METRO – Upaya meningkatkan standar kesehatan di lingkungan pendidikan berbasis asrama terus digalakkan. Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro menggelar penyuluhan pencegahan dan pemberantasan penyakit scabies (gatal-gatal menular) di Aula AR. Fachruddin RSU Muhammadiyah Metro, Sabtu, 25/4/2026.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara MPKU PDM Kota Metro, Dinas Kesehatan Kota Metro, IDI Kota Metro, RSU Muhammadiyah Metro, dan Lazismu Kota Metro. Sebanyak 70 perwakilan pengasuh pondok pesantren se-Kota Metro hadir sebagai peserta.
Ketua MPKU PDM Kota Metro, Drs. Budi Pranoto, M.Pd.I, menegaskan bahwa pemahaman mendalam mengenai penanganan scabies sangat krusial bagi pengelola pesantren. Ia juga mengumumkan langkah konkret pasca-penyuluhan.
“Kami akan membentuk tim khusus untuk melakukan survei langsung ke sejumlah pondok pesantren, panti asuhan, dan boarding school di Kota Metro guna memastikan langkah pencegahan berjalan efektif,” jelas Budi.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan IDI Kota Metro, dr. Apriyanto, Sp.Ak, menyoroti tantangan budaya berupa stigma lama yang menganggap penyakit kulit sebagai bagian dari “tradisi” santri.
“Ada mitos kalau belum kena kudis, berarti belum sah jadi anak pondok. Pemahaman keliru ini harus diubah. Kebersihan kamar, selimut, dan bantal harus dijaga. Santri dilarang keras bertukar pakaian atau handuk,” tegasnya.

Hadir sebagai narasumber, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Metro, Vera Nasution, S.KM, M.Kes, MM, menjelaskan bahwa scabies menempati peringkat tiga besar penyakit kulit di fasilitas kesehatan, namun sering kali terabaikan karena perhatian publik lebih terfokus pada penyakit global seperti TBC.
“Penanganan scabies tidak bisa dilakukan secara individu. Jika satu kena, semua di lingkungan tersebut harus diedukasi dan ditangani secara serentak karena penularannya sangat cepat di hunian padat,” kata Vera.
Pihak Dinkes berkomitmen melakukan screening dan pendampingan berkelanjutan, dengan agenda evaluasi pada Oktober mendatang untuk memantau tren kasus di pesantren. Materi medis mendalam juga dipaparkan oleh spesialis kulit dan kelamin, dr. Azizah Amalia Bastian, Sp.DVE, FINSDV.
Ketua PDM Kota Metro yang diwakili oleh, Kholid Muhdam, S.Ag, dalam sambutannya mendorong setiap pondok pesantren untuk memiliki klinik atau Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) mandiri.
“Mari kita ikuti kegiatan ini dengan serius agar mitos negatif tentang pesantren hilang. Kita ingin menunjukkan bahwa mondok itu keren, sehat, dan luar biasa,” pungkas Kholid.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara narasumber dan para pengasuh pondok pesantren yang antusias mencari solusi atas kendala sanitasi di lembaga masing-masing. (aur)

