Rabu, Februari 11, 2026
BerandaBeritaSurah Al-‘Ashr Jadi Cermin Diri, Abdul Mu’ti Ajak Umat Evaluasi Kualitas Hidup

Surah Al-‘Ashr Jadi Cermin Diri, Abdul Mu’ti Ajak Umat Evaluasi Kualitas Hidup

Lhokseumawe-Di tengah rutinitas ibadah yang kerap dijalani secara formal, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, mengingatkan pentingnya menjadikan agama sebagai cermin kualitas hidup, bukan sekadar simbol kesalehan.

Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi Kuliah Subuh di Masjid Baiturrahman, Kota Lhokseumawe, Jumat (30/1/2026).

Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Surah Al-‘Ashr memberikan peta jalan yang jelas tentang manusia yang beruntung dan manusia yang berada dalam kerugian.

Menurut Abdul Mu’ti, Al-‘Ashr tidak hanya berbicara tentang waktu, tetapi juga tentang kualitas iman, amal, dan tanggung jawab sosial manusia.

Dari surah tersebut, ia menguraikan adanya empat tipe manusia yang dapat dikenali dari sikap dan dampak kehadirannya bagi lingkungan sekitar.

Tipe pertama adalah mufsid, yakni manusia yang mengalami kerusakan iman dan akhlak serta gemar menebar kerusakan. Mereka memiliki sifat sebagaimana orang munafik: berkata dusta, ingkar janji, dan tidak amanah.

“Mereka merasa pintar menipu orang lain, padahal sedang menipu dirinya sendiri,” ujarnya.

Tipe kedua adalah muflis, yaitu orang yang tampak taat secara ritual dan rajin shalat, zakat, bahkan berhaji namun dalam kehidupan sosial justru sering menyakiti orang lain. Lisannya tajam, perilakunya merugikan, dan tidak jarang terlibat dalam praktik kezaliman seperti korupsi.

“Di mata manusia terlihat saleh, tetapi di akhirat justru bangkrut,” kata Abdul Mu’ti. Ia mengingatkan bahwa iri, dengki, dan gemar mencari kesalahan orang lain dapat menghapus nilai ibadah.

Tipe ketiga adalah muslih, yakni manusia yang menghadirkan kebaikan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Inilah kelompok manusia yang disebut beruntung dalam Surah Al-‘Ashr karena mampu menyatukan iman dan amal shalih.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kesalehan personal saja tidak cukup. Menurutnya, iman harus melahirkan amal yang berdampak sosial. “Iman memberi arah, amal menjadi bukti,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa amal shalih memiliki empat unsur utama, yakni niat yang ikhlas karena Allah, dilakukan dengan cara yang sesuai syariat, membawa maslahat bagi sesama, serta bersifat ishlah atau menghadirkan perbaikan.

Tipe keempat adalah muhsin, yaitu manusia yang berada di atas tingkat muslih. Jika muslih berbuat baik, maka muhsin menghadirkan kebaikan dengan kualitas terbaik dan penuh kesungguhan.

“Berbuat baik tidak boleh setengah-setengah. Harus optimal dan unggul,” tegas Abdul Mu’ti. Ia menambahkan bahwa umat Islam tidak cukup hanya dikenal sebagai umat yang baik, tetapi harus menjadi umat yang unggul dalam iman, amal, dan kontribusi sosial.

Mengakhiri tausiyahnya, Abdul Mu’ti mengajak jamaah untuk terus melakukan evaluasi diri agar tidak terjebak dalam kelompok manusia yang merugi, melainkan menjadi muslih dan muhsin yang kehadirannya membawa manfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. (Red)

Penulis: Azrohal Hasan
Editor: Guswir

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini