Oleh: Drs. Moh. Jaeni, M.PFis.
Idul Fitri bagi seorang mukmin bukanlah sekadar perayaan tahunan. Di balik suasana bahagia dan gempita takbir, tersimpan esensi syukur yang mendalam kepada Allah SWT. Syukur yang sejati mewujud dalam komitmen untuk menggunakan seluruh anugerah-Nya demi mengokohkan iman, meningkatkan kualitas ibadah, serta menambah bekal amal shaleh. Logika iman mengajarkan bahwa semakin banyak nikmat yang diterima, sudah seharusnya ketaatan kepada Sang Pencipta semakin meningkat. Perjalanan spiritual ini pun tak lepas dari teladan Nabi Muhammad SAW, sang uswatun hasanah yang membimbing manusia menjadi muslim yang benar demi keselamatan dunia dan akhirat.
Setelah sebulan penuh menjalani madrasah Ramadhan, harapan terbesar setiap mukmin adalah diterimanya amal ibadah dan diperolehnya ampunan atas segala dosa. Tujuan akhirnya adalah menjadi hamba yang bertaqwa, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara kamu adalah yang paling baik taqwanya.” (QS. Al-Hujurot: 13). Namun, pertanyaan besarnya muncul ketika Ramadhan berlalu: adakah kita melakukan muhasabah atas kualitas ibadah kita? Apakah Idul Fitri ini benar-benar mampu mengembalikan kita kepada kesucian atau fitrah?
Kembali kepada fitrah berarti menyelaraskan kembali wajah dan hati kepada agama yang lurus. Hal ini sejalan dengan pesan dalam Surah Ar-Rum ayat 30 yang menekankan bahwa Allah telah menciptakan manusia menurut fitrah-Nya, dan tidak ada perubahan pada ciptaan tersebut. Oleh karena itu, Idul Fitri harus dipandang sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai utama kehidupan dan akhlak mulia. Takwa dan akhlak adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, di mana takwa menjadi sebaik-baik bekal untuk menghadap Allah SWT, sebagaimana diingatkan dalam Surah Al-Baqoroh ayat 197: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
Kemenangan sejati di hari Idul Fitri bukan diukur dari pakaian baru atau hidangan yang melimpah, melainkan dari transformasi pribadi. Ramadhan telah melatih kita mengendalikan hawa nafsu—mulai dari menahan lapar hingga menahan amarah, ghibah, dan sikap berlebih-lebihan. Jika selepas takbir berkumandang shalat kita tetap terjaga, lisan tetap hati-hati, dan tangan tetap ringan membantu sesama, maka itulah indikator keberhasilan. Ramadhan adalah sekolah, dan Idul Fitri adalah kelulusannya. Seorang mukmin yang lulus adalah mereka yang menjadi lebih dekat kepada Allah dan lebih lembut kepada sesama manusia.
Aspek sosial Idul Fitri juga mengajarkan pembersihan hati melalui maaf. Saling memaafkan bukan sekadar formalitas bibir, melainkan ibadah untuk melepaskan dendam dan prasangka di dalam dada. Hati yang kotor akan sulit menikmati ketenangan, sedangkan kemudahan dalam memaafkan manusia akan melapangkan jalan bagi ampunan Allah bagi diri kita sendiri.
Pada akhirnya, Idul Fitri bukanlah garis akhir, melainkan garis start untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Kesucian yang telah diraih harus dirawat dengan menjaga shalat lima waktu, kebiasaan membaca Al-Qur’an, sedekah rutin, serta menjaga amanah. Dengan menjaga nilai-nilai ini, kita berharap Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menetapkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali kepada fitrah dengan predikat taqwa yang sebenar-benarnya.
Disari dari khutbah Idulfitri 1446 di Lapangan Wanoro
21. C Yosomulyo, Metro Pusat

