METRO-Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Hadimulyo Metro, Sukarman, S.Pd., menegaskan bahwa penguatan literasi sejak dini adalah strategi fundamental dalam membangun sumber daya manusia yang berkarakter dan berdaya saing.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Pelatihan Jurnalistik Reporter Cilik (REPCIL) di Meeting Room MIM Hadimulyo, Sabtu (17/1/2026). Kegiatan ini menghadirkan Jurnalis Muhammadiyah sekaligus Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PCM Hadimulyo, Agus Wirdono, S.A.P., M.Si., sebagai narasumber utama.
Didampingi Koordinator Literasi MIM Hadimulyo, Sin Hadiyah, M.Pd.I., Sukarman menjelaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi adalah kompetensi multidimensi yang mencakup pembentukan karakter, berpikir kritis, literasi informasi, serta etika komunikasi publik.

“Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam mengolah informasi, menyampaikan pesan secara konstruktif, serta menumbuhkan tanggung jawab dalam komunikasi publik,” ujarnya.
Experiential Learning dan Kaderisasi Pelatihan ini menggunakan metode experiential learning yang mengombinasikan pemaparan konsep, simulasi konferensi pers, dan praktik lapangan sederhana. Menurut Sukarman, REPCIL adalah bagian dari kaderisasi intelektual berkelanjutan di lingkungan Muhammadiyah.
“Investasi literasi di jenjang dasar adalah prasyarat utama menyiapkan generasi yang adaptif,” tambahnya.
Menjawab antusiasme para peserta, Sukarman menjelaskan bahwa program REPCIL yang telah berjalan konsisten sejak 2017 ini memproyeksikan siswa terpilih sebagai duta literasi dan agen penyebar nilai Islam Berkemajuan. Siswa dibina secara berjenjang melalui pelatihan rutin, wawancara internal, hingga peliputan tokoh publik.
“Membaca adalah fondasi penguasaan ilmu, sementara menulis merupakan mekanisme keberlanjutan ilmu agar memberi dampak lintas generasi,” pungkas Sukarman.
Sinergi Dakwah Pencerahan Senada dengan Sukarman, Agus Wirdono menekankan bahwa program ‘MPI Mengajar’ adalah intervensi edukatif agar literasi terimplementasi nyata, bukan sekadar wacana. Jurnalis senior yang berkiprah sejak 2005 ini menekankan pentingnya etika jurnalistik dan keberanian menyampaikan kebenaran sebagai bagian dari dakwah pencerahan.
“Keterlibatan MPI PCM Hadimulyo ini adalah bentuk sinergi untuk melahirkan generasi yang literat, kritis, komunikatif, dan berorientasi pada kemaslahatan publik,” tutup Agus. (Guswir)

