Metro – Ramadhan selalu datang dengan pesan yang sama, tetapi hati manusia tidak selalu dalam keadaan yang sama. Di penghujung Sya’ban 1447 H, ratusan kader Persyarikatan Muhammadiyah Kota Metro berkumpul dalam Tabligh Akbar Songsong Ramadhan yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Metro di SDMu HAMKA Metro Timur, Sabtu (14/2/2026).
Di tengah suasana yang teduh dan penuh harap, Dr. M. Choirin, Lc., M.A., Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengajak jamaah untuk tidak sekadar menyambut Ramadhan sebagai agenda tahunan, melainkan sebagai ruang pembaruan diri dan tajdid hati.

Ramadhan, menurutnya, bukan sekadar perubahan jadwal makan dan minum. Ia adalah latihan kejujuran terdalam. Sebab dalam puasa, manusia diuji bukan di hadapan publik, melainkan dalam kesendirian.
“Ketika seseorang sendirian di rumah, lapar dan haus, sementara makanan tersedia dan tidak ada yang melihat, namun ia tetap menahan diri, di situlah iman bekerja,” tuturnya pelan namun tegas.
Ia melanjutkan bahwa madrasah integritas, didalam ruang tersembunyi, seseorang tetap jujur kepada Allah, maka sejatinya ia sedang membangun karakter yang kokoh. Integritas tidak lahir dari pengawasan manusia, tetapi dari kesadaran ilahiah.
Di sinilah Ramadhan menjadi penting dalam membentuk peradaban. Sebab krisis terbesar umat bukan sekadar krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis hati.
Hati yang lalai melahirkan penyimpangan. Hati yang hidup oleh iman melahirkan amanah, Dr. Choirin mengingatkan, sejak awal berdirinya Muhammadiyah, yang digagas oleh KH Ahmad Dahlan, Islam dipahami sebagai agama yang membumi dan memerdekakan. Spirit Al-Ma’un bukan hanya tafsir tekstual, tetapi panggilan aksi.
“Rasulullah adalah pribadi yang paling dermawan, dan di bulan Ramadhan beliau lebih dermawan lagi. Maka puasa tidak boleh berhenti pada lapar dan dahaga. Ia harus melahirkan empati dan kepedulian,” ungkapnya.
Dalam refleksi itu, Ramadhan menjadi momentum menghidupkan kembali jiwa Al-Ma’un yang menyapa fakir miskin, memberdayakan yang lemah, dan menghadirkan kemanfaatan. Amal usaha Muhammadiyah yang tersebar di berbagai bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial adalah buah dari iman yang bergerak, bukan iman yang diam.
Ia juga mengajak jamaah merenungi makna kepemilikan. Manusia sering merasa memiliki, padahal semua hanyalah titipan. Yang akan menyertai hingga akhir bukanlah apa yang ditumpuk, melainkan apa yang diinfakkan.
“Yang benar-benar menjadi milik kita adalah yang kita berikan di jalan Allah. Selebihnya akan kita tinggalkan,” katanya, mengajak hadirin menunduk dalam perenungan.
Menjelang akhir tausyiah, Dr. Choirin menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an. Ramadhan adalah bulan wahyu. Tarawih dan tilawah bukan sekadar tradisi, tetapi jalan untuk membersihkan hati dan membangun kesadaran profetik.
Jika hati tertata, iman menguat, dan kepedulian sosial tumbuh, maka Ramadhan akan melahirkan insan muttaqin. Dari insan-insan muttaqin inilah lahir masyarakat Islam berkemajuan dan masyarakat yang tercerahkan, berdaya, dan menghadirkan rahmat bagi semesta.
Tabligh Akbar itu pun berakhir, namun pesannya tinggal dalam kesadaran. Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan momentum kebangkitan hati. Dan dari hati yang hidup, lahir gerakan yang mencerahkan. (Guswir)

