Minggu, April 26, 2026
BerandaAUMProf. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Usung Transformasi Pendidikan...

Prof. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Usung Transformasi Pendidikan Berbasis Nilai dan IPTEK

METRO — Suasana khidmat menyelimuti Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Muhammadiyah Metro tahun 2026. Dalam momentum akademik tersebut, Muhammad Ihsan Dacholfany resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Manajemen Pendidikan, sebuah capaian tertinggi yang menandai puncak perjalanan panjang pengabdian, keilmuan, dan dedikasinya di dunia pendidikan tinggi. Prosesi berlangsung di Wisma Al Khairiyah Metro, Sabtu, 25/4/2026.

Pengukuhan ini menjadi bagian dari sidang terbuka senat akademik yang juga mengukuhkan sejumlah guru besar lainnya, sebagai bentuk penguatan kapasitas akademik kampus dalam menjawab tantangan pendidikan di masa depan.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof.Ihsan menegaskan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan ruang refleksi atas perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Ia mengisahkan masa kecilnya di Palembang, tempat ia lahir pada 29 Juli 1975, tumbuh dalam kesederhanaan, dan sejak dini telah terbiasa bekerja keras, berjualan es dari rumah ke rumah hingga membantu aktivitas ekonomi di sekitar masjid.

Dari profil yang di tayangkan bahwa, pada masa kecilnya, saat libur akhir pekan, ia kerap diam-diam menyemir sepatu di sejumlah restoran di sekitar Masjid Agung Palembang.

Dari pengalaman sederhana itu, ia belajar tentang kerja keras, kemandirian, dan melihat langsung kehidupan orang-orang yang telah lebih dahulu berhasil, yang kemudian menumbuhkan tekad kuat untuk mengubah masa depannya melalui pendidikan.

“Perjalanan ini tidak instan. Ia ditempa oleh keterbatasan, tetapi justru dari situlah saya belajar arti ketekunan dan harapan,” ungkapnya.

Langkah-langkah kecil itu kemudian membawanya menapaki dunia pendidikan dengan kesungguhan. Ia menempuh perjalanan intelektual melalui berbagai institusi pendidikan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Kiprahnya meluas hingga forum-forum ilmiah internasional di Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, hingga kawasan Timur Tengah. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya bahwa pendidikan harus maju secara teknologi, sekaligus kokoh dalam nilai.

Lebih lanjut, keterlibatannya dalam Muhammadiyah, turut memperkuat dimensi intelektual dan spiritualnya. Ia aktif mendorong pengembangan pendidikan berbasis nilai keislaman yang berkemajuan, menjadikan ilmu bukan sekadar alat kecerdasan, tetapi juga sarana pengabdian.

Dalam orasi berjudul “Transformasi Manajemen Pendidikan Berdampak Berbasis Nilai dan IPTEK: Tantangan dan Peluang dalam Persaingan Global,” Prof. Ihsan menyoroti kompleksitas dunia pendidikan di era globalisasi dan revolusi teknologi.

Ia menegaskan bahwa pendidikan berada pada persimpangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan tantangan nilai global yang tidak selalu selaras dengan jati diri bangsa.

Menurutnya, pendidikan harus menjadi benteng moral sekaligus motor perubahan sosial.

“Pendidikan bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi merupakan jantung peradaban yang membentuk karakter, etika, dan masa depan manusia,” tegasnya.

Ia menekankan perlunya perubahan paradigma dalam manajemen pendidikan. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan unggul secara akademik, tetapi juga harus melahirkan individu berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial. Transformasi pendidikan, menurutnya, harus bergerak dari sekadar output menuju outcome yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Dalam paparannya, ia menguraikan dua dimensi utama transformasi tersebut. Pertama, penguatan literasi digital yang tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga mencakup etika, tanggung jawab, serta kesadaran dalam penggunaan teknologi. Kedua, integrasi nilai moral dan spiritual dalam seluruh proses pembelajaran, sehingga kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai kemanusiaan.

Namun, ia juga mengakui bahwa transformasi ini menghadapi tantangan serius, terutama ketimpangan antara pesatnya adopsi teknologi dengan penguatan nilai dan etika.

“Jika tidak seimbang, pendidikan akan kehilangan arah. Teknologi berkembang, tetapi nilai bisa tertinggal,” ujarnya.

Lebih jauh, Prof. Ihsan menegaskan peran strategis dosen sebagai aktor utama perubahan. Dosen tidak hanya dituntut menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi teladan dalam menanamkan nilai, membimbing karakter, serta membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap dinamika global.

Dalam konteks manajemen pendidikan, ia mendorong sistem yang lebih adaptif dan berdampak. Perguruan tinggi harus berorientasi pada kebermanfaatan nyata bagi masyarakat. Riset tidak boleh berhenti pada publikasi, tetapi harus mampu menjawab persoalan sosial. Kebijakan pendidikan harus responsif terhadap perubahan zaman, dan tata kelola institusi harus berbasis nilai serta keberlanjutan.

“Transformasi pendidikan harus menghasilkan dampak nyata, bukan hanya angka dan laporan, tetapi perubahan yang dirasakan masyarakat,” tegasnya kembali.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi antara IPTEK dan nilai dalam membentuk generasi masa depan. Pendidikan abad ke-21, menurutnya, harus mampu melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana, berempati, dan mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan.

Dalam perspektif keislaman, Prof. Ihsan menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan selaras dengan moralitas dan spiritualitas. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Metro, Nyoto Suseno, menyampaikan bahwa penambahan guru besar merupakan langkah strategis dalam memperkuat sumber daya manusia di perguruan tinggi.

“Dengan bertambahnya guru besar, diharapkan kampus mampu menjadi pusat keunggulan yang tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan nasional,” ujarnya.

Pengukuhan ini menjadi simbol harapan baru bagi kemajuan pendidikan tinggi, khususnya di Metro dan sekitarnya. Sosok Prof. Ihsan diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi dalam manajemen pendidikan yang lebih adaptif, berkarakter, dan berdampak luas.

Bagi Prof. Ihsan, capaian ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Gelar profesor dipandang sebagai amanah untuk terus berkarya, membimbing generasi, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat dan masyarakat.

Dalam refleksinya, ia menegaskan bahwa seluruh perjalanan hidupnya, dari menyemir sepatu, berjualan es, hingga berdiri sebagai profesor, adalah bukti nyata bahwa pendidikan memiliki kekuatan untuk mengubah arah kehidupan.

Dengan latar belakang perjuangan yang kuat, pengalaman akademik yang luas, serta gagasan pemikiran yang terus berkembang, ia meyakini bahwa pendidikan adalah jalan transformasi.

“Dari apa yang saya jalani, saya percaya bahwa pendidikan mampu membawa seseorang dari keterbatasan menuju kebermanfaatan, dari mimpi menjadi kenyataan, dan dari ilmu menuju peradaban,” pungkasnya.

Ditulis oleh: Guswir (Jurnalis)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini