METRO – Suasana khidmat dan penuh kehangatan menyelimuti kegiatan refleksi Milad Pemuda Muhammadiyah ke-94 yang menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman dari berbagai latar belakang. Kegiatan yang berlangsung di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Metro, Sabtu malam (2/5/2026),
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang mengenang perjalanan organisasi, tetapi juga ruang evaluasi terhadap dinamika gerakan Pemuda Muhammadiyah di tengah perubahan zaman.
Salah satu narasumber utama, Slamet Tedy Siswoyo (Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Metro 2 periode 2010–2018), menyoroti fenomena melemahnya eksistensi gerakan yang dirasakan sebagian kader. Ia menilai kondisi tersebut tidak lepas dari perubahan karakter generasi muda saat ini, khususnya generasi milenial dan Gen Z.
“Ini bukan sekadar tantangan, tetapi juga peluang. Pemuda Muhammadiyah harus mampu beradaptasi dan menciptakan pendekatan yang relevan agar tetap menarik bagi generasi muda,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kaderisasi sebagai fondasi utama organisasi. Tanpa kaderisasi yang kuat, menurutnya, gerakan Pemuda Muhammadiyah akan kehilangan arah. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara aktivitas organisasi dan kehidupan pribadi.
“Jangan hanya aktif di organisasi, tapi juga harus adil pada diri sendiri dan keluarga. Aktivis yang baik adalah yang tetap sehat dan bahagia,” pesannya.
Pada sesi kedua, Hj.Anna Morinda menghadirkan perspektif yang lebih luas, dengan menekankan pentingnya keberanian pemuda untuk melampaui capaian generasi sebelumnya.
Ia mencontohkan bagaimana kader Muhammadiyah dimasa lalu mampu melahirkan karya besar seperti pendirian sekolah dan pengembangan amal usaha, meskipun awalnya diragukan.
“Pemuda tidak boleh hanya melihat hari ini. Hari ini adalah ikhtiar, tetapi orientasinya harus jauh ke masa depan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kondisi global yang penuh ketidakpastian, mulai dari tekanan ekonomi hingga meningkatnya angka pengangguran.
Dalam situasi tersebut, pemuda dituntut untuk lebih adaptif, produktif, dan berani mengambil peluang. Menurutnya, sektor strategis seperti pangan dan kesehatan akan menjadi penentu masa depan, dan Muhammadiyah memiliki potensi besar di bidang tersebut.
“Keputusan apapun pasti memiliki risiko. Tapi diam juga berisiko. Maka lebih baik bergerak dan belajar daripada tidak melakukan apa-apa,” tambahnya.
Sementara itu, pada sesi ketiga, Agus Riyanto menutup rangkaian refleksi dengan penekanan pada pentingnya karakter, keteladanan, dan aksi nyata.
Ia menegaskan bahwa pemuda tidak diukur dari usia, melainkan dari kebiasaan dan karakter yang dibentuk dalam proses kehidupan.
“Pemuda itu lahir dari kebiasaan. Kalau sejak muda sudah terbiasa nyaman tanpa proses, maka sesungguhnya yang tua adalah karakternya,” ujarnya.
Ia juga menyebut Pemuda Muhammadiyah sebagai jembatan kaderisasi yang harus menjadi teladan bagi generasi di bawahnya, seperti IPM dan IMM. Oleh karena itu, pemuda dituntut untuk tetap progresif dan tidak terjebak dalam zona nyaman.
Lebih lanjut, Agus menegaskan bahwa harapan dan cita-cita tidak akan berarti tanpa aksi nyata. Ia mengingatkan bahwa banyak gagasan besar yang tidak terwujud karena tidak diikuti langkah konkret di lapangan.
“Harapan tanpa aksi itu kosong. Cita-cita harus diturunkan menjadi gerakan nyata,” tegasnya.
Tanggapan refleksi dari peserta
menutup rangkaian diskusi, Samsul Hadi memberikan tanggapan reflektif yang menyoroti pentingnya semangat juang kader muda dalam menghadapi tantangan masa depan. Ia mengingatkan bahwa para pemimpin Muhammadiyah hari ini lahir dari proses panjang yang penuh perjuangan, bukan hasil instan.
Menurutnya, generasi sebelumnya harus melalui berbagai kesulitan hidup untuk mencapai posisi saat ini. Hal itu menjadi kontras dengan kondisi sebagian pemuda masa kini yang cenderung hidup serba instan, bergantung pada kemudahan teknologi, dan kurang memiliki daya juang.
“Kalau hari ini pemuda tidak mau berjuang keras, maka 20–30 tahun ke depan kita akan melihat dampaknya. Bisa jadi amal usaha Muhammadiyah yang besar hari ini tidak mampu bertahan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian kader muda yang lebih mempertimbangkan hasil dibanding proses, sehingga kurang siap menghadapi tantangan berat.
Padahal, menurutnya, keberhasilan tidak bisa dilepaskan dari kerja keras, ketekunan, dan pengorbanan.
Samsul Hadi mengajak seluruh kader muda untuk mulai membangun mentalitas pejuang sejak sekarang. Ia menegaskan bahwa masa depan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya hari ini.
“Kalau pemudanya malas dan tidak mau berjuang, maka kita tinggal menunggu waktu. Tapi kalau hari ini mereka siap ditempa, maka masa depan Muhammadiyah akan tetap kuat,” pesannya.

Sementara itu, Harbi Gemeli Putra juga menambahkan perspektif dari sudut pandang kader muda yang sedang berproses. Ia mengungkapkan bahwa refleksi ini menghadirkan dua rasa sekaligus: optimisme dan kegelisahan. Baginya, perasaan tersebut justru menjadi tanda bahwa kader masih peduli terhadap masa depan organisasi.
Ia membagikan pengalamannya yang aktif di bidang sosial dan pemberdayaan masjid, yang sering kali harus dimulai dari langkah kecil bahkan berjalan sendiri. Dalam proses tersebut, ia merasakan bahwa menjaga konsistensi dan nalar sebagai aktivis merupakan hal yang tidak mudah.
“Menjadi aktivis itu harus menjaga nalar agar tidak tumpul, di manapun berada, bahkan ketika harus berjalan sendiri,” ungkapnya.
Harbi juga menekankan pentingnya membangun jejaring dan kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan berbagai pihak di luar organisasi. Namun, ia mengingatkan agar kader tetap berhati-hati dalam menentukan arah gerakan, khususnya saat bersentuhan dengan kepentingan politik dan kekuatan eksternal.
Ia pun merefleksikan arah gerak yang sedang ditempuhnya, apakah cukup fokus pada ranah sosial dan masjid, atau perlu memperluas kiprah ke bidang yang lebih strategis. Pertanyaan tersebut menjadi cerminan kegelisahan sekaligus proses pencarian jati diri kader muda Muhammadiyah hari ini.
Refleksi Milad Pemuda Muhammadiyah ke-94 ini, menjadi momentum penting bagi Pemuda Muhammadiyah untuk meneguhkan kembali peran strategisnya sebagai motor penggerak perubahan. Dengan penguatan kaderisasi, keberanian menghadapi tantangan zaman, serta konsistensi dalam aksi nyata, Pemuda Muhammadiyah diharapkan mampu melampaui capaian masa lalu dan memberikan kontribusi lebih besar bagi umat dan bangsa.
(Guswir)

