Orasi Ilmiah Prof. Dr. Agus Sutanto, M.Si. dalam Pengukuhan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Metro
METRO-Limbah yang selama ini dianggap sebagai masalah lingkungan, justru dapat menjadi solusi bagi pertanian berkelanjutan. Gagasan ini disampaikan Prof. Dr. Agus Sutanto, M.Si. dalam orasi ilmiahnya saat pengukuhan sebagai Guru Besar bidang Mikrobiologi di Universitas Muhammadiyah Metro, Sabtu,25/4/2026.
Dalam orasi berjudul “Pemanfaatan Bakteri Alami dari Limbah Nanas untuk Pertanian Lestari dan Pembelajaran Biologi yang Bermakna”, Agus menegaskan bahwa mikroorganisme memiliki peran fundamental dalam kehidupan manusia dan ekosistem.
Selama ini, bakteri kerap dipandang sebagai penyebab penyakit. Namun menurutnya, perspektif tersebut perlu diluruskan.
“Tanpa mikroba, kehidupan tidak akan berjalan. Tanah menjadi subur karena mikroba, proses biologis berlangsung karena mikroba, bahkan tubuh manusia hidup berdampingan dengan triliunan mikroorganisme,” ujarnya.
Limbah Bukan Akhir, Melainkan Awal
Penelitian Agus berangkat dari persoalan limbah cair industri nanas yang melimpah dan berpotensi mencemari lingkungan. Limbah tersebut memiliki tingkat keasaman tinggi, berwarna gelap, dan berbau menyengat.
Namun, di balik kondisi ekstrem itu, ia menemukan kehidupan mikroba yang mampu bertahan.
Dari sinilah muncul pendekatan baru, mengubah limbah menjadi sumber daya.
Melalui riset yang panjang, Agus bersama timnya berhasil mengidentifikasi dan mengembangkan berbagai jenis bakteri yang mampu:
Menetralkan pH limbah
Menguraikan bahan organik
Mengurangi dampak pencemaran
Bakteri-bakteri tersebut kemudian dikombinasikan dalam bentuk konsorsium mikroba yang bekerja secara sinergis untuk mengolah limbah secara alami.
“Limbah bukan sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang bisa kita kelola menjadi berkah,” katanya.
Dari Laboratorium ke Lahan Pertanian
Hasil penelitian tersebut tidak berhenti di laboratorium. Agus mengembangkannya menjadi produk nyata berupa bioremediator dan pupuk hayati cair berbasis mikroba lokal.
Produk ini terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Dengan demikian, pertanian yang lebih ramah lingkungan dapat diwujudkan.
“Inovasi ini menjadi bagian dari solusi pertanian berkelanjutan, di mana kita memanfaatkan potensi alam tanpa merusaknya,” jelasnya.
Pembelajaran yang Bermakna
Sebagai akademisi, Agus juga menekankan pentingnya integrasi penelitian dengan pendidikan. Inovasi mikroba ini telah melibatkan ratusan mahasiswa dalam penelitian tugas akhir, baik di tingkat sarjana maupun pascasarjana.
Lebih dari 160 karya ilmiah mahasiswa lahir dari pengembangan riset ini. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat langsung dalam pemecahan masalah nyata di masyarakat.
“Pembelajaran harus kontekstual. Mahasiswa harus melihat bahwa ilmu yang dipelajari memiliki dampak langsung bagi lingkungan dan kehidupan,” ujarnya.
Dampak Sosial yang Luas
Selain di lingkungan kampus, hasil penelitian ini juga diterapkan di masyarakat melalui kerja sama dengan kelompok tani, bank sampah, dan sekolah-sekolah.
Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan.
“Ilmu pengetahuan harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya berhenti di ruang kelas atau jurnal ilmiah,” tegasnya.
Ilmu, Lingkungan, dan Spiritualitas
Dalam refleksinya, Agus menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai spiritual. Alam semesta, termasuk mikroorganisme di dalamnya, merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Menurutnya, menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya secara bijak merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
“Ilmu bukan hanya untuk memahami alam, tetapi juga untuk menjaga dan merawatnya,” tutupnya.
Menutup Orasi, Prof.Agus Sutanto mengatakanbahwa, inovasi sederhana berbasis mikroba dapat memberikan dampak besar, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi dunia pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Ditulis ulang oleh: Guswir (Jurnalis)
Acara: Pengukuhan Guru Besar/Profesor UM Metro

