Sabtu, Agustus 22, 2026
BerandaAUMKerjasama Dikdasmen  dan LPPM UM Metro Gelar Validasi dan Pelatihan Aplikasi Deteksi...

Kerjasama Dikdasmen  dan LPPM UM Metro Gelar Validasi dan Pelatihan Aplikasi Deteksi Dini Disleksia

METRO — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Metro bersama Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro menyelenggarakan Validasi dan Pelatihan Aplikasi Deteksi Dini Disleksia (3D-i), Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari kerja sama melalui Memorandum of Agreement (MoA) antara LPPM UM Metro dengan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kota Metro tersebut berlangsung di Aula AR. Fachrudin, Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Metro.

Peserta kegiatan terdiri atas 20 guru dari SD/MI Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Kota Metro. Peserta berasal dari SD Muhammadiyah Buya Hamka sebanyak 2 orang, SD Muhammadiyah Metro 4 orang, SD Aisyiyah Metro 3 orang, SD Muhammadiyah Sang Pencerah 4 orang, MI Muhammadiyah Banjarsari 4 orang, dan MI Muhammadiyah Hadimulyo 3 orang.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar dalam mengatasi kesulitan belajar spesifik, khususnya kesulitan membaca. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan Aplikasi Digital Deteksi Dini Disleksia (3D-i) sebagai alat bantu skrining awal bagi guru sekolah dasar.

Dalam panduan aplikasi, 3D-i dijelaskan sebagai aplikasi yang digunakan guru SD untuk melakukan skrining awal disleksia pada siswa. Aplikasi tersebut terdiri atas 13 subtes yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori kemampuan, yaitu Kecepatan Penamaan (Rapid Naming), Kesadaran Fonologi (Phonological Awareness), dan Ingatan Kerja (Working Memory). Hasil aplikasi digunakan sebagai acuan awal dan bukan sebagai diagnosis medis.

Ketua LPPM UM Metro menjelaskan bahwa kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan belajar umum dan kesulitan belajar khusus.

“Kesulitan belajar ada dua, yaitu kesulitan belajar umum dan kesulitan belajar khusus. Kami melalui LPPM UM telah meneliti kesulitan belajar anak secara spesifik dan membuat aplikasi untuk mendeteksi dini disleksia. Jadi kesulitan ini secara spesifik adalah kesulitan membaca.”

Pada kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan penggunaan aplikasi, tetapi juga diminta melakukan penilaian dan validasi terhadap aplikasi 3D-i. Proses tersebut berkaitan dengan pengembangan aplikasi yang saat ini masih berada dalam tahap prototipe dan membutuhkan pengujian lebih lanjut untuk penyempurnaan sistem dan akurasi.

Pelatihan juga mencakup penggunaan aplikasi dalam proses skrining. Dalam pelaksanaannya, guru menjalankan setiap tahapan tes, sementara siswa memberikan respons secara lisan. Aplikasi mencatat jawaban yang keliru dan waktu pelaksanaan pada setiap subtes, kemudian menyajikan hasil setelah seluruh subtes diselesaikan.

Untuk mendukung pelaksanaan skrining, aplikasi 3D-i dirancang untuk digunakan pada perangkat tablet Android. Panduan penggunaan merekomendasikan tablet dengan ukuran layar minimal 9,7 inci agar tampilan grid dan navigasi lebih mudah digunakan.

Setelah mengikuti validasi dan pelatihan, sekolah yang telah siap akan menjadi lokasi untuk menguji aplikasi 3D-i dengan menggunakan perangkat tablet. (VJ)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini