Penceramah: Dr. Anwar Abbas
Laporan: Guswir (Jurnalis Muhammadiyah)
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ahad pagi, 26 April 2026, Masjid Amir Hamzah Edupark 29 Kota Metro dipenuhi jamaah dari berbagai penjuru Lampung. Sejak pagi, arus kendaraan terus mengalir dari Trimurjo, Punggur, Pekalongan, Batanghari, hingga wilayah Metro Selatan. Meski bangunan masjid masih sederhana dan belum sepenuhnya rampung, justru dari kesederhanaan itu tumbuh kekuatan besar: semangat, harapan, dan rasa memiliki yang menyatu.
Tabligh Akbar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro ini menjadi ruang perjumpaan besar. Hadir jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung, PDM se-Lampung, Aisyiyah, para tokoh masyarakat, pimpinan amal usaha, direktur rumah sakit Muhammadiyah, serta berbagai unsur persyarikatan dari banyak daerah. Tampak pula tokoh-tokoh seperti H. Lukman Hakim, H. Qomaru Zaman, Mbah Daud Siddiq, Direktur Edupark, dan banyak nama lain yang menyatu dalam suasana kebersamaan yang hangat.

Dalam sambutan awal, Ketua PDM Kota Metro, H. Kustono, menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat, bahwa bangunan mungkin belum selesai, tetapi semangat harus sudah utuh. Kalimat itu menjadi penanda bahwa yang dibangun bukan sekadar masjid, tetapi juga masa depan.
Dari wakif, H. Tismayeti (Uni Titis) bersama H.Adri menegaskan bahwa kesederhanaan tidak menjadi halangan. Duduk lesehan tidak masalah, yang penting hati tetap bersih.
Ia juga menyampaikan visi bahwa kawasan ini kelak dapat menjadi pusat peradaban baru, lengkap dengan aktivitas ekonomi hingga destinasi wisata religi.
Dalam sambutan PWM Lampung, disampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran PDM, PDA, para ketua amal usaha, serta para tokoh yang hadir dari berbagai kabupaten/kota. Ia menyampaikan permohonan maaf dari Ketua PWM Lampung yang berhalangan hadir karena agenda lain yang sudah terjadwal sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran jamaah dari berbagai daerah menunjukkan betapa luas dan kuatnya jaringan Muhammadiyah di Lampung. Bahkan menurutnya, jika setiap daerah hanya mengirim sedikit perwakilan saja, maka sudah terlihat betapa besar kekuatan persyarikatan ini.
PWM Lampung juga menyampaikan apresiasi atas meningkatnya gerakan wakaf dalam dua tahun terakhir. Berbagai aset mulai dari lahan, pesantren, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan terus bertambah, bahkan berasal dari berbagai kalangan, termasuk yang bukan warga Muhammadiyah.
Hal ini, menurutnya, menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang semakin kuat terhadap Muhammadiyah.
Ia menegaskan bahwa setiap wakaf yang diterima bukan hanya aset fisik, tetapi amanah besar yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.
“Ketika sudah diserahkan kepada Muhammadiyah, maka itu menjadi milik umat yang harus dijaga dengan amanah,” demikian pesan yang disampaikan.
PWM juga menyinggung sejumlah perkembangan penting, seperti wakaf lahan di Metro, Sidomulyo, Batanghari, hingga hibah dari pemerintah daerah yang akan dikembangkan untuk pendidikan tinggi.
Semua itu disebut sebagai bagian dari keberkahan yang harus dijaga bersama.
Di tengah suasana itu, Dr.Anwar Abbas kemudian naik ke mimbar. Suasana langsung cair ketika ia membuka dengan humor ringan, menyapa para tokoh, dan melontarkan kelakar yang membuat jamaah tertawa. Namun setelah itu, arah pembicaraan berubah perlahan menjadi serius dan mendalam.
Ia mengawali dengan 12 pilar kehidupan bangsa: agamawan, politisi, cendekiawan, pengusaha, birokrat, profesional, jurnalis, pendidik, pekerja sosial, budayawan, TNI, dan penegak hukum. Namun ia menegaskan bahwa dari semua itu, yang paling menentukan adalah ekonomi.
Menurutnya, kedaulatan sejati suatu bangsa berada pada penguasaan ekonomi bisnis. Ia menyoroti fakta global bahwa umat Islam belum menjadi pemain utama dalam sektor ekonomi bisnis strategis dunia. Karena itu, ia mengajak umat untuk berani naik kelas dalam pengelolaan ekonomi bisnis.
Masuk ke Muhammadiyah, ia menegaskan bahwa organisasi ini tidak boleh berhenti sebagai kekuatan pendidikan dan kesehatan saja, tetapi harus berkembang menjadi kekuatan ekonomi bisnis.
Ia memaparkan potensi besar dari iuran anggota, amal usaha, konsolidasi keuangan, dan efisiensi kolektif yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi kekuatan ekonomi bernilai triliunan rupiah.
Namun ia juga memberi kritik internal bahwa salah satu kelemahan umat adalah berjalan sendiri-sendiri dan belum memiliki konsolidasi ekonomi yang kuat.
Karena itu ia mengajak perubahan dari pola “memungut” menjadi “menggali” kekuatan sendiri.
Dari sana ia melangkah ke panggung global. Ia mengurai sejarah peradaban dunia: Romawi, Persia, Eropa, hingga Amerika.
Tidak ada satu pun kekuatan yang abadi. Amerika yang hari ini dominan pun, menurutnya, sedang berada dalam tekanan ekonomi dan utang yang besar.
Ia menegaskan bahwa dunia sedang bergerak ke Asia, dengan China, India, dan negara-negara Asia lainnya sebagai kekuatan baru. Dalam arus itu, Indonesia disebut memiliki peluang menjadi kekuatan besar dunia pada 2040–2050, bahkan berpotensi masuk empat besar jika mampu mengelola ekonominya dengan baik.
Namun ia menegaskan satu syarat utama: persatuan umat. Ia menekankan pentingnya ukhuwah antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai dua kekuatan besar bangsa. Tanpa itu, seluruh potensi hanya akan menjadi peluang yang hilang.
Di sela refleksi yang dalam, ia juga menceritakan pengalaman pribadinya saat sakit yang membuatnya merenungi makna hidup dan kematian. Ia menyadari bahwa hidup manusia seperti anak panah yang telah dilepaskan, tidak bisa ditunda dan tidak bisa dipercepat.
Menjelang akhir, ia kembali menegaskan pesan utamanya bahwa umat tidak boleh menjadi penonton dalam perubahan dunia. Umat harus masuk ke dalam arus ekonomi global, memperkuat konsolidasi, dan membangun kemandirian.
Dari masjid sederhana di Metro itu, seluruh gagasan menyatu: keluarga, organisasi, ekonomi, hingga peradaban dunia. Dari ruang yang tampak biasa, lahir kesadaran besar bahwa sejarah sedang bergerak dan umat harus menentukan posisinya.
Demikian Jurnalis MPI melaporkan dari Edupark 29 Metro Lampung, pesan itu kembali ditegaskan, masa depan tidak diwariskan, tetapi diperjuangkan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

