METRO-Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro melalui Majelis Tabligh menyelenggarakan pengajian rutin khusus bagi pimpinan persyarikatan, pimpinan amal usaha, dan unsur pembantu pimpinan. Berbeda dari biasanya yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah, kali ini kajian dilaksanakan di Komplek Edupark, Ahad (7/9/2025).
Mengusung tema “Wajah Baru Peradaban Muhammadiyah Kota Metro”, kajian menghadirkan Dr. Mukhtar, M.Si., Wakil Ketua PDM Kota Metro, sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, Mukhtar Hadi menekankan pentingnya kehati-hatian dalam berkomunikasi di era digital. “Fenomena saat ini menuntut kita untuk mawas diri dan introspeksi. Banyak masalah timbul karena cara berkomunikasi. Kita harus berhati-hati dalam berbicara maupun menyampaikan sesuatu,” ujarnya.
Ia menambahkan, apa yang diposting atau diunggah di media sosial, baik berupa ucapan, tulisan, gambar, maupun video, merupakan bentuk komunikasi yang dapat berdampak luas. Mukhtar juga menyinggung maraknya fenomena deepfake yang kerap digunakan untuk menyebarkan informasi palsu. “Orang yang tidak tahu bisa menganggap sesuatu yang palsu sebagai kebenaran. Deepfake sering dipakai untuk menghancurkan, menyerang, bahkan menjatuhkan figur atau lawan politik,” jelas Direktur Pascasarjana UIN Metro ini.
Mukhtar mengingatkan warga Muhammadiyah agar selalu bijak dalam menggunakan media sosial. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” Pesan tersebut juga diperkuat dengan Surat An-Nur ayat 19 tentang ancaman azab bagi orang-orang yang suka menyebarkan berita bohong. “Memilih diksi dan kalimat di era sekarang ini menjadi sangat penting,” tegasnya.
Berbicara tentang tema peradaban, Mukhtar menyinggung kembali sejarah K.H. Ahmad Dahlan. Pada awal pendirian Muhammadiyah, Kiai Dahlan prihatin melihat umat Islam yang mundur dan dijajah oleh bangsa Portugis serta Belanda yang jumlahnya jauh lebih sedikit. “Islam mengajarkan kemajuan, semangat bekerja, kebersihan, dan pendidikan. Kiai Dahlan mengawali perjuangannya dengan mengumpulkan anak-anak terlantar. Dari situlah Muhammadiyah terus bergerak mengimplementasikan ajaran Islam,” paparnya.
Lebih lanjut, Mukhtar Hadi memaparkan lima pilar dalam membangun peradaban besar sebagai referensi yang akan dikembangkan Muhammadiyah di Edupark Metro, yaitu:
- Memiliki sistem religi atau kepercayaan yang kuat.
- Sistem pengetahuan dengan tradisi belajar, riset, dan sekolah yang maju.
- Sistem sosial yang tertata, pemerintahan yang kuat, tidak korup, serta mampu melayani dan menyejahterakan masyarakat.
- Sistem ekonomi yang berkembang sehingga masyarakat hidup sejahtera dan berada di atas garis kemiskinan.
- Sistem teknologi dan peralatan hidup yang mendukung kemajuan.
Di akhir kajian, Mukhtar menekankan bahwa pembangunan tidak boleh hanya sebatas fisik. “Kalau tidak ditopang dengan ilmu pengetahuan, pembangunan hanya akan menjadi onggokan bangunan tanpa makna,” pungkasnya. (guswir/ims)

