Minggu, April 26, 2026
BerandaAUMMenapaktilasi Akar Sejarah Muhammadiyah Metro di Masa Kolonial

Menapaktilasi Akar Sejarah Muhammadiyah Metro di Masa Kolonial

Metro, Lampung-(14/12/25) Upaya merawat ingatan sejarah Persyarikatan kembali dilakukan melalui kegiatan penelusuran jejak awal Muhammadiyah di Kota Metro. Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan MPI PWM Lampung mengajak peserta pelatihan penulisan sejarah menapaktilasi fase awal berdirinya Muhammadiyah pada masa kolonial.

Kegiatan penelusuran dipandu oleh tim Metro Walking Tour yang diketuai Aditya Nur Rahman. Titik awal penelusuran dimulai dari Mushola Al Wustho yang terletak di Jalan Diponegoro No. 45, Kelurahan Imopuro, Kecamatan Metro Pusat. Mushola ini menjadi salah satu simpul penting dakwah Muhammadiyah pada fase awal perkembangannya di Metro.

Aditya Nur Rahman menjelaskan bahwa di balik keberadaan Mushola Al Wustho terdapat peran Muhammad Asrof, tokoh perintis Muhammadiyah di Metro. Dalam catatan akademik yang ditelusuri oleh mahasiswa sejarah Universitas Muhammadiyah Metro, tokoh tersebut tercatat dengan nama Muhammad Asjrof. Muhammad Asrof dikenal sebagai figur yang menghidupkan mushola tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat penguatan dakwah dan pendidikan Islam.

Pada masanya, Mushola Al Wustho menjadi ruang belajar masyarakat sekitar. Kegiatan mengaji rutin dilaksanakan setiap ba’da Maghrib hingga Isya. Selain pembinaan keilmuan, pembentukan karakter dan ketahanan fisik jamaah, khususnya kalangan muda, juga dilakukan melalui kegiatan pencak silat. Praktik ini mencerminkan ikhtiar dakwah Muhammadiyah yang menyentuh dimensi spiritual, intelektual, dan sosial secara terpadu.

Tim Heritage PP Muhammadiyah kemudian menelusuri jejak artefak peninggalan awal Mushola Al Wustho. Berdasarkan keterangan keluarga Muhammad Asrof, hanya sedikit artefak yang masih dapat dilacak, salah satunya beduk yang kini disimpan di Masjid An-Nur Way Halim, Bandar Lampung. Keterbatasan artefak tersebut justru menegaskan pentingnya upaya pendokumentasian sejarah Muhammadiyah secara lebih serius dan berkelanjutan.

Penelusuran sejarah berlanjut ke Kompleks Perguruan Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Metro. Di tempat ini tersimpan catatan berdirinya HIS Muhammadiyah yang kemudian menjadi embrio lahirnya berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan. Dari sinilah berkembang TK ABA, SD Muhammadiyah, MTs Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah, hingga MA Muhammadiyah yang hingga kini terus berkhidmat bagi umat dan bangsa.

Rangkaian kegiatan juga mengantarkan peserta ke Kompleks Panti Asuhan Budi Utomo. Pada fase awal berdirinya, panti asuhan ini sempat dikelola melalui kerja sama Muhammad Asrof dengan tokoh-tokoh Masyumi. Seiring perubahan fokus perjuangan tokoh Masyumi ke ranah politik, pengelolaan panti asuhan kemudian dilanjutkan sepenuhnya oleh Muhammadiyah dan berkembang sebagai amal sosial Persyarikatan di Kota Metro.

Pada sesi penutup, Tim Heritage Muhammadiyah memberikan pembekalan terkait teknik pengumpulan dan pendokumentasian artefak sejarah. Para peserta diperkenalkan pada penggunaan alat bantu tradisional dan modern guna mendukung proses inventarisasi peninggalan sejarah secara sistematis dan akurat. (SH)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini