Selasa, Agustus 18, 2026
BerandaAUMMengikuti Training of Trainer Satuan Pendidikan Aman Bencana, Bekal Baru untuk Sekolah...

Mengikuti Training of Trainer Satuan Pendidikan Aman Bencana, Bekal Baru untuk Sekolah yang Lebih Siaga

METRO — Dua Guru SD Muhammadiyah Sang Pencerah, berkesempatan mengikuti kegiatan Training of Trainer (TOT) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kota Metro. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai 6 hingga 9 Agustus 2026, bertempat di kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Metro.

Aisyah Nur Sabana, salah satu peserta berharap dapat membawa pulang ilmu dan keterampilan yang nantinya bisa diterapkan di lingkungan sekolah.

“Selama empat hari pelatihan, kami dibekali berbagai materi, mulai dari konsep dasar kebencanaan, manajemen risiko bencana di satuan pendidikan, penyusunan rencana aksi sekolah aman bencana, simulasi tanggap darurat, hingga teknik melatih dan menularkan pengetahuan tersebut kepada warga sekolah lainnya.” Tuturnya.

Ia juga berharap pengalaman mengikuti pelatihan ini memberikan banyak wawasan baru baginya, terutama mengenai pentingnya kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi potensi bencana.

“Semoga SD Muhammadiyah Sang Pencerah dapat menjadi salah satu sekolah yang lebih tangguh dan siap menghadapi risiko bencana, sejalan dengan semangat kolaborasi antara satuan pendidikan dan lembaga kebencanaan seperti MDMC Kota,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua pelaksana kegiatan, Satfa Alfarizi, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa melalui ToT SPAB ini, peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menularkan budaya aman bencana kepada peserta didik di sekolah masing-masing. “Hal ini penting agar tercipta sekolah yang tangguh, aman, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana.” Terangnya.

Sementara itu, salah satu fasilitator dalam pelatihan ini, Rifki, dalam pemaparan materinya menjelaskan bahwa besarnya risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh ancaman dan tingkat kerentanan, tetapi juga dipengaruhi oleh kapasitas individu maupun lembaga dalam menghadapi situasi darurat.

“Ketika ancaman ada dan kerentanannya tinggi, maka risiko dapat ditekan apabila kapasitas masyarakat juga tinggi. Kapasitas itu dibangun melalui edukasi, pelatihan, simulasi, dan kesiapsiagaan,” ujarnya. (Aisyah)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini