Riset dulu, dari riset itu kita menemukan gagasan, baru kemudian menulis.”

Gol A Gong juga membagikan pengalamannya ketika menggarap skenario film Balada Si Roy. Menurutnya, karya tersebut melalui proses riset yang panjang hingga bertahun-tahun. Pengalaman itu menjadi contoh bahwa karya tulisan membutuhkan proses yang serius, bukan sekadar mengandalkan inspirasi sesaat.

Tips Menulis Autobiografi

Selain berbicara mengenai riset, Gol A Gong memberikan tips kepada peserta yang ingin menulis autobiografi.

Ia menyarankan agar penulis tidak menggurui pembaca. Cerita dapat dibangun dengan menggali memori dan momen-momen menarik dari perjalanan hidup.

Pengalaman pribadi yang sederhana dapat menjadi bahan tulisan yang menarik apabila penulis mampu menemukan sudut pandang dan kedekatan dengan pembaca atau proximity.

Dengan demikian, autobiografi tidak harus berisi seluruh perjalanan hidup secara lengkap. Penulis dapat memilih pengalaman, peristiwa, atau momen tertentu yang memiliki makna dan dapat menyentuh pembaca.

Konsisten Menulis dan Bernilai Ibadah

Gol A Gong juga berpesan agar peserta yang ingin menjadi penulis menjaga konsistensi. Menulis, menurutnya, membutuhkan kebiasaan yang terus dibangun melalui membaca, melakukan riset, menemukan gagasan, dan menuangkannya dalam tulisan.

Penulis yang memiliki nama kecil Heri Hendrayana Harris itu juga mengingatkan agar aktivitas menulis dilandasi dengan ibadah sehingga proses berkarya dapat dijalani dengan lebih nyaman dan memiliki nilai kemanfaatan.

“Jika semua kegiatan menulis dilandasi dengan niat ibadah, maka akan menjadi nyaman,” Ujar penulis yang sudah mengunjungi 27 negara dengan basis perjalanan literasi tersebut.

(Kontributor: Sin-LPPA PDA)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini