SURABAYA – Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menargetkan lahirnya minimal 20 karya penulisan sejarah Muhammadiyah tingkat lokal pada Muktamar Muhammadiyah tahun 2027 mendatang. Langkah ini menjadi strategi penting dalam merawat ingatan kolektif serta memperkuat narasi historiografi persyarikatan di daerah.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Widyastuti, M.Hum., saat menutup secara resmi agenda intensif Akademi Sejarah Muhammadiyah Batch 2″ yang berlangsung selama lima hari di Surabaya. Senin, 11 Agustus 2026.
“Di Muktamar 2027 nanti, selain mempersembahkan buku Sejarah Muhammadiyah Indonesia hasil karya 22 sejarawan nasional, MPI juga berikhtiar menyuguhkan minimal 20 karya sejarah lokal dari hasil pembibitan peserta akademi ini,” ujar Widyastuti di hadapan puluhan peserta dari berbagai daerah.
Dalam arahannya, Widyastuti menyoroti masih minimnya minat terhadap ilmu sejarah di lingkungan akademis. Padahal, menurutnya, pemikiran-pemikiran besar persyarikatan lahir dari fondasi keilmuan yang kokoh.
MPI PP Muhammadiyah mendorong Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) untuk memperkuat dan menghidupkan empat program studi (prodi) strategis, yaitu Sejarah, Filsafat, Ilmu Perpustakaan, dan Kearsipan.
“Meskipun tantangannya tidak mudah, perjuangan menghidupkan prodi-prodi ini tidak boleh berhenti. Sekolah dan kampus kita sangat banyak, dan semuanya membutuhkan tenaga ahli di bidang pustaka dan kearsipan yang tersertifikasi,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara MPI dengan Majelis Diktilitbang serta PTMA yang memiliki Prodi Pendidikan Sejarah. Dosen-dosen PTMA diharapkan dapat diterjunkan untuk memperkuat pengurusan MPI di tingkat wilayah, mengingat saat ini baru sekitar separuh dari 38 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) yang memiliki keaktifan berbasis akademis di bidang sejarah dan kehumasan.
Guna mengoptimalkan penjangkauan penguatan sejarah di luar Pulau Jawa, MPI PP Muhammadiyah berencana menerapkan pola pelatihan berbasis regional atau per pulau pada agenda mendatang. Strategi ini dinilai lebih efisien dari sisi pembiayaan bagi peserta di daerah.
Widyastuti turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta yang terdiri dari akademisi, guru sejarah, hingga aktivis persyarikatan. Ia secara khusus memuji kehadiran para senior yang tetap menunjukkan semangat belajar tanpa kenal usia.
“Melihat para senior seperti Pak Joko yang berusia 70-an tahun dan Mas Puri (63) yang bercita-cita menjadi edukator Museum Muhammadiyah Kediri, ini menjadi teladan luar biasa bagi kita yang muda-muda. Seluruh materi selama lima hari ini sangat padat dan berbobot, mengajak kita berpikir keras untuk masa depan persyarikatan,” ungkapnya.
Mengakhiri sambutannya, Widyastuti berharap seluruh alumni Akademi Sejarah Muhammadiyah dapat kembali ke daerah masing-masing dan menjadi “provokator positif” dalam menggerakkan penulisan serta penyelamatan aset-aset sejarah Muhammadiyah setempat. (ims)

