Minggu, Agustus 23, 2026
BerandaArtikelMeneguhkan Inklusivitas, Mewujudkan Pelajar Unggul Berkarya

Meneguhkan Inklusivitas, Mewujudkan Pelajar Unggul Berkarya

(Catatan Reflektif dari Pelantikan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Lampung)

Penulis: Dr. Hasbullah, M. Pd. I.
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Lampung
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu

Pelantikan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Lampung pada 22 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir Kota Metro bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ia harus dibaca sebagai momentum untuk bertanya lebih jauh: ke mana sesungguhnya IPM Lampung hendak membawa generasi pelajar di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kompleks, dan penuh ketidakpastian?

Tema “Meneguhkan Inklusivitas, Mewujudkan Pelajar Unggul Berkarya” mengandung pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar slogan pelantikan. Di dalamnya terdapat dua agenda penting: membuka ruang seluas-luasnya bagi setiap pelajar untuk tumbuh dan memastikan ruang tersebut menghasilkan manusia yang memiliki kompetensi, karakter, gagasan, dan karya. Sebab organisasi yang hanya mampu mengumpulkan orang belum tentu mampu membangun peradaban.

Inklusivitas harus menjadi keberanian untuk membuka pintu IPM selebar-lebarnya. Jangan sampai organisasi pelajar hanya menjadi rumah bagi mereka yang sudah percaya diri, memiliki kemampuan berbicara, aktif dalam forum, atau memiliki pengalaman organisasi. IPM justru harus menjadi tempat bagi mereka yang belum menemukan ruang, belum berani bersuara, bahkan belum yakin dengan potensi dirinya.

Di sinilah IPM perlu melakukan introspeksi. Apakah setiap pelajar merasa bahwa IPM adalah rumahnya? Ataukah masih ada jarak antara organisasi dengan pelajar yang berada di luar lingkaran aktivisme? Jika IPM ingin meneguhkan inklusivitas, maka ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa banyak kader yang hadir dalam acara, tetapi seberapa banyak pelajar yang merasa dihargai, didengar, diberdayakan, dan diberikan kesempatan untuk berkembang.

Inklusivitas juga bukan berarti menghilangkan identitas. IPM tetap harus kokoh sebagai gerakan pelajar Muhammadiyah yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan ideologi Muhammadiyah. Justru identitas yang kuat memungkinkan organisasi bersikap terbuka tanpa kehilangan arah. Terbuka terhadap gagasan baru, perkembangan teknologi, perbedaan latar belakang, dan perubahan sosial, tetapi tetap memiliki kompas moral dan spiritual.

Kita sedang hidup dalam zaman ketika generasi muda memiliki akses informasi yang luar biasa luas. Pelajar hari ini dapat belajar dari siapa saja dan dari mana saja. Karena itu, IPM tidak boleh menawarkan pola kaderisasi yang hanya mengulang apa yang dilakukan generasi sebelumnya. Tradisi baik harus dipertahankan, tetapi cara berpikir harus terus diperbarui. Tajdid dalam gerakan pelajar berarti berani memperbarui metode tanpa kehilangan nilai.

Pelantikan tidak boleh berhenti pada pengucapan ikrar dan penyerahan amanah. Setelah prosesi selesai, pertanyaan yang lebih penting justru dimulai: apa yang akan dilakukan setelah semua atribut kepemimpinan dikenakan? Sebab kepemimpinan bukan tentang bagaimana seseorang terlihat setelah dilantik, melainkan tentang perubahan apa yang mampu ia hadirkan setelah menerima amanah.

IPM Lampung membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya pandai mengelola agenda, tetapi mampu membaca zaman. Kepemimpinan yang tidak sekadar sibuk dengan rapat, surat-menyurat, dan seremoni, tetapi mampu menemukan persoalan nyata yang dihadapi pelajar. Perundungan, kecanduan gawai, krisis literasi, tekanan sosial, kesenjangan akses pendidikan, kekerasan digital, hingga kegelisahan tentang masa depan adalah persoalan yang harus masuk dalam radar gerakan.

Karena itu, pelajar unggul tidak boleh didefinisikan hanya melalui prestasi akademik. Pelajar unggul adalah mereka yang mampu berpikir kritis, memiliki karakter, mampu beradaptasi, memiliki kepedulian sosial, menguasai teknologi, dan mampu menghasilkan karya. Nilai rapor penting, tetapi keberanian menghadapi persoalan kehidupan jauh lebih menentukan.

IPM harus menggeser orientasi dari “kader yang aktif” menjadi “kader yang berdampak.” Aktif mengikuti kegiatan adalah permulaan. Namun, setelah kegiatan selesai, apa yang lahir? Apakah ada tulisan? Apakah ada riset? Apakah ada inovasi? Apakah ada gerakan sosial? Apakah ada perubahan perilaku? Jika tidak, jangan-jangan kita hanya sedang memproduksi kesibukan yang diberi nama gerakan.

Kritik ini penting agar IPM tidak terjebak dalam budaya seremonial. Organisasi pelajar tidak boleh mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya kegiatan, foto dokumentasi, atau panjangnya laporan pertanggungjawaban. Ukuran yang lebih substantif adalah dampak. Berapa banyak pelajar yang tercerahkan? Berapa banyak potensi yang tumbuh? Berapa banyak persoalan yang diselesaikan? Berapa banyak karya yang lahir?

Maka, budaya berkarya harus ditempatkan sebagai jantung gerakan. Pelajar Muhammadiyah harus didorong untuk menulis, membaca, meneliti, menciptakan konten edukatif, membangun kewirausahaan, mengembangkan teknologi, menginisiasi gerakan lingkungan, dan menciptakan berbagai inovasi sosial. Jangan sampai generasi yang hidup di tengah revolusi digital hanya menjadi konsumen konten.

IPM Lampung memiliki peluang besar untuk menjadi laboratorium kreativitas pelajar. Lampung bukan sekadar wilayah administratif; ia adalah ruang sosial yang memiliki beragam persoalan sekaligus potensi. Dari sekolah, pesantren, madrasah, desa, hingga ruang digital, semuanya dapat menjadi laboratorium pembelajaran. Kader IPM harus belajar membaca realitas sebelum menentukan gerakan.

Bertempat di Pondok Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir Kota Metro, momentum pelantikan ini juga mengingatkan bahwa pendidikan dan gerakan tidak boleh dipisahkan. Pesantren, sekolah, madrasah, dan organisasi pelajar harus menjadi ekosistem yang saling menguatkan. Pelajar tidak cukup hanya dididik untuk lulus ujian; mereka harus dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan.

Karena itu, kaderisasi IPM harus keluar dari model yang terlalu menempatkan kader sebagai objek. Pelajar bukan gelas kosong yang hanya menunggu diisi oleh senior. Mereka memiliki pengalaman, kreativitas, pertanyaan, bahkan kegelisahan yang harus dihargai. Tugas organisasi bukan mematikan pertanyaan, melainkan mengubah pertanyaan menjadi energi intelektual dan gerakan.

Kepemimpinan baru PW IPM Lampung juga perlu membangun ruang dialog antargenerasi. Senior memiliki pengalaman, generasi muda memiliki perspektif baru. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yang diperlukan adalah tradisi saling belajar. Sebab organisasi yang terlalu bergantung pada pengalaman masa lalu akan kehilangan kemampuan membaca masa depan.

Inklusivitas akhirnya harus masuk ke dalam praktik kepemimpinan. Jangan ada kader yang merasa hanya menjadi pelengkap. Jangan ada potensi yang mati karena tidak pernah diberi kesempatan. Jangan ada gagasan yang ditolak hanya karena datang dari orang yang belum memiliki jabatan. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menemukan pemimpin bahkan dari mereka yang hari ini belum dianggap penting.

Pada saat yang sama, pelajar unggul harus memiliki keberanian moral. Dunia membutuhkan generasi yang tidak mudah mengikuti arus. Kader IPM harus mampu mengatakan benar ketika sesuatu benar dan salah ketika sesuatu salah. Mereka harus memiliki keberanian untuk kritis terhadap ketidakadilan, tetapi tetap santun dalam menyampaikan kritik. Inilah karakter pelajar yang tidak hanya cerdas, tetapi beradab.

IPM tidak boleh menjadi organisasi yang sibuk membicarakan masa depan tetapi lupa membaca kegelisahan pelajar hari ini. Gerakan harus hadir di ruang-ruang kehidupan nyata. Di kelas, di pesantren, di sekolah, di media sosial, di lingkungan masyarakat, bahkan di ruang-ruang tempat pelajar sedang mengalami kebingungan. Di sanalah inklusivitas menemukan maknanya.

Pelantikan PW IPM Lampung dengan demikian harus menjadi awal dari sebuah kontrak moral. Amanah kepemimpinan bukan fasilitas untuk mendapatkan pengakuan, tetapi tanggung jawab untuk membuka jalan bagi orang lain. Jabatan bukan puncak perjalanan kader, melainkan pintu untuk memperluas manfaat. Semakin tinggi posisi kepemimpinan, semakin besar pula kewajiban untuk memastikan tidak ada pelajar yang tertinggal.

Akhirnya, “Meneguhkan Inklusivitas, Mewujudkan Pelajar Unggul Berkarya” harus menjadi lebih dari tema sebuah pelantikan. Ia harus menjadi paradigma baru IPM Lampung: inklusif dalam merangkul, kritis dalam berpikir, kuat dalam nilai, unggul dalam kompetensi, dan nyata dalam berkarya. Pelantikan pada 22 Agustus 2026 di Kota Metro hendaknya tidak dikenang hanya sebagai hari ketika pengurus dilantik. Tetapi sebagai momentum IPM Lampung berani menegaskan kembali bahwa masa depan Muhammadiyah, umat, dan bangsa tidak cukup diwariskan kepada generasi muda. Namun masa depan itu harus mereka siapkan, perjuangkan, dan ciptakan dengan ilmu, akhlak, keberanian, dan karya.

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini