METRO-Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro memaparkan rencana pendirian Museum Muhammadiyah dihadapan pleno PDM Kota Metro. Gagasan tersebut disambut positif oleh pimpinan PDM sebagai langkah maju dalam upaya pelestarian sejarah dan peradaban Muhammadiyah di wilayah Lampung. Ahad, 27 Juli 2025.
Kian Amboro anggota MPI sekaligus dosen Sejarah UM Metro memaparkan hasil kunjungan ke tiga museum sebagai bahan studi awal pendahaluan, yaitu Museum Muhammadiyah UAD Yogyakarta, Museum Pers Nasional di Surakarta, dan Museum Perkebalan Sargede di Sragen.
“Sedikit berbeda dengan museum yang telah kami kunjungi, museum yang akan kita rintis ini memiliki empat fungsi sekaligus: sebagai layanan edukasi pengunjung di ruang pameran tetap (bermedia interaktif digital, display koleksi artefak, dan diorama museum), layanan edukasi pengunjung di ruang pemutaran film edukasi; layanan arsip muhammadiyah (fungsi riset); dan layananpustakamuhammadiyah(fungsi riset),” terangnya.
Lebih jauh aktifis pegiat sejarah ini mentargetkan dalam kurun waktu 3 tahun museum diupayakan untuk diealisasikan. “Tahapannya yang akan kita lakukan sampai akhir tahun ini menyelesaikan semua perencanaan, kemudian tahun kedua pengumpulan benda-benda dan dokumen yang memiliki nilai sejarah.
Wakil Ketua PDM Kota Metro yang membidangi Majelis Pustaka dan Informasi, Dr. Mukhtar Hadi, M.Si., menyampaikan bahwa museum adalah bentuk kesadaran kolektif atas pentingnya sejarah. “Museum ini adalah gagasan yang perlu diapresiasi, karena menjadi bagian dari peradaban tinggi. Ini bukan lagi soal apa yang sedang kita kerjakan, tapi tentang apa yang telah kita lakukan dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.
Mukhtar juga mengapresiasi tahapan perencanaan yang telah disiapkan. Ia berharap museum yang akan dibangun nantinya tidak hanya menghadirkan kenyamanan, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif dan historis bagi masyarakat, terutama generasi muda. “Kalau bisa diwujudkan, museum ini akan menjadi pusat pengetahuan sekaligus destinasi sejarah Muhammadiyah di tingkat lokal maupun provinsi,” tambahnya.
Senada dengan itu, Ketua PDM Kota Metro, Kustono, S.Ag., dalam tanggapannya menekankan bahwa museum ini akan melengkapi pembangunan kawasan strategis Edupark Muhammadiyah di Kota Metro. Ia mengungkapkan bahwa saat ini telah tersedia lahan sekitar tiga hektar yang juga sedang dalam proses pembangunan masjid besar, auditorium, serta gedung lansia milik Aisyiyah.
“Kawasan ini menjadi satu kompleks terpadu, maka konsep pengembangan kawasan ini harus terintegrasi,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa rencana pengembangan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah penyelesaian pembangunan masjid hingga 70–80%, kemudian dilanjutkan pembangunan auditorium dan museum. Menurutnya, museum akan menjadi bagian dari destinasi wisata Muhammadiyah di Lampung. “Kami ingin museum ini tidak biasa-biasa saja. Harus unik dan mampu membekas di hati pengunjung. Tidak seperti masuk museum lalu pulang tanpa kesan,” ujarnya.
Sementara itu, Bendahara PDM Kota Metro, Bambang STS, A.Ag., turut menyatakan dukungannya terhadap rencana ini. Ia menilai museum Muhammadiyah Metro akan menjadi tonggak sejarah penting bagi persyarikatan. “Kalau ini terwujud, akan menjadi sejarah baru. Di saat yang lain belum mulai, Muhammadiyah sudah berpikir dan bekerja,” ujarnya.
Bambang juga menyoroti pentingnya desain dan konsep museum yang menarik. Ia mengusulkan agar museum tidak hanya menjadi ruang pajang dokumen sejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang menginspirasi. “Kompleks Muhammadiyah ke depan harus jadi kawasan peradaban baru, bukan hanya untuk warga Muhammadiyah, tapi juga masyarakat Metro secara luas,” tambahnya.
Dalam diskusi tersebut juga mengemuka bahwa lokasi pembangunan museum akan diintegrasikan dengan fasilitas lain seperti penginapan, arena olahraga, dan pusat kegiatan. Hal ini diharapkan dapat mendorong kawasan tersebut menjadi sentra kegiatan dakwah, pendidikan, dan wisata religi yang representatif. (ims)

