Rabu, Juli 15, 2026
BerandaAUMNgaji Itu Belajar: Kisah  Mahasiswa FAI UM Metro Ikut Sertifikasi Pengajar Metode...

Ngaji Itu Belajar: Kisah  Mahasiswa FAI UM Metro Ikut Sertifikasi Pengajar Metode Iqra’

YOGYAKARTA – Suasana tidak seperti biasanya menyelimuti lobi hotel Pop Yogyakarta tempat mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) berkumpul.

Suara saling bersahutan terdengar di berbagai sudut ruangan. Sebagian membuka kembali materi uji yang mereka bawa, sebagian lain saling melempar pertanyaan, memastikan kembali hafalan yang mungkin saja terlupa. Wajah-wajah serius berpadu dengan canda ringan yang sengaja dihadirkan untuk mencairkan ketegangan.

Hari itu mereka bersiap menuju AMM Yogyakarta untuk mengikuti sertifikasi pembimbing baca Al-Qur’an metode Iqra’. Bahagia, tentu. Namun, di balik senyum yang mengembang, tersimpan kegelisahan yang sama. Seperti apa uji sertifikasinya? Apakah bacaannya sudah cukup baik? Bagaimana jika masih banyak kesalahan?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala hampir setiap peserta.

Menariknya, rasa gugup justru mengajarkan satu hal yang sering terlupakan. Bahwa seseorang yang datang untuk mengaji sesungguhnya sedang datang untuk belajar. Bukan untuk membuktikan dirinya paling fasih, bukan pula untuk menunjukkan bahwa ia sudah selesai dengan prosesnya.

Di ruang ujian nanti, mungkin ada huruf yang masih kurang tepat makhrajnya. Ada panjang pendek yang masih perlu diperbaiki. Bahkan mungkin ada koreksi yang membuat peserta harus mengulang bacaannya. Namun, bukankah memang di situlah makna belajar? Kesalahan bukan akhir dari perjalanan, melainkan pintu menuju perbaikan.

Sering kali kita memandang ngaji sebagai ruang yang hanya dihuni orang-orang yang sudah pandai. Padahal, Al-Qur’an justru mengajarkan kerendahan hati. Setiap huruf yang terbata-bata tetap bernilai ibadah. Setiap koreksi adalah kasih sayang agar bacaan semakin baik. Dan setiap langkah menuju majelis ilmu adalah keberanian untuk mengakui bahwa diri ini masih harus terus belajar.

Barangkali, yang paling penting dari perjalanan menuju Yogyakarta itu bukan sekadar selembar sertifikat yang nanti dibawa pulang. Melainkan kesadaran yang tumbuh selama perjalanan: bahwa belajar Al-Qur’an tidak pernah mengenal kata selesai.

Ngaji bukan tentang siapa yang paling benar. Ngaji adalah tentang siapa yang terus bersedia belajar. Sebab, orang yang belajar akan terus memperbaiki diri, sedangkan orang yang merasa sudah benar sering kali berhenti bertumbuh.

Maka, jika hari ini bacaan kita masih terbata-bata, jangan malu untuk membuka mushaf. Jika masih sering dikoreksi, jangan gengsi untuk memperbaiki. Karena hakikat ngaji bukanlah menjadi sempurna dalam sekejap, melainkan terus melangkah dari satu huruf ke huruf berikutnya, dari satu kesalahan menuju bacaan yang lebih baik.

Sebab pada akhirnya, ngaji memang adalah belajar. Dan setiap orang yang belajar selalu memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik daripada dirinya yang kemarin. (mpi/mu.nu)

BERITA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini