Oleh: Ust. AR. Hamdi
Editor: Guswir
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, ukuran keberhasilan sering kali direduksi pada angka, berapa besar keuntungan, seberapa cepat pertumbuhan, dan seberapa banyak aset yang dimiliki.
Namun, Islam menawarkan perspektif yang jauh lebih dalam: keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari banyaknya hasil, tetapi dari keberkahan yang menyertainya.
“Keberkahan itu bukan banyaknya, tetapi bertambahnya kebaikan,” ujar Ustadz Hamdi dalam tausiyahnya pada Jum’at,24/4/2026.
Pesan ini disampaikan dalam kegiatan tausiyah Dewan Pengawas Syariah (DPS) kepada seluruh karyawan dan karyawati BPR Syariah Metro Madani. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung oleh jajaran direksi dan karyawan di kantor pusat, serta diikuti secara daring oleh seluruh karyawan di kantor cabang.
Momentum ini menjadi bagian penting dalam memperkuat nilai-nilai spiritual dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Dalam paparannya, Ustadz Hamdi menegaskan bahwa keberkahan adalah ketika apa yang dimiliki justru mendekatkan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Harta yang berkah bukan sekadar banyak, tetapi yang mendorong pemiliknya untuk semakin taat, gemar berbagi, serta menjaga diri dari hal-hal yang dilarang.
Mengacu pada hadis yang diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tiga perkara yang mengandung keberkahan dalam muamalah.
Pertama, jual beli secara tempo (al-bai’ ila ajal). Dalam praktik ekonomi, Islam membolehkan adanya perbedaan harga antara pembayaran tunai dan pembayaran yang ditangguhkan. Namun, aspek moral menjadi penentu utama.
“Jual beli itu mengandung keberkahan selama tidak ada dusta dan kecurangan,” tegasnya
Ia menambahkan, “Yang menghilangkan keberkahan bukan akadnya, tetapi kecurangan di dalamnya.” jelasnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam aktivitas ekonomi. Keuntungan yang diperoleh dengan cara tidak jujur mungkin tampak besar, tetapi kehilangan nilai keberkahan yang justru menjadi inti dari keberhasilan dalam Islam.
Kedua, qiradh atau yang lebih dikenal sebagai mudharabah, yaitu kerja sama usaha berbasis bagi hasil antara pemilik modal dan pengelola. Konsep ini menunjukkan bahwa Islam telah lama mengenal sistem ekonomi yang adil dan kolaboratif.
“Qiradh dan mudharabah itu sama, hanya berbeda istilah karena perbedaan wilayah, tetapi substansinya adalah kerja sama yang saling menguntungkan. Inilah yang menjadi dasar praktik ekonomi syariah hingga hari ini,” jelasnya.
Ketiga, mencampur gandum dengan sya’ir untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Sekilas sederhana, namun mengandung pesan besar tentang efisiensi dan pengendalian diri.
“Menghemat dalam konsumsi itu bukan tanda kekurangan, justru itu yang mengundang keberkahan,” ungkapnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa praktik tersebut tidak boleh dilakukan untuk tujuan penipuan dalam jual beli.
Dalam konteks kehidupan saat ini, pesan tersebut menjadi sangat relevan. Budaya konsumtif yang berkembang sering kali menjauhkan manusia dari nilai kesederhanaan. Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa makanan yang sedikit dapat mencukupi banyak orang jika mengandung keberkahan.
Lebih jauh, Ustadz Hamdi menjelaskan bahwa keberkahan bukan sekadar bertambahnya jumlah, tetapi bertambahnya nilai kebaikan dalam kehidupan.
“Jika harta membuat kita semakin dekat kepada Allah, itulah harta yang berkah. Sebaliknya, jika menjauhkan dari ibadah, maka keberkahannya hilang,” ujarnya.
Dalam implementasinya, ia mengajak seluruh insan Syariah untuk menjaga kejujuran dalam transaksi, menghindari praktik manipulatif, serta membangun pola hidup sederhana dan efisien.
Menutup tausiyahnya, ia berpesan,
“Segala sesuatu yang membuat kita semakin dekat kepada Allah, itulah tanda keberkahan. Hidup hemat dan tidak berlebihan justru membuka pintu keberkahan dalam kehidupan kita.” Pesannya.
Sebelum menutup kajian Jumat, Ustadz Hamdi menegaskan bahwa muamalah dalam Islam bukan sekadar urusan transaksi, melainkan juga refleksi nilai dan spiritualitas. Kejujuran, keadilan, dan kesederhanaan bukan hanya sebatas etika, tetapi merupakan jalan menuju keberkahan.
Ia mengajak agar orientasi hidup tidak hanya berfokus pada mengejar keuntungan semata, tetapi beralih kepada upaya meraih keberkahan. Sebab, sesuatu yang sedikit namun berkah akan jauh lebih bermakna dibandingkan yang banyak tetapi hampa nilai.
Wallahu a’lam bishawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

