GUNUNG BROMO – Pagi masih gelap. Bahkan azan subuh belum berkumandang ketika deru mesin mobil jip mulai memenuhi kawasan kaki Gunung Bromo, Kamis, 16 Juli 2026. Satu per satu kendaraan bersiap mengantarkan rombongan mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Metro menuju titik-titik destinasi.
Sebagian mahasiswa masih terdiam. Mata mereka belum sepenuhnya terbuka setelah perjalanan panjang semalaman dengan bus. Di antara dinginnya udara pegunungan, suasana base camp mulai hidup. Pedagang menawarkan sarung tangan, penutup kepala, jaket, hingga syal hangat. Semua berlalu-lalang mempersiapkan perjalanan yang sebentar lagi dimulai.
Sebelum matahari menyapa, rombongan singgah di sebuah masjid. Di atas lantai keramik yang terasa begitu dingin, mereka menunaikan salat subuh berjamaah. Tak ada pendingin ruangan, tak ada dinding tinggi yang menahan angin. Hanya udara pegunungan yang bersih, langit yang perlahan berubah warna, dan hati yang mencoba khusyuk di hadapan Sang Pencipta.
Perjalanan ke Bromo ternyata bukan sekadar menikmati panorama. Alam seakan menjadi ruang kelas yang tidak memiliki dinding. Kabut yang perlahan menyingkir, cahaya matahari yang muncul dari balik bukit, hamparan pasir, dan kokohnya pegunungan mengajarkan bahwa keindahan selalu lahir dari keseimbangan.
Di hadapan bentang alam yang begitu megah, manusia terasa kecil. Namun justru dari sanalah manusia belajar tentang kebesaran Tuhan. Alam tidak pernah meminta tepuk tangan atas keindahannya. Ia hanya terus memberi udara untuk dihirup, cahaya untuk menerangi, dan pemandangan yang menenangkan jiwa.
Barangkali, itulah hikmah terbesar dari perjalanan ini. Alam bukan sekadar tempat untuk dikunjungi dan diabadikan dalam foto. Alam adalah amanah. Ia mengajarkan manusia untuk bersyukur saat menikmati, sekaligus bertanggung jawab untuk menjaga.
Karena pada akhirnya, manusia tidak mewarisi bumi dari generasi sebelumnya. Manusialah yang meminjamnya dari generasi yang akan datang. Dan selama alam tetap lestari, ia akan terus menjadi guru yang sabar—mengajarkan keindahan, kerendahan hati, serta kebesaran Allah kepada siapa saja yang mau belajar. (mpi/mu_nu)

