Denpasar – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Ramadan adalah madrasah kehidupan yang menempa kesabaran, kedisiplinan, dan kekuatan mental umat. Ia menekankan, puasa bukan sekadar ibadah fisik menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembinaan diri yang memperkuat dimensi spiritual sekaligus solidaritas sosial.
Hal ini seperti yang diberitakan Muhammadiyah.or.id dalam ceramah Tarawih di Masjid An-Nur, Denpasar, Bali, Selasa24/2/2026.
Dalam paparannya, Mu’ti menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan pembinaan diri yang menyentuh dimensi keimanan sekaligus kehidupan sosial umat.
Ia memaparkan empat prinsip penting dalam memahami ibadah puasa. Pertama, setiap ibadah harus berlandaskan dalil yang sahih. Kedua, niat yang ikhlas menjadi fondasi diterimanya amal. Ketiga, pelaksanaan ibadah harus sesuai tuntunan syariat, termasuk menjaga waktu puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Keempat, memahami hikmah di balik pensyariatan puasa.
Merujuk pada pandangan Fazlur Rahman, Mu’ti menjelaskan bahwa kewajiban puasa turun pada tahun kedua Hijriah, saat masyarakat Muslim Madinah sedang mengalami proses konsolidasi sosial. Kala itu, terdapat ketegangan antar kelompok, termasuk antara Aus dan Khazraj, serta dinamika hubungan dengan komunitas Yahudi.
Dalam situasi tersebut, ajaran persatuan ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 103. Pada tahun yang sama pula, umat Islam menghadapi Perang Badar dengan kekuatan terbatas.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa, meski dalam keadaan berpuasa, mereka tetap menunjukkan keteguhan dan meraih kemenangan sebagaimana disebut dalam Surah Al-Anfal ayat 17.
Menurut Mu’ti, konteks historis itu menunjukkan bahwa puasa memiliki fungsi strategis dalam membangun mentalitas kokoh, keberanian, dan daya juang. Puasa melatih umat agar tidak mudah goyah dalam tekanan maupun saat memperoleh kelapangan.
Ia juga menjelaskan bahwa frasa min qoblikum dalam Al-Qur’an menandakan kesinambungan syariat puasa sejak umat terdahulu.
Namun Islam hadir untuk meluruskan penyimpangan praktik sebelumnya dan mengembalikannya pada prinsip moderasi, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 187.
Lebih jauh, Mu’ti menekankan bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri. Nilai utamanya terletak pada kemampuan menahan diri meski memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan. Dari situlah lahir kesabaran, kedisiplinan, dan ketahanan pribadi.
Bagi umat Islam yang hidup sebagai minoritas, seperti di Bali, ia mengingatkan pentingnya menjaga kekuatan mental dan solidaritas.
Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 249 tentang kelompok kecil yang mampu mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah, serta ayat 45 yang menekankan pentingnya sabar dan shalat sebagai penolong.
Menurutnya, kesabaran yang ditempa melalui puasa tercermin dalam sikap terencana, tidak tergesa-gesa, tidak mudah puas diri, serta mampu membangun kebersamaan. Ia menilai soliditas dan disiplin menjadi kunci kemajuan sebuah komunitas.
Mengakhiri ceramahnya, Mu’ti mengajak umat menjadikan Ramadan sebagai titik tolak penguatan karakter dan kontribusi sosial.
“Ramadan harus melahirkan pribadi-pribadi yang lebih sabar, lebih disiplin, dan lebih solid dalam membangun kemaslahatan bersama,” ujarnya. (Red.)
Sumber: muhammadiyah.or.id

