Oleh: Hasbullah
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM Lampung
Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang sering kali menjebak kita dalam dinginnya komunikasi digital, momentum Silaturahmi Syawal di Aula Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung pada 29 Maret 2026 hadir sebagai oase yang menyejukkan. Pertemuan fisik ini bukan sekadar tradisi tahunan bagi para kader, melainkan ruang refleksi untuk melakukan re-alignment terhadap niat-niat besar organisasi. Sering kali, rutinitas yang padat membuat esensi gerakan kita terdistorsi oleh kesibukan yang menjemukan. Saat kita berkumpul, bersalaman, dan bertatap muka, terjadi sebuah pertukaran energi positif yang tidak bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi. Inilah momen yang tepat untuk meluruskan kembali orientasi dakwah kita di masa depan.
Silaturahmi di lingkungan Muhammadiyah bukanlah sekadar seremoni pasca-Ramadan yang bersifat seremonial belaka. Ia adalah institusi sosial yang berfungsi sebagai perekat struktur organisasi agar tetap kokoh dan solid. Kehadiran Dr. H. M. Ziyad, M.Ag., dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan bahwa komunikasi vertikal antara pusat dan wilayah adalah nadi utama. Komunikasi ini menjadi pengingat bahwa meskipun dakwah bersifat lokal di tanah Lampung, kita tetap terikat dalam satu visi besar Persyarikatan. Kehadiran beliau menjadi pemantik semangat bagi seluruh pimpinan yang hadir di aula.
Tema “Merajut Kebersamaan, Saling Memaafkan, dan Memperkuat Komitmen” yang diusung dalam pertemuan ini terasa sangat kontekstual dengan tantangan zaman. Dalam dunia dakwah yang dinamis, perbedaan pandangan adalah keniscayaan yang harus kita kelola dengan bijak. Namun, melalui forum silaturahmi ini, kita belajar bahwa kebersamaan tidak harus selalu berarti keseragaman langkah. Sebaliknya, kebersamaan adalah kemampuan untuk tetap berjalan beriringan meski dengan peran yang berbeda-beda. Inilah kedewasaan berorganisasi yang coba terus kita pupuk di lingkungan Muhammadiyah.
Melihat antusiasme para pimpinan dan kader yang memadati aula, saya menangkap binar optimisme yang melampaui sekadar protokol pertemuan formal. Ada getaran energi yang tulus saat para pimpinan saling merangkul satu sama lain melampaui sekat-sekat formalitas. Mereka seolah menegaskan bahwa beban amanah yang berat akan terasa jauh lebih ringan ketika dipikul bersama-sama. Inilah bukti otentik bahwa ikatan ideologis Muhammadiyah benar-benar hidup dalam setiap individu yang hadir. Semangat kolektif ini menjadi modal utama kita dalam menghadapi tantangan dakwah ke depan.
Memaafkan dalam konteks organisasi tidak boleh dipandang sebagai titik akhir dari sebuah konflik atau permasalahan. Sebaliknya, dalam gerakan Muhammadiyah, memaafkan adalah titik tolak untuk memulai langkah baru yang lebih bersih. Dengan melepaskan beban ego dan gesekan masa lalu, kita membersihkan ruang hati untuk menampung gagasan yang lebih murni. Fokus kita harus segera kembali pada kebermanfaatan umat yang lebih luas di tengah masyarakat. Energi yang terbuang karena friksi internal harus segera dialihkan untuk pemberdayaan ekonomi dan pendidikan umat.
Komitmen untuk memaafkan ini harus diwujudkan dalam budaya organisasi yang sehat serta menjunjung tinggi transparansi. Ketika komunikasi antarpimpinan berjalan dengan hati yang bersih, pengambilan keputusan strategis akan lebih mudah dicapai. Persyarikatan sangat membutuhkan pemimpin yang berjiwa besar untuk melihat melampaui kepentingan pribadi. Keikhlasan dalam memaafkan rekan sejawat adalah modal sosial yang tidak ternilai harganya bagi organisasi. Tanpa spirit ukhuwah yang kuat, amal usaha yang megah sekalipun akan kehilangan jiwa dasarnya.
Sinergi antara spirit memaafkan dan semangat beramal usaha akan menciptakan harmoni gerakan yang luar biasa. Saat hati para penggeraknya sinkron, inovasi baru dalam dakwah akan lahir secara alami dari berbagai lini. Kita tidak lagi bekerja karena perintah jabatan semata, melainkan karena panggilan iman yang tulus. Tujuannya adalah menjadikan Muhammadiyah Lampung sebagai mercusuar kebaikan bagi wilayah Sumatera hingga nasional. Harmoni inilah yang akan mempercepat laju pertumbuhan organisasi di masa mendatang.
Kita tidak boleh puas dengan sekadar suksesnya acara silaturahmi yang berjalan dengan khidmat ini. Keberhasilan sejati akan terlihat ketika pimpinan di wilayah hingga ranting mampu menerjemahkan semangat komitmen dakwah ke lapangan. Medan dakwah yang sesungguhnya menunggu di luar gedung, mulai dari sekolah, panti asuhan, hingga rumah-rumah warga. Silaturahmi ini hanyalah pemanasan sebelum kita terjun lebih dalam melayani kebutuhan masyarakat. Konsistensi dalam aksi nyata adalah kunci utama keberhasilan dakwah Muhammadiyah di Lampung.
Kesadaran akan dampak luas dari gerakan lokal ini menuntut kita memiliki wawasan yang jauh lebih terbuka. Pimpinan wilayah dan daerah harus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas jangkauan kebermanfaatan kita. Dengan merawat kebersamaan yang telah dijalin hari ini, kita optimis bahwa masa depan organisasi akan jauh lebih baik. Muhammadiyah Lampung akan terus tumbuh menjadi organisasi yang tangguh, modern, dan tetap setia pada garis perjuangan. Kita terus berjalan di atas rel yang telah ditetapkan oleh pendiri kita, KH Ahmad Dahlan.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik untuk memperkuat barisan. Semoga keberkahan Syawal tidak berhenti saat acara berakhir, melainkan terus mengalir dalam setiap napas perjuangan kita. Kita harus terus berkomitmen untuk menghadirkan Islam yang berkemajuan di tanah Lampung ini. Mari kita jaga denyut dakwah ini agar tetap berdetak kencang bagi kemaslahatan umat. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk terus mengabdi di jalan dakwah ini.
Menakar Kedewasaan dan Progresivitas Amal Usaha
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PWM Lampung, Prof. Sudarman, memberikan catatan reflektif yang tajam mengenai kedewasaan kita dalam beragama. Beliau menyinggung dinamika pelaksanaan shalat Idul Fitri tahun ini yang kembali diwarnai perbedaan waktu perayaan di tengah masyarakat. Bagi Prof. Sudarman, perbedaan ini bukanlah sebuah ancaman, melainkan ujian kematangan intelektual bagi umat. Muhammadiyah tetap konsisten dengan manhaj yang diyakini, namun tetap mengedepankan sikap tasamuh terhadap kelompok lain. Kedewasaan ini adalah cerminan karakter warga Muhammadiyah yang matang dalam beragama.
Sikap percaya diri ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam perdebatan kering yang menguras energi. Beliau mengajak seluruh kader untuk lebih fokus pada kontribusi nyata yang dibutuhkan oleh umat. Dengan demikian, kehadiran Muhammadiyah di Lampung benar-benar menjadi pemberi solusi di tengah masyarakat yang sedang membutuhkan panduan. Muhammadiyah tidak boleh menjadi beban, melainkan harus menjadi penyelesaian berbagai persoalan moral yang ada. Pesan ini menjadi pegangan penting bagi setiap kader dalam bersikap di tengah keragaman.
Lebih jauh, Prof. Sudarman memaparkan kabar gembira mengenai kemajuan organisasi yang terus melesat dengan pesat. Hal ini ditandai dengan transformasi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang semakin progresif dan profesional. Dari sektor pendidikan hingga kesehatan, AUM di Lampung kini tidak hanya sekadar bertahan, tetapi mulai menjadi pusat layanan unggulan. Menurut beliau, kemajuan ini adalah buah dari kerja keras dan soliditas seluruh elemen Persyarikatan yang berkomitmen. Seluruh elemen terus berupaya memberikan yang terbaik bagi kemaslahatan umat luas.
Namun, beliau juga mengingatkan bahwa keberhasilan amal usaha jangan sampai membuat kita terlena akan segalanya. Kita tidak boleh melupakan akar dakwah kultural yang sangat penting dalam menyentuh hati masyarakat secara langsung. Prof. Sudarman menekankan bahwa setiap gedung sekolah maupun rumah sakit harus menjadi cerminan nilai keislaman. Amal usaha bukan sekadar aset fisik, melainkan instrumen untuk menyebarkan risalah pencerahan bagi seluruh warga Lampung. Inilah prinsip yang harus dipegang teguh oleh setiap pengelola amal usaha kita.
Setiap unit usaha yang berdiri harus benar-benar menjadi solusi nyata bagi persoalan kemiskinan dan kebodohan di sekelilingnya. Keberhasilan amal usaha adalah buah dari soliditas kolektif yang terjaga dengan sangat baik. Soliditas ini hanya bisa dipertahankan jika komunikasi antarpimpinan berjalan dengan hati yang bersih dan transparan. Ketika kebijakan strategis diambil, kepentingan umat harus selalu diletakkan di atas kepentingan golongan atau pribadi. Inilah cara kita menjaga agar amal usaha tetap menjadi pilar dakwah yang mencerahkan.
Menatap Geopolitik dan Ketangguhan Berbasis IPTEK
Melengkapi narasi lokal tersebut, Dr. H. M. Ziyad membawa perspektif global dengan membedah kondisi geopolitik terkini. Beliau menyoroti secara tajam dinamika di kawasan Timur Tengah yang sangat mempengaruhi konstelasi dunia Islam saat ini. Beliau mengingatkan bahwa tantangan masa depan, termasuk mitigasi penyelenggaraan haji tahun ini, menuntut kesiapan manajerial yang luar biasa. Organisasi harus sigap merespons perubahan situasi agar pelayanan kepada umat tetap terjaga dengan maksimal. Kesiapan ini adalah bukti bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang adaptif terhadap dinamika global.
Satu poin menarik dalam paparan beliau adalah ajakan untuk belajar dari ketangguhan bangsa lain dalam menghadapi tekanan. Beliau mencontohkan negara Iran yang mampu eksis dan perkasa meski diembargo selama lima puluh tahun oleh pihak luar. Keberhasilan mereka terletak pada komitmen tinggi dalam menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Meski terdapat perbedaan perspektif fikih, kita bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya membangun generasi yang tangguh. Inilah Islam yang diajarkan oleh Nabi, yakni Islam yang mendorong umatnya untuk terus maju dan berdaya saing.
Pesan ini sangat jelas: kekuatan dakwah masa depan terletak pada kemampuan kita mengintegrasikan nilai iman dengan keunggulan IPTEK. Muhammadiyah Lampung harus memiliki mentalitas yang tangguh dan selalu melek terhadap perkembangan teknologi terbaru. Kita tidak boleh menjadi organisasi yang tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan yang sangat krusial bagi kemajuan bangsa. Integrasi nilai keislaman dengan kemajuan sains akan melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman. Inilah wujud nyata dari dakwah berkemajuan yang terus kita perjuangkan bersama.
Dalam konteks ini, beliau menekankan bahwa sistem adalah kekuatan utama yang dimiliki oleh Muhammadiyah selama ini. Namun, sistem yang canggih hanya akan bekerja maksimal jika digerakkan oleh individu yang memiliki ketulusan hati. Keikhlasan dalam bekerja adalah modal sosial yang tidak ternilai bagi keberlangsungan sebuah organisasi besar. Tanpa itu, amal usaha yang megah sekalipun akan kehilangan spirit yang menjadi jati diri kita. Ketulusan kader adalah kunci utama yang menjaga detak jantung organisasi tetap hidup.
Sinergi antara spirit memaafkan dan semangat berinovasi akan menciptakan harmoni gerakan yang luar biasa bagi Lampung. Saat hati para penggeraknya sinkron, inovasi-inovasi baru dalam dakwah akan lahir secara alami dari berbagai sektor. Kita tidak lagi bekerja karena perintah jabatan semata, melainkan karena panggilan iman yang ingin melihat kemajuan besar. Tujuannya adalah menjadikan Muhammadiyah Lampung sebagai mercusuar kebaikan bagi wilayah Sumatera dan bahkan kancah nasional. Harmoni ini menjadi landasan kuat dalam menyongsong masa depan dakwah yang lebih cerah.
Kita tidak boleh puas dengan sekadar suksesnya acara silaturahmi yang berjalan dengan sangat khidmat hari ini. Keberhasilan sejati diukur dari aksi nyata pimpinan di tingkat daerah hingga ranting setelah acara ini selesai. Medan dakwah yang sesungguhnya menunggu di luar gedung, yakni di sekolah, panti asuhan, dan masyarakat luas. Silaturahmi ini hanyalah pemanasan untuk menyamakan visi sebelum kita kembali berjuang di medan yang sesungguhnya. Konsistensi dalam aksi nyata adalah kunci utama keberhasilan dakwah Muhammadiyah di masa depan.
Kesadaran akan dampak besar dari gerakan lokal ini menuntut kita memiliki wawasan yang sangat luas. Pimpinan wilayah dan daerah harus mulai berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas jangkauan kebermanfaatan amal usaha kita. Dengan merawat kebersamaan yang telah dijalin hari ini, kita optimis Muhammadiyah Lampung akan terus tumbuh menjadi organisasi tangguh. Kita harus tetap setia pada garis perjuangan pendiri kita, KH Ahmad Dahlan, yang visioner. Organisasi harus terus relevan dengan perubahan zaman namun tetap memegang teguh prinsip dasar.
Sebagai penutup, mari jadikan momentum 29 Maret 2026 ini sebagai titik balik untuk memperkuat barisan secara kolektif. Semoga keberkahan Syawal tidak berhenti saat acara berakhir, melainkan terus mengalir dalam setiap napas perjuangan kita semua. Kita harus terus berkomitmen untuk menghadirkan Islam yang berkemajuan di tanah Lampung tercinta ini. Mari kita jaga denyut dakwah ini agar tetap berdetak kencang bagi kemaslahatan umat luas. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk terus mengabdi di jalan dakwah yang mulia ini.
Semangat yang membara ini harus terus dijaga agar tidak padam di tengah jalan oleh berbagai tantangan yang datang. Perjuangan memang tidak pernah mudah, namun kebersamaan akan membuat setiap rintangan menjadi jauh lebih ringan untuk dilalui. Kader Muhammadiyah adalah mereka yang mampu beradaptasi dan terus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar tanpa henti. Mari kita buktikan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi besar di atas kertas, melainkan bukti nyata di lapangan. Teruslah bergerak untuk kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan secara luas di masa depan.
Mari kita wujudkan cita-cita besar tersebut dengan karya nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Setiap langkah yang kita ambil hari ini akan menjadi catatan sejarah bagi masa depan Persyarikatan yang lebih gemilang. Tetaplah istikamah dalam menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab serta dedikasi yang tinggi kepada umat. Semoga setiap langkah kecil kita hari ini memberikan dampak besar bagi kejayaan dakwah Islam yang berkemajuan. Inilah saatnya bagi kita untuk terus bersinar dan memberikan manfaat terbaik bagi tanah Lampung.

